Universitas Budi Luhur Gelar Wisuda Offline

Terapkan Prokes Ketat, Ini Pilihan yang Ditawarkan Sebelum Wisuda

Suasana sidang Offline Universitas Budi Luhur yang digelar dengan menerapkan protokol kesehatan ketat, Rabu 23 Juni 2021.

Jakarta, Akuratnews.com - Universitas Budi Luhur melanjutkan wisuda online yang telah dilakukan pada 17 Juni 2021 yang lalu. Sidang yang dilakukan offline menjadi sidang wisuda yang masuk dalam paket wisuda di tahun 2021 ini atau di masa pandemi. Dengan melakukan sidang offline, tentu ada hal-hal yang perlu diterapkan terkait dengan Protokol Kesehatan (prokes) yang telah ditetapkan pemerintah.

"Universitas Budi Luhur menyelenggarakan wisuda tatap muka yang sebenarnya satu paket dengan wisuda daring yang dilakukan pada tanggal 17 Juni dengan wisuda online dengan peserta sekitar 189 mahasiswa. Kemudian hari ini (Rabu) dan besok, dua hari, kita menyelenggarakan wisuda luring atau tatap muka dengan jumlah peserta 466," terang Rektor Universitas Budi Luhur, Dr.Ir. Wendi Usino, M.Sc, ditemui di sela-sela wisuda di Kampus Budi Luhur, Rabu 23 Juni 2021.

Untuk pelaksanaan terkait dengan pandemi pada saat kondisi Jakarta meningkat lagi, pihaknya berusaha untuk tetap menerapkan prokes Covid-19 seketat mungkin. Sehingga menjaga jarak, menggunakan masker dan cuci tangan, step-step diterapkan.

"Mudah-mudahan dengan semua hal yang dilakukan penyebaran Covid dapat kita jaga tidak sampai melonjak. Hal ini memang menjadi pertimbangan adalah, kita sudah merancang jauh-jauh hari untuk wisuda ini, tiba-tiba melonjak. Kegiatan wisuda tidak dilarang, asal menerapkan prokes. Oleh karena itu kita, Insya Allah dengan menerapkan proses tidak akan melanggar karena batasannya adalah 50%. Kapasitas auditorium yang 800 itu hanya kita isi 100 orang, jadi di bawah 20%. Jika kantor 25%, kita masih dibawah 20% untuk kegiatan itu," terangnya.

Kegiatan wisuda dilakukan selama tiga hari, yang mana tatap muka dibagi dua. Setiap satu set, hanya sekitar 50 peserta. Sehingga UBL bisa menjaga tidak terjadi penumpukan.

"Yang datang tetap bergilir. Misalkan diwisuda pukul satu (siang) mereka datang jam 12. Foto-foto lalu pulang. Jadi tidak ada yang berkerumun," katanya.

Terkait dengan wisuda yang dilakukan dalam dua moment, Wendi menjelaskan, karena Budi Luhur itu lebih mengutamakan kepuasan mahasiswa., UBL memberikan penawaran kepada mahasiswa untuk cara yang diambil saat wisuda.

"Kita tawarkan. Yang mau offline silakan, yang mau online silakan. Karena yang online itu biasanya orang tuanya tidak bersedia datang tapi yang berani kenyataannya 2/3 itu mayoritas mahasiswa dengan orang tua memilih offline. Jadi ada kesannya, ada bekasnya. Bisa foto bareng, asal dipindahkan kuncir-kuncirnya (toga) oleh Rektor. Kalau online melainkan orang tuanya, atau pasangannya. Lucunya lagi mereka pindahkan sendiri kuncinya, karena temennya nggak ada," ungkapnya.

Terkait dengan penerimaan mahasiswa baru, ada upaya yang luar biasa yang dilakukan UBL untuk promosi. Di mana pada saat pandemi ini memang pihak kampus harus akui, bahwa ada penurunan.

"Pertama adalah kaitannya dengan banyaknya orang tua mahasiswa atau mahasiswa sendiri yang dirumahkan, kondisi ekonomi kita belum baik sehingga sampai sekarang pun kalau kita pantau, kita masih baru sekitar 50% yang (mendaftar-red) dari tahun lalu. Tetapi mudah-mudahan, biasanya mahasiswa baru ramai daftar setelah mendapat pengumuman dari PTN, setelah itu akan naik. Tetapi kita tidak akan berharap seperti tahun-tahun yang lalu sebelum pandemi, tetapi memang upaya untuk promosi itu problemnya tidak bisa dilakukan offline," pungkasnya.

Pada wisuda yang digelar secara offline ini hadir memberi orasi ilmiah kepada lulusan Universitas Budi Luhur, yaitu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Jurnalis Senior Najwa Shihab.

Penulis:

Baca Juga