Terdakwa Kasus Salah Transfer Bank BCA Citraland Mengaku Bersalah

Suasana Sidang Kasus Salah Transfer Bank BCA

Surabaya, Akuratnews.com - Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, gelar sidang salah transfer dari Bank Central Asia (BCA) Citraland Surabaya sebesar Rp 51 juta, dengan terdakwa, Ardi Pratama, Selasa (16/3/21).

Dalam sidang dengan agenda mendengar keterangan saksi, Yakni Bani Andri Rustanto, rekan bisnis terdakwa dalam jual beli mobil dan Halimah, ibu kandung Ardi itu, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa.

Dalam keterangannya, saksi Bani Andri Rustanto menjelaskan telah beberapa kali melalukan kerjasama jual beli mobil mewah dengan terdakwa dan sistem pembagian hasilnya tidak pernah ditransfer melainkan tunai.

Saksi Bani juga membeberkan, bahwa ia memberikan komisi terakhir pada bulan Maret 2020, sebesar Rp 5 juta atas penjualan mobil merk Toyota Alphard .

Dari sinilah baru diketahui jika terdakwa sudah tidak pernah lagi menerima komisi dari pihak manapun, namun terdakwa tetap bersikukuh jika uang salah transfer itu merupakan uang komisi dari penjualan mobil.

Usai mendengar keterangan para saksi, hakim Johanes Hehamony meminta jaksa penuntut umum (JPU), Gede Willy Pramana membeberkan aliran dana salah transfer yang masuk dalam rekening terdakwa.

Menilai adanya kontradiksi keterangan antara dua saksi Bani Andri Rustanto dan Halimah, hakim Johanes Hehamony, bertanya pada terdakwa, apakah ia merasa uang yang masuk dalam rekeningnya sebagai komisi.

"Saudara tetap merasa ini yang komisi ya? Saudara boleh mempertahankan pendapat saudara, tapi unsur pidana ini adalah soal tempus. Uang dalam rekening habis dalam sehari," kata hakim Johanes Hehamony saat sidang di ruang sidang Candra, PN Surabaya

Menjawab pertanyaan tersebut, Ardi Pratama pun mengaku bersalah dan meminta maaf. Ia juga masih sanggup untuk membayar dana salah transfer itu dengan cara mengangsur.

"Iya saya memang bersalah, dan saya akan membayar dana salah transfer yang terpakai," aku warga Jalan Manukan Lor Gang I Surabaya ini.

Usai persidangan, Jaksa I Gede Willy Pramana mengatakan, pengakuan bersalah terdakwa Ardi Pratama saat didengarkan keterangan semakin menguatkan surat dakwaannya terkait unsur Pasal 85 UU No 3/2011 tentang transfer dana telah terbukti.

"Dalam teorinya disebut delik pro parte dolus pro parte colpus, tidak perlu terdakwa mengetahui secara keseluruhan, cukup terdakwa dapat menduga uang itu bukan merupakan hak dari terdakwa maka unsur tersebut telah terpenuhi, terlebih lagi jika terdakwa mengetahui dan menghendaki, maka terpenuhi opzet tindak pidananya," kata Willy

Sementara itu, Hendrik Kurniawan selaku penasehat hukum terdakwa Ardi Pratama meyakini kliennya tidak bersalah.

"Dimana salahnya, apakah orang yang mengambil uang dari rekeningnya sendiri dapat disalahkan," tandas Hendrik.

Untuk diketahui, persidangan kasus salah transfer ini akan kembali dilanjutkan pada Kamis (18/3) dengan agenda pembacaan surat tuntutan dari jaksa I Gede Willy Pramana.

Kasus ini bermula saat terdakwa Adi Pratama mendapatkan transfer masuk uang sebesar Rp 51 juta ke rekeningnya pada Maret 2020. Adi menyangka uang itu adalah hasil komisinya sebagai makelar mobil mewah.

10 hari berselang, rumah Adi di Manukan, Surabaya didatangai oleh dua orang pegawai BCA Catur Ida dan Nur Chuzaimah. Mereka mengatakan bahwa uang senilai Rp 51 juta itu telah salah transfer dan masuk ke rekening Adi.

Sayangnya uang itu terlanjur terpakai Adi. Seorang pegawai BCA, Nur Chuzaimah kemudian melaporkan Adi Pratama pada Agustus 2020.

Lalu pada November 2020, Adi Pratama ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dengan tuduhan Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2011.

Penulis:

Baca Juga