Terlibat Bentrok, HMI Nilai Kepolisian Ciptakan Proxy War

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Muhammad Najib
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Muhammad Najib

Medan, Akuratnews.com - Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Syari'ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Muhammad Najib menilai, polisi dan media bayaran pro rezim semakin gila dan tidak waras karena sudah membuat skema proxy war dan perang asimetris terhadap mahasiswa.

Hal ini terlihat saat aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh organisasi mahasiswa di Kota Medan, Kamis (20/9/2018). Pasalnya, aksi tersebut berujung ricuh dan melibatkan baku hantam.

"Hingga akhirnya polisi memukuli mahasiswa didepan gedung DPRD Sumut, hingga mengejar sampai ke kantor Kodim BB 0102 tempat persembunyian mahasiswa dari kejaran polisi," ujar Najib saat dihubungi Akuratnews.com, Jumat (21/9/2018).

Menurutnya, ada pola perang asimetris seperti penggiringan isu pada kasus demo mahasiswa yang dilakukan oleh media-media bayaran pro rezim. Ia mencium ada upaya mendiskreditkan mahasiswa melalui judul berita yang dimuat beberapa media pro rezim tersebut.

"Saya pernah membaca buku Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya baru, bahwa perang asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara nonmiliter. Namun, daya hancurnya tidak kalah, atau bahkan dampaknya lebih dahsyat daripada perang militer," kata dia.

"Ia memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan, yaitu geografis, demografis, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan," sambungnya.

Lebih lanjut, Najib menjelaskan bagaimana cara mengetahui apakah itu perang asimetris atau bukan. "Jika dilihat dari polanya, ada tiga tahapan dalam perang asimetris," tukasnya.

Pertama, menebar sebuah isu. Setelah berhasil, ditingkatkan menjadi sebuah tema atau agenda. Jika berhasil lagi, barulah skema yang sebetulnya keluar.

"Contohnya, ditebarlah sebuah isu yang mengatakan harga cabai meroket. Isu itu ditebar untuk mengecek reaksi masyarakat terlebih dahulu. Begitu masyarakat resah, ditingkatkan ke tema atau agenda," tuturnya.

"Yah gimana dong, kalau gini kita harus impor, gitu kan. Ujung-ujungnya kelihatan tujuannya itu mengimpor. Barulah perusahaan asing masuk, menjajah ekonomi kita di bidang pertanian. Nah, itu contohnya," ulasnya.

Najib mengungkapkan, pada kasus aksi unjuk rasa damai mahasiswa ini, maunya memang menuju ke sana. Dalam artian, penggiringan isu, bahwa mahasiswa ini punya niat yang tidak bagus, ingin makar, ingin membangun kebencian, atau intinya yang anti pemerintah itu adalah mahasiswa.

"Cuma, kita lihat saja kedepannya nanti pemerintahan dan media-media pro rezim ini dengan cara tipu muslihat, bagaimanapun masyarakat sudah cerdas tak dapat ditipu-tipu lagi," tegasnya.

"Lihatlah cara-cara konyol dan grand issue baru nanti bakal dibuat lagi. Tapi kami mahasiswa tidak gentar, saya pastikan gerakan yang lebih besar lagi akan kami persiapkan demi menumbangkan rezim yang amburadul dan tidak pro rakyat ini," tambah dia. (Red)

Penulis:

Baca Juga