Opini

The Silent Majority: Kunci Kemenangan Jokowi 2019

Opini, Akuratnews.com - Kunci pemberitaan media ada pada massa yang aktif. Militansi, perilaku, keunikan massa yang aktif, yang hadir dalam pawai akbar, yang membuat kegiatan, cepat menarik perhatian.

Tapi kunci kemenangan dalam pemilu bukan pada massa yang aktif. Kunci kemenangan itu sebaliknya berada pada massa yang diam, tersembunyi, jauh dari pemberitaan publik. Jumlah mereka berkali- kali lipat lebih banyak.

Memahami efek elektoral massa yang aktif dan massa yang pasif itu pengetahuan elementer untuk mengerti perilaku pemilih dalam hubungannya dengan kemenangan pemilu.

Pengetahuan ini seringkali absen dimiliki oleh publik luas. Bukan hanya media, opini umum yang acapkali terkecoh, namun juga team sukses masing masing calon.

Kunci kemenangan Jokowi dalam aneka survei banyakl lembaga kredibel yang dipublikasi pada awal April 2019 persis terletak pada the Silent Majority. Karena itu jangan membanding-bandingkan massa yang aktif yang datang dalam kampanye akbar jika ingin memprediksi menang dan kalah.

Tapi siapakah the silent majority dalam pemilh Indonesia pada Pilpres 2019? Mereka ada dimana? Mengapa mereka diam?

Pengertian the silent majority untuk kasus Indonesia dan Jokowi saat itu berbeda dari asal usul istilah itu.

Istilah the silent majority sama tuanya dengan usia pemilu era modern. Ia digunakan dengan pengertian yang tak sama dalam periode yang berbeda. Istilah itu sudah ditemukan sejak abad 19. Ia kembali dipopulerkan oleh Warren G Harding pada pemilu presiden Amerika Serikat tahun 1920.

Tapi Richard Nixon yang membuat istilah the silent majority populer. Pada tanggal 3 November 1969, Richard Nixon berpidato sebagai presiden Amerika Serikat yang baru terpilih. Itu pidato yang luas disiarkan televisi, dan dianggap momen penting menentukan arah politik Amerika Serikat.

Ujar Nixon, malam ini, mayoritas rakyat yang diam, kepadamulah saya berharap dukungan. Ialah mayoritas rakyat yang diam, tidak aktif dalam demontrasi perang vietnam. Ialah mayoritas rakyat yang diam, tidak aktif dalam gerakan counter culture. Ialah mayoritas rakyat yang diam, yang tersembunyi dan tidak menjadi pemberitaan media.

Selama ini anda semua seolah diabaikan. Selama ini anda semua dikalahkan oleh massa yang aktif yang jumlahnya sebenarnya hanya minoritas saja. Tapi Andalah yang lebih menentukan masa depan Amerika.

Pada tahun 1968, Nixon bertarung melawan pertahana dari partai demokrat, wakil presiden Hubert Humprey. Walau Nixon menang, namun masa awal pemerintahannya diganggu oleh banyaknya demonstrasi politik.

Para ahli strategi politik dan penulis pidato Nixon perlu mencari isu menarik perhatian pemilih Amerika Serikat. Sekedar melawan para aktivis anti perang Vietnam, itu tak akan populer. Alihkan saya aksen kekuatan rakyat, bukan pada segelintir aktivis yang sangat minoritas, tapi mayoritas rakyat Amerika yang diam.

Setelah pidato malam ini, aneka polling mencatat melonjaknya approval rating Presiden Nixon.

Pengertian the silent majority saat itu adalah the forgotten Americans: rakyat banyak amerika yang dilupakan. Ialah rakyat Amerika yang tidak dipuaskan oleh situasi politik. Nixon merasa ia mewarisi ketidak puasan itu dari para pendahulunya. Bukan ia yang menciptakan ketidak puasan. Ia hanya terkena getahnya.

Presiden Nixon datang pada mereka dengan sugesti yang kuat. Ayo kini saatnya anda bersama saya, kita nyatakan sikap. Kita ubah Amerika!

Setelah penggunaan the silent majority versi Nixon, istilah itu mendunia. Namun pengertian the silent majority juga berbeda.

Di Italia tahun 1971 istilah the silent majority digunakan secara khusus sebagai gerakan anti komunisme. Di Inggris tahun 2014, istilah itu digunakan Perdana Menteri Cameron untuk melawan referendum yang menginginkan skotlandia lepas merdeka.

Di Indonesia dalam pemilu 2019, istilah the silent majority, berbeda pula. Istilah itu lebih tepat untuk menggambarkan pemilih yang diam, YANG TIDAK BEROPINI, tersembunyi, sangat jarang diberitakan, yang jumlahnya justru mayoritas.

Kemenangan Jokowi dalam segmen the silent majority terekam dalam aneka survei lembaga kredibel. Namun kehadiran dan maha pentingnya the silent majority ini luput dari perhatian mereka yang awam.

Siapakah the silent majority dalam Pilpres 2019? Mereka umumnya wong cilik yang tinggal di desa, atau kota yang belum terlalu berkembang. Mayoritas mereka tak suka berita politik. Mayaritas mereka juga tak berekspresi dalam discourse di ruang publik.

Pendidikan mereka umumnya hanya SMP atau SD. Penghasilan mereka sebulan kurang dari dua juta rupiah sebulan.

Mereka tidak aktif bermain media sosial. Akun facebook, instagram apalagi twitter tidak menggapai mereka. Jika menonton TV, bukan TV berita yang mereka lihat. Mereka lebih memilih acara hiburan: sinetron atau dangdut, atau komedi.

Mereka tak pernah ikut aneka pawai akbar kampanye. Bahkan tidak pula mereka peduli.

Namun jumlah mereka sekitar 50 persen dari populasi. Berdasarkan survei LSI Denny JA, juga survei lembaga lain, kemenangan Jokowi pada segmen ini sangat telak.

Mengapa Jokowi menang dalam segmen the silent majority itu? Umumnya mereka puas dengan kondisi ekonomi. Umumnya mereka suka aneka program Jokowi: Kartu Indonesia sehat, Indonesia pintar, program keluarga harapan, pembagian sertifikat tanah gratis.

Sangat sulit mengubah dukungan mereka pada Jokowi, kecuali merosotnya kondisi ekonomi, fitnah atas jokowi yang massif. Atau mereka tak terjangkau dan menjadi golput.

Melihat ramainya massa yang berkumpul dalam kampanye akbar Prabowo di GBK Jakarta, 7 April 2019, sungguh mengasyikan. Tapi akan keliru jika menganggap massa yang aktif itu perwakilan representatif dari pemilih Indonesia.

Yang datang pada kampanye Prabowo-Sandi dimana-mana, yang juga yang datang pada kampanye Jokowi-ma’ruf dimana mana, mereka adalah massa yang aktif. Jumlah mereka sangat minoritas belaka.

Yang sangat jarang diberitakan justru puluhan juta the silent majority yang diam, tersembunyi, tapi Wow! betapa hebat pengaruhnya menentukan kemenangan.

Itulah asyiknya pemilu. Ramai dalam pawai adalah sesuatu. Menang dalam pemilu itu hal lain lagi.

Penulis: Denny JA

Baca Juga