Tidak Puas Dengan Putusan Sela, Oditur Militer Kembali Ajukan Dakwaan

Surabaya, Akuratnews.com - Setelah dakwaannya ditolak dalam putusan sela pada bulan April lalu, Oditur Militer Letkol Chk Agung Catur Utomo kembali mengantarkan Pembantu Letnan Satu (Peltu) M Fauzi ke kursi terdakwa.

Seakan tidak puas dengan keputusan majelis hakim yang diketuai Letkol CHK (K) Farma Nihayatula, S.H, yang telah memutuskan menolak dakwaan oditur militer dalam perkara nomor 32 K/PM.III-12/AD/III tersebut. Oditur Militer Letkol Chk Agung Catur Utomo kembali mengajukan Dakwaan terhadap Peltu M. Fauzi.

Dalam persidangan yang kembali dilakukan di Pengadilan Militer III-12 Surabaya, oditur Militer Letkol Chk Agung Catur Utomo membacakan tanggapannya dari eksepsi penasihat hukum terdakwa.

“Materi keberatan sama persis dengan eksepsi penasihat hukum terdakwa yang pertama. Dan sudah kami tanggapi di dalam tanggapan eksepsi kami pada 19 april 2021,” kata Letkol Chk Agung Catur Utomo, Kamis (10/6).

Karena itu, permohonan tim penasihat hukum terdakwa harus di tolak. Dan Oditur itu memohon kepada majelis hakim untuk melanjutkan perkara yang menimpa Peltu M Fauzi.

Baca Juga : MAJELIS HAKIM TOLAK DAKWAAN ODITUR MILITER TERHADAP PELTU FAUZI

Namun, salah satu penasihat hukum terdakwa Antonius Youngky Adrianto menyebut, keputusan majelis hakim untuk menolak dakwaan oditur, sudah sangat tepat.

Sebab, putusan sela sebelumnya terbukti bahwa oditur Militer tidak mampu menyusun dakwaan secara cermat, lengkap dan teliti.

“Dalam putusan sela perkara nomor 32-K/PM.III-12/AD/III yang dilakukan pada 26 April lalu, majelis hakim yang memeriksa perkara tersebut telah menjatuhkan putusan sela. Hakim menolak surat dakwaan oditur militer,” kata Youngky saat dihubungi, Sabtu (12/6/21).

Penolakan itu terjadi karena majelis hakim menilai oditur militer telah melanggar ketentuan pasal 130 ayat 2, Undang-undang (UU) 31/1997. Tentang peradilan militer. “Fakta persidangan sudah jelas dibacakan,” tambahnya.

Ketidak telitiannya oditur ini terkait surat berkas pelimpahan perkara ke pengadilan militer atas nama Koptu Rum Dadang Sumarsono, NRP 89999. “Di dalam surat itu, tidak ada di tulis nama prinsipal (M. Fauzi) kami,” ungkapnya.

Youngky juga menganggap pokok perkara salah yang diajukan salah. Karena, obyek sengketa tanah yang diperkarakan terletak di wilayah Dukuh Kupang. Padahal faktanya, obyek tanah yang dimiliki Peltu M Fauzi berada di Gunung Anyar Tambak.

“Karena itu, obyek sengketa dalam perkara ini dinilai error in obecto. Selain itu, dalam tanggapan oditur militer tadi, mereka tidak menyangkal berkas pelimpahan a quo atas nama Koptu Rum Dadang bukan atas nama prinsipal kami,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu pihak pelapor saat ingin dikonfirmasi terkait kasus tersebut, tidak mau berkomentar. “Gak perlu,” singkatnya sambil berjalan cepat keluar ruang persidangan.

Perlu diketahui, terdakwa Peltu M Fauzi ini merupakan anggota aktif TNI. Ia bertugas di kesatuan dinas Kodim 0830 Surabaya Utara. Oleh oditur Militer, Kolonel Laut Ediyanto Kesumo, ia didakwa dengan pasal 266 ayat (1) atau 266 ayat (2) KUHP dan pasal 167 KUHP.

Peltu M. Fauzi diduga melakukan tindak pidana atas akad Surat Perjanjian Ikatan (SPI) Jual Beli nomor 203 dan Surat Kuasa Menjual nomor 204. Yang diterbitkan pada 13 Mei 2013. Surat yang dibuat dihadapan Notaris Dedi Wijaya dianggap tidak mendasar.

Penulis:

Baca Juga