Tim Kuasa Hukum Ahok Meragukan Keterangan Ketua DPD Front Pembela Islam Jakarta, Muchsin Alatas

Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) Jakarta, Muchsin Alatas

Jakarta, Akuratnews.com - Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) Jakarta, Muchsin Alatas yang juga jadi saksi di persidangan perkara penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) disebut tidak bisa membuktikan adanya pesan singkat atau telepon dari warga Kepulauan Seribu yang dikatakannya telah menyebut kalau Ahok telah melakukan dugaan penistaan agama dalam pidatonya disana.

Untuk dari itu, tim penasihat hukum terdakwa Ahok melaporkan Muchsin ke Polda Metro Jaya, Senin 23 Januari 2017 malam. Pasalnya, Muchsin diduga telah memberikan kesaksian palsu dalam persidangan.

"Katanya SMS-nya sudah dihapus, nomor teleponnya tidak dicatat. Apa benar dari Pulau Seribu? Dia bilang juga tidak kenal, tidak bisa membuktikan bahwa orang-orang itu dari Pulau Seribu," tutur pengacara Ahok, Wayan Sudirta di Gedung Kementerian Pertanian (Kementan), Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa 24 Januari 2017.

Pihaknya juga mempermasalahkan keterangan Muchsin di persidangan yang menyebut kalau dirinya mewakili 39 organisasi masyarakat dalam melaporkan Ahok. Dalam hal itu Muchsin, kata Wayan juga tidak bisa membuktikan hal tersebut.

"Dia juga bilang katanya mewakili 39 ormas, ketika ditanya, kita tanya datanya, dia tidak bisa buktikan," ucapnya.

Karena itu, Wayan menyebut bahwa Muchsin sudah melanggar hukum karena memberikan keterangan palsu, padahal Muchsin sudah disumpah sebelum bersaksi.

"Bagaimana kita bisa saksi-saksi seperti ini dibiarkan terus menerus. Terutama hak-hak dari Pas Basuki ini karena ada peradilan ini hak untuk kampanyenya hilang. Itu kan pelanggaran hak asasi," tutur dia.

Sebelumnya diberitakan, tim penasihat hukum terdakwa Ahok melaporkan Ketua DPD FPI Jakarta, Muchsin Alatas ke Polda Metro Jaya. Muchsin dilaporkan terkait dugaan tindak pidana pencemaran nama baik dan memberikan keetrangan palsu di persidangan.

"Beliau (Muchsin) mengatakan ketika klien kami Pak Ahok melakukan pidato pada 27 September, dia dapat ribuan telepon dan pesan singkat yang menyatakan bahwa telah terjadi penistaan agama atas pidatonya Pak Ahok," kata salah seorang pengacara Ahok, Rolas Sitinjak, Senin 23 Januari 2017 malam. (Fajar)

Penulis:

Baca Juga