oleh

Timur Tengah yang Terus Bergejolak

Opini, Akuratnews.com – Tahun 2018 menjadi tahun yang sangat berat bagi negara-negara di kawasan Timur-Tengah. Alih-alih mendatangkan harapan yang menggembirakan, Timur-Tengah tak pernah sepi dari gejolak politik, bahkan perang yang tidak tahu kapan akan berakhir.

Isu Israel-Palestina masih menjadi agenda utama yang tidak jelas arahnya. Masa depan Palestina berada di ujung tanduk setelah Presiden Donald Trump menggunakan kekuasaannya sebagai orang nomor wahid di Amerika Serikat untuk memindahkan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Jerusalem.

Aksi demonstrasi yang menggema di berbagai belahan dunia tidak mampu meredam ambisi Trump. Bahkan voting di Perserikatan Bangsa-Bangsa pun tidak bertaji. Trump bersikukuh memindahkan Kantor Kedutaan Besarnya ke Jerusalem.

Sikap Trump tersebut merupakan perkembangan yang menjadikan isu Israel-Palestina semakin tidak menentu. Trump terbukti berpihak pada kepentingan Israel daripada Palestina.

AS yang selama ini mengendalikan proposal perdamaian, akhirnya menutup rapat-rapat segala upaya mewujudkan perdamaian. Solusi dua negara seakan-seakan hanya menjadi isapan jempol belaka.

Celakanya, sikap Trump ini rupanya ditengarai mendapat sokongan dari beberapa negara Teluk, seperti Arab Saudi, Unite Emerat Arab, Bahrain, dan Oman. Secara diam-diam, beberapa pejabat Israel melakukan komunikasi dengan elite beberapa negara Teluk.

Pemandangan tersebut semakin menyulitkan Palestina untuk mewujudkan mimpinya meraih kemerdekaan. Tanpa dukungan negara-negara Teluk dan kawasan Timur-Tengah lainnya, masa depan Palestina yang merdeka dan berdaulat hanya akan menjadi mimpi buruk bagi Palestina.

Terdengar kabar, Arab Saudi akan menjadi mediator dengan menawarkan solusi bagi Palestina. Tapi, sekali lagi solusi tersebut sangat tidak menguntungkan Palestina, karena Jerusalem sudah sepenuhnya dicaplok oleh Israel. 

Selain itu, konflik dan perang di Yaman masih menjadi isu sentral yang juga tidak kalah buruknya. Apa yang terjadi di Yaman ini tidak hanya sekadar konflik politik biasa antara Kubu Houthi dan Kubu Abdul Hadi Rabbu, melainkan sudah masuk perang proksi antara Arab Saudi dan Iran. Apalagi AS dan beberapa negara Eropa lainnya turut serta dalam konflik tersebut.

Yaman menjadi negara gagal, karena pemerintahannya lumpuh. Rudal mematikan saban hari jatuh dan menelan korban yang sangat besar. Ironisnya, dunia bertahun-tahun diam tak bersuara seolah-olah mengamini tindakan biadab Arab Saudi yang menjatuhkan rudal-rudal di beberapa kawasan di Yaman. 

Dunia tersentak setelah melihat foto bocah, Amal, yang badannya ringkih, kelaparan dampak dari perang dan konflik yang berkepanjangan itu. Dunia hanya bungkam, tidak ada langkah-langkah serius untuk menghentikan tragedi kemanusiaan yang sangat menyayat-nyayat hati itu.

Senat AS baru saja mengambil langkah untuk menarik dukungan terhadap Arab Saudi dalam perang di Yaman setelah terkuaknya kasus kematian jurnalis senior, Jamal Khashoggi.

Langkah Senat AS tersebut dapat menjadi oase dan babak baru bagi penyelesaian konflik di Yaman, yang nantinya akan disertai oleh beberapa negara Eropa lainnya. Tanpa dukungan AS dan negara-negara Eropa, Arab Saudi akan berhitung serius untuk melanjutkan perang melawan Houthi.

Namun, masalahnya tidak mudah untuk menata kembali stabilitas politik di Yaman. Diperlukan jiwa besar dan hati yang jernih dari masing-masing faksi untuk mencari titik-temu dan kemufakatan perihal masa depan Yaman.

Masalah Yaman dari dulu karena mereka tidak mampu menentukan kedaulatan politik dalam negerinya. Mereka mudah jatuh pada kepentingan negara-negara tetangganya. 

Pilihan demokrasi memang tidak mudah. Yaman harus rela dipimpin oleh faksi Houthi sebagai kelompok mayoritas yang solid. Tetapi, di atas demokrasi sebenarnya perlu kemufakatan perihal prinsip-prinsip yang harus dipedomani sebagai ikatan kebangsaan, serta jalan menuju pembagian kekuasaan yang disepakati secara bersama-sama.

Konflik Suriah juga masih menjadi agenda yang tidak mudah. Saat ini sebagian besar wilayah sudah dikuasai oleh Bashar al-Assad. Tapi, masih ada sebagian kecil yang dikuasai ISIS dan oposisi yang setiap saat dapat mengancam keamanan. Apalagi intervensi negara-negara adidaya semakin mempersulit penyelesaian krisis politik di Suriah.

Rencana AS menarik militer dari Suriah akan menjadi kabar baik bagi stabilitas politik, karena Bashar al-Assad dapat memulihkan dan mengendalikan keamanan, sehingga kehidupan dapat berjalan normal di Suriah. 

Sudan menjadi negara yang belakangan juga menghadapi musim semi. Omar al-Bashir yang sudah berkuasa sekitar 29 tahun menghadapi protes besar-besaran dari warganya. Unjuk rasa meminta al-Bashir untuk meletakkan jabatannya karena dianggap gagal memimpin Sudan.

Apa yang terjadi di Sudan dapat menggambarkan rezim-rezim di Timur-Tengah yang dianggap gagal merespons perubahan-perubahan besar pada kaum muda. Mereka menghendaki demokrasi, hak asasi manusia, keadilan, dan kesetaraan. Tapi, rezim-rezim di Timur-Tengah tidak mampu menerjemahkan aspirasi kaum muda tersebut.

Maka dari itu, apa yang terjadi di Arab Saudi perihal sikap represif rezim terhadap mereka yang kritis, khususnya kematian Jamal Khashoggi menjadi isu internasional yang paling banyak mendapatkan perhatian. Arab Saudi akan menghadapi desakan dari dunia agar membuka ruang kebebasan berpendapat. Lebih-lebih soal dugaan keterlibatan Muhammad bin Salman dalam kematian Khashoggi akan menjadi isu sentral pada hari-hari mendatang.

Kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia di Mesir juga menjadi sorotan dunia. Mesir dianggap mengalami kemunduran, karena demokrasi berada di bawah ancaman senapan militer. Belum lagi krisis ekonomi menjadi masalah yang tidak mudah dihadapi oleh Mesir saat ini.

Dengan demikian, secara umum Timur-Tengah pada tahun-tahun mendatang akan menghadapi gejolak, bahkan goncangan yang tidak mudah diatasi. Negara-negara Timur-Tengah membutuhkan kedaulatan politik dan kemerdekaan dari intervensi dari negara-negara adidaya. Demokrasi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia dapat menjadi solusi ampuh untuk mewujudkan mimpi kaum mudanya.

Zuhairi Misrawi
Intelektual muda Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta.

Komentar

News Feed