Tolak Bersepakat, Kuasa Hukum Arwan Beberkan Kesalahan S.O.P Indotruck

Salah satu kejanggalan yang dibeberkan pihak Arwan Koty adalah yang tertera pada surat jalan Unit dimana ada dua nama berbeda tapi dengan tandatangan yang sama. (Foto dok. Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Sidang putusan perkara sengketa antara Arwan Koty melawan PT. Indotruck Utama yang digelar di gedung Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Jakarta, menemui jalan buntu. Ketua majelis Sidang BPSK, Joko Kundaryo menjelaskan, pada sidang terakhir, pihak Konsumen (Arwan Koty) menolak untuk memverifikasi excavator secara langsung ke Nabire dengan dibiayai oleh pelaku usaha (PT. Indotruck Utama).

Menurut Joko, kedua pihak bersengketa tidak mencapai kesepakatan. Sidang pun ditutup dengan tidak membuahkan hasil bagi para pihak.

"Kita tutup sidang ini dengan tidak ada kesepakatan dari para pihak. Apa yang dituntut oleh Konsumen dalam bentuk pengembalian uang tidak diterima oleh pelaku usaha, sementara saran pelaku usaha untuk sama-sama memverifikasi barangnya plus biayanya ditolak oleh konsumen," terang Joko Kundaryo seusai sidang BPSK yang digelar Kamis (18/7/2019). Dalam hal ini tidak ada putusan maupun rekomendasi dari BPSK kepada Arwan koty dan Indotruck.

Lantas apa yang membuat Keluarga Arwan Koty menolak bersepakat dengan Indotruck? Dokumen apa saja yang meragukan pihak Arwan Koty sehingga tegas menolak bersepakat dengan Indotruck untuk memverifikasi excavator di Nabire?

Kuasa Hukum Keluarga Arwan Koty, Willibradus Ardi Mau SH mengatakan, ada sejumlah kejanggalan dalam dokumen yang disertakan dalam transaksi pembelian 1 unit Excavator merek Volvo EC 210 seharga Rp. 1,265 miliar. Diantaranya dokumen Perjanjian Jual Beli (PJB), Invoice yang tak dilengkapi nomor engine, tidak adanya excavator EC210 dalam manifest Kapal dan Surat Jalan dimana ada dua nama berbeda namun dengan tandatangan yang sama.

Diketahui, dalam PJB tertera pada Pasal IV tentang Tempat Penyerahan Barang, pada Poin 4.1. disebutkan, 'Serah terima Barang tersebut adalah di Yard PT. Indotruck Utama, dengan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Barang oleh Para Pihak'. Sementara poin 4.2. menyebutkan, 'Barang akan dikirimkan dan diserahkan segera setelah Penjual menerima pembayaran dari Pembeli sesuai Pasal III'.

"Tidak ada serah terima Excavator antara pihak Indotruck dengan Arwan Koty sebagaimana dimaksud pada perjanjian jual beli." Terang Willibrodus Ardi Mau dalam pernyataan resminya kepada wartawan, Jumat (18/7/2019).

Willi menegaskan, klaim indotruck bahwa barang (excavator) telah diserahkan kepada pihak Arwan Koty melalui Forwader bernama Soleh, tanpa dilengkapi surat kuasa dari Arwan Koty adalah janggal. "Pola kerjasama antara pelaku usaha dengan forwader alias soleh sangat tidak jelas legal standingnya sehingga konsumen ragu apakah unit yang dibicarakan adalah betul unit yang mereka beli dari Indotruck." katanya.

Menurut Willi, klaim Indotruck selama persidangan yang menyatakan excavator sudah ada di Nabire juga penuh dengan kejanggalan. Siapa yang menerima barang di Nabire? Siapa yang merawat excavator hingga (alat pengukur penggunaan Hour Meter atau HM) sampai September 2018 (mencapai) 66971.
Siapa yang memerintahkan untuk merawat unit? Lalu siapa yang membiayai perawatan selama ini?

"Semua diketahui oleh Pihak PT. Indotruck Utama, karena kunci unit excavator tidak dimiliki dan tidak pernah diserahkan kepada Arwan Koty. Sesuai SJU kunci di serahkan ke forwarder dan seseorang bernama Bayu yang mengaku-ngaku sebagai perwakilan arwan koty padahal tanpa ada surat kuasa dari arwan koty selaku pembeli." terangnya.

Menurut Willi, dari penyerahan unit di yard PT. Indotruck Utama ke forwader sampai ke Nabire (Papua) tidak ada satu dokumen dari perusahaan PT. Indotruck Utama yang bisa membuktikan itu unitnya Arwan Koty.

Dalam hal ini, menurut Willi, kewajiban penyerahan unit belum di laksanakan oleh PT. Indotruck Utama, maka dengan demikian menjadi tanggung jawab PT. Indotruck Utama untuk melakukan verifikasi unit ke Nabire dan menyerahkan kepada Arwan Koty selaku pembeli.

"Tidak ada kelengkapan dokumen, sehingga bila terjadi kehilangan alat berat itu, dokumen macam apa yang dapat kami gunakan untuk membuat laporan ke polisi? Dan semua kesalahan yang terjadi saat ini adalah murni kesalahan PT. Indotruck Utama, sehingga sangat tidak adil jika Arwan Koty dipaksa menerima hal tersebut," Tegasnya.

Willi mengingatkan, bahwa Arwan Koty membeli excavator tersebut sebagai barang baru. Namun pada saat ini, barang Excavator yang ada disana, menurut Willi bukanlah barang yang dapat disebut 'barang baru' lagi.

"Alangkah bijaknya jika PT. Indotruck Utama memberikan barang yang baru dan barang yang berada sekarang di Nabire biarlah PT. Indotruck yang mengambil, mengingat ini kesalahan S.O.P yang dilakukan oleh PT. Indotruck Utama sebagaimana pernyataan Ketua Majelis BPSK. " Kata Willi.

Kejanggalan lainnya adalah adanya tandatangan seseorang bernama Asun yang tandatangannya tertera pada Surat penitipan barang di Polair, menurut Willi tandatangan itu tampak berbeda dengan tandatangan yang tertera di dalam KTP milik Asun.

"Dan tandatangan Asun juga dicurigai tidak asli dalam surat penitipan karena tandatangan itu sangat berbeda dengan Tandatangan yang ada pada KTP No. 3172052812680005 tgl 02-12-2011. Selain itu, PT. Indotruck Utama juga tidak bisa menunjukkan surat penyerahan unit di Nabire," tandas Willi.

Diketahui, Perselisihan antara pihak keluarga Arwan Koty dengan pihak PT. Indotruck Utama bermula dari transaksi antara Arwan Koty bersama anaknya yang bernama Alfin yang masing-masing telah membeli 1 unit Excavator merek Volvo kepada PT. Indotruck Utama. Transaksi jual beli antara Arwan Koty dengan PT. Indotruck Utama dilakukan untuk pembelian 1 unit Excavator Volvo EC 210D seharga Rp1,265 miliar. Sedangkan transaksi jual beli antara Alfin dengan PT. Indotruck Utama dilakukan untuk pembelian 1 Unit Crawler Excavator EC350D seharga Rp2,960 miliar.

Kedua Transaksi itu terjadi pada tahun 2017. Saat itu, baik Arwan maupun Alfin telah membayar pelunasan pembelian Excavator sesuai dengan harga yang diberikan oleh PT. Indotruck Utama, termasuk membayar biaya pengiriman kedua alat berat itu ke Nabire-Papua. Namun, persoalan timbul setelah pembayaran telah dilakukan. Menurut keluarga Arwan Koty, kedua alat berat itu tak kunjung diserahterimakan kepada Arwan dan Alfin.

"Sekedar mengingatkan, bahwa ada 2 unit Excavator yang jadi masalah dengan pelaku usaha (Indotruck Utama). Tetapi sekarang cukup 1 unit saja atas nama Arwan Koty yang kita ajukan (ke BPSK). Dengan maksud mungkin Pelaku usaha beritikad baik terhadap konsumennya. Namun karena akhir cerita seperti ini, maka jalan satu-satunya adalah ke Pengadilan, agar bisa diuji dalil dan argumen para pihak demi kebenaran dan tegaknya hukum. Tentu demi keadilan dan kepastian hukum bagi klien kami," tegas Wilibrodus Ardi Mau.

Tanggapan Penasehat Hukum PT. Indotruck Utama

Pengacara PT. Indotruck Utama, Yudistira menjelaskan, ada sejumlah pembuktian pada persidangan yang menjelaskan bahwa alat berat excavator itu sudah ada di Nabire.

"Kan awalnya dia bilang bahwa alat itu tidak dikirim, kemudian dipersidangan kita buktikan bahwa kalau memang tidak dikirim, ini alat ada di Nabire, ditujuan. Dan memang itu pengiriman bukan kami, gitu kan, tapi kan kami membuktikan bahwa alat itu sudah sampai disana. Dan terbukti, kan ada, kami sampaikan foto-fotonya, kita kasih lihat nomor serinya. Alat berat itukan ada nomor serinya." Terang Yudistira kepada redaksi akuratnews, seusai sidang BPSK, Kamis kemarin (18/7/2019).

Menurut Yudistira, pihak Arwan Koty juga mengatakan dokumen kepemilikan tidak diberikan, namun hal itu sudah dijelaskan pihaknya bahwa kepemilikan alat berat itu tidak seperti kendaraan bermotor yang dilengkapi BPKB dan STNK.

"Kami juga sudah jelaskan bahwa kepemilikan alat berat itu tidak seperti kendaraan bermotor ada BPKB-STNK. yang dipakai adalah perjanjian jual beli, fakturnya, tagihan (invoice) itukan ada nomor seri, kemudian sama bukti pembayaran. Itu tiga komponen yang membuktikan. Nah itu pun sudah ada dokumennya, sudah kami serahkan ke majelis juga. Dan itu pun kembali disanggah, dibilang..ooh alat disitu bukan alat kami. Terus kita buktikan lagi, bahwa alat yang ada disitu (Nabire) kita tunjukan Hour Meternya itu sudah jelas, bahwa serial numbernya ya alat yang dia beli." terang Yudistira.

Menurut dia, secara logika jika pada waktu itu memang bermasalah, tentunya alat ini tidak akan sampai di Nabire. "Nggak bakalan sampai di Nabire, dan nggak bakalan dititipkan oleh orangnya Arwan Koty ke Polair." Kata Yudistira.

Yudistira menjelaskan, bahwa excavator itu kini tidak berada di Nabire sebab hanya dititipkan sementara.  "Ini yang harus diperjelas, bahwa kami sebagai unsur perusahaan (Pelaku usaha) sudah jelaskan semua, terus kita pun ajukan itikad baik, begini..ayoo kita sama-sama ke Nabire, Kita temukan alat itu. Kalo memang Ibu (Finny Fong, Istri Arwan Koty) mau ambil alat itu, mari kita bantu. Mengapa? Karena kita bisa membuktikan ibu yang beli karena kita punya dokumen-dokumen yang terkait dengan unit itu." tandasnya.

Penulis:

Baca Juga