oleh

Tradisi Ngarot di Indramayu Jadi Ikon Budaya Nasional

Indramayu, Akuratnews.com – Ribuan masyarakat tumpah ruah di halaman Balai Desa Jambak Kecamatan Cikedung untuk menyaksikan prosesi Adat Ngarot yang dilaksanakan oleh Pemerintah Desa Jambak, Sabtu kemarin (5/1/2019).

Kemacetan mulai terasa dari jalan Alternatif Pantura di Desa Tugu dan Cikedung yang merupakan akses menuju Desa Jambak. 

Di sepanjang kanan-kiri jalan, ratusan pedagang berjajar menjajakan dagangannya yang membuat kemacetan bertambah parah.

Tradisi Adat Ngarot merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat, berkah dan rezeki yang diberikan pada petani.

Tradisi Ngarot menjadi salah satu ikon budaya di Kabupaten Indramayu, karena hanya Kota Mangga ini yang memilikinya. Namun tradisi ini juga sudah menjadi budaya nasional.

Dalam masyarakat berkultur agraris seperti Desa Jambak, Jatisura, Tunggulpayung, Tugu, Nunuk, Lelea, Adat Ngarot merupakan suatu tradisi untuk memulai masa bercocok tanam di sawah yang dilakukan sejak abad 16 yang lalu sampai sekarang di musim penghujan (rendeng).

Atas konsistensinya dalam merawat tradisi budaya ini, pada tahun 2015, UNESCO menetapkan Adat Ngarot sebagai bagian dari warisan budaya tak benda (intengible).

Iim Imadudin dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat bahkan mengakui kalau Ngarot sekarang bukan hanya menjadi milik Kabupaten Indramayu atau Jawa Barat saja, tapi sudah menjadi budaya nasional.

“Kami bangga karena Tradisi Ngarot di Desa Jambak Kec Cikedung Kab Indramayu ini masih tetap terjaga,” ujar Iim.

Prosesi Adat Ngarot Desa Jambak Kecamatan Cikedung Kabupaten Indramayu dimulai dengan pawai puluhan gadis yang bermahkotakan bunga di kepalanya serta para jejaka yang berselipkan sebuah keris.

Dipimpin oleh sang Kepala Desa Jambak, gadis Ngarot mengelilingi batas-batas desa diiringi para jajaka desa di belakangnya.

Setelah menyusuri batas-batas desa, barulah gadis dan jajaka desa itu berkumpul di balai desa untuk mendengarkan wejangan atau petuah dari tetua desa.

Di akhir prosesi, diserahkan sarana panca usaha tani seperti bibit padi, kendi berisi air, cangkul dan parang, dan lain-lain secara simbolik, kepada perwakilan gadis dan jajaka Ngarot.

Penyerahan sarana panca usaha tani ini menjadi penanda dimulainya masa menggarap sawah di musim rendeng yang dilakukan secara massal oleh masyarakat Desa Jambak, untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka selama satu tahun ke depan.

Acara ditutup dengan tarian longser (topeng).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu Drs H Carsim mengatakan,  Tradisi Adat Ngarot merupakan rangkaian yang panjang dari usaha manusia untuk mengekspresikan rasa syukurnya terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas melimpahnya panen padi di tahun sebelumnya.

Rangkaian itu yakni didahului oleh sedekah bumi, ngunjung, durugan (mencangkul), lantas Ngarot yang artinya jeda untuk minum.

“Masyarakat Desa Jambak melakukan Tradisi Adat Ngarot, sebagai tanda dimulainya masa menanam padi secara serentak,” katanya.

Carsim menegaskan, pihaknya akan terus merawat, memelihara, dan meneruskan tradisi Adat Ngarot ini sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Menurutnya banyak hal yang positif dari tradisi ini, di antaranya mengedukasi pemuda-pemudi untuk bercocok tanam di sawah sebagai bekal kehidupan mereka.

“Saya kira ini berhubungan dengan ketahanan dan kedaulatan pangan juga. Karena di sini pemuda dibekali bibit padi dan cangkul sebagai sebuah simbol agar mereka rajin bekerja di sawah untuk memenuhi kebutuhannya, juga mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kita,” tandasnya.

Tradisi Adat Ngarot memang identik dengan gadis bermahkotakan bunga. Daya tariknya ada di situ. Konon mitosnya, kalau gadis-gadis yang ikut pawai itu sudah tidak suci lagi, maka bunga yang ada di kepalanya akan layu.

Kuwu Jambak, Surjana menambahkan, melalui Tradisi Ngarot diharapkan musim tanam padi yang mulai dilaksanakan akan sukses dan melimpahkan hasil seperti yang diharapkan. (Rio)

Loading...

Komentar

News Feed