Transaksi Berjalan Defisit, Pemerintah Naikkan Tarif PPh Impor 1.147 Komoditas

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: dok. Akuratnews.com)

Jakarta, Akuratnews.com - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menerapkan sejumlah kebijakan dalam rangka mengendalikan defisit neraca transaksi berjalan. Hal itu untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia.

Tinjauan terhadap proyek-proyek infrastruktur lantas dilakukan khususnya proyek strategi nasional serta implementasi penggunaan Biodiesel (B-20) untuk mengurangi impor bahan bakar solar.

Pemerintah juga melakukan tinjauan kebijakan Pajak Penghasilan (PPh) terhadap barang konsumsi impor untuk mendorong penggunaan produk domestik.

Dalam keterangan tertulis Kemenkeu pada Rabu (5/9/2018) malam, hasil tinjauan menyimpulkan perlu dilakukan penyesuaian tarif PPh Pasal 22 terhadap 1.147 pos yang dibagi dalam tiga kategori. Pertama, tarif PPh impor pada 210 item komoditas naik dari 7,5% menjadi 10%. Kategori ini merupakan barang mewah seperti mobil CBU dan motor besar.

Kedua, 218 item komoditas naik dari 2,5% menjadi 10%. Termasuk dalam kategori ini adalah seluruh barang konsumsi yang sebagian besar telah dapat diproduksi di dalam negeri, seperti barang elektronik yakni dispenser air, pendingin ruangan, lampu dan keperluan sehari-hari seperti sabun, sampo, kosmetik serta peralatan masak.

Ketiga, 719 item komoditas naik dari 2,5% menjadi 7,5%. Termasuk dalam kategori ini seluruh barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya. Contohnya bahan bangunan seperti keramik, ban, peralatan elektronik audio-visual yakni kabel, box speaker serta produk tekstil seperti polo shirt.

Pengendalian impor melalui kebijakan Pajak Penghasilan sendiri bukan kali pertama, dimana Pemerintah melakukan hal serupa pada tahun 2013 dan 2015. Pemerintah juga memastikan bahwa kenaikkan tarif tersebut tidak akan memberatkan industri manufaktur.

Untuk diketahui, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia mencapai USD13,5 Milyar atau 2,6 persen terhadap PDB pada semester I 2018. Salah satu penyebab defisit transaksi berjalan menurut Kemenkeu adalah pertumbuhan impor sebesar 24,5% yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor yakni 11,4%. (Ysf)

Penulis:

Baca Juga