Bedah Buku PR Crisis

Universitas Airlangga Gelar Kuliah Umum Dengan Materi PR Crisis

Surabaya, Akuratnews.com – Sebagai seorang praktisi PR yang handal, tentunya dituntut untuk mampu mengantisipasi adanya segala kemungkinan krisis. Krisis dapat terjadi kapan saja dan dimana saja tanpa mengenal waktu. Namun, krisis ini sebenarnya dapat diantisipasi dengan cara mengenali dan mengidentifikasi sedini mungkin terkait adanya isu atau rumor yang tengah beredar di masyarakat.

Pembahasan terkait krisis ini juga disampaikan oleh Firsan Nova selaku CEO Nexus Risk Mitigation and Strategic Communication dalam acara bedah buku PR Crisis yang diselenggarakan oleh Universitas Airlangga, Rabu (13/10). Acara bedah buku tersebut diikuti dengan ketiga pembicara yang juga merupakan penulis dari buku PR Crisis.

Dalam acara bedah buku tersebut, Firsan mengatakan bahwa isu harus dapat dikelola dengan baik karena apabila tidak, maka akan berakibat pada timbulnya krisis.

“Diperlukan adanya manajemen pengelolaan isu dan resiko untuk mengantisipasi adanya krisis di masa depan. Fact is not enough,” Jelas Firsan di Surabaya pada rabu (13/10).

Selain itu, hadir pula Dian Agustine selaku founder dari NAGARU Communication dan juga salah satu penulis buku PR Crisis. Menurutnya, citra dan reputasi juga penting untuk dilakukan oleh seorang praktisi PR agar tetap dipandang positif oleh publik. Dengan adanya citra yang positif tentunya akan memiliki berbagai manfaat yang didapatkan oleh sebuah brand.

Menurutnya, mempertahankan suatu citra yang baik di masyarakat dikatakan lebih sulit dibandingkan dengan membentuk citra. “Citra merupakan suatu persepsi yang berkembang di masyarakat dan bersifat long term. Untuk itu, sangat penting bagi seorang praktisi PR untuk dapat mempertahankan citra atau image yang baik di mata publik,” ujar Dian.

Akbar juga menambahkan bahwa salah satu komponen penting yang harus dijaga oleh seorang praktisi PR adalah hubungan yang baik dengan media (media relations). Sebagai seorang jurnalis, ia menganggap bahwa selain mengantisipasi adanya isu dan rumor negative yang beredar di masyarakat, mengelola hubungan yang baik dengan media juga harus dijalankan untuk menangani krisis di masa depan.

“Praktisi PR harus mampu menentukan framing yang tepat terkait krisis kepada media untuk menghindari adanya berbagai persepsi di masyarakat,” ujar Akbar yang juga sekaligus penulis buku PR Crisis.

Untuk itu, Akbar memberikan beberapa pedoman dalam menghadapi media, antara lain; (1) terbuka, jujur, dan memberikan informasi yang lengkap, (2) tidak memberikan pernyataan “no comment” ketika terdapat krisis, (3) tidak menebak atau berspekulisasi terlebih dahulu, dan (4) menyediakan spokeperson yang dapat dihubungi 24 jam.

Penulis: Irish
Editor: Redaksi

Baca Juga