Unjuk Rasa di Hongkong Protes Penahanan Aktivis Pro Demokrasi Tiga Rekannya

Hongkong, Akuratnews.com - Puluhan ribu massa turun ke jalan-jalan di Hongkong pada Ahad untuk memprotes penahanan tiga aktivis pro demokrasi. Mereka mempertanyakan kemerdekaan peradilan kota Hongkong yang kini diperintah oleh China.

Protes tersebut dipicu oleh sikap represif otoritas Kota Hongkong yang menahan para pegiat demokrasi yang relatif berusia masih muda yakni Joshua Wong, 20, Nathan Law, 24 dan Alex Chow, 27, pada Kamis (17/8/17) dijebloskan ke dalam penjara untuk waktu selama enam hingga delapan bulan karena berkumpul tanpa izin.

Penahanan mereka merupakan pukulan bagi aksi yang dipimpin kaum muda untuk hak pilih universal dan memicu tudingan-tudingan ada campur tangan politik.

Ribuan orang berpawai dalam cuaca yang cukup panas dengan suhu udara 30 derajat Celcius, menuju mahkamah banding. Pengunjukrasa membawa plakat-plakat dan spanduk yang mengutuk penahanan para aktivis tersebut.

Mantan pemimpin mahasiswa Lester Shum, yang membantu unjuk rasa pada Ahad (20/8) itu, mengatakan jumlah pemerotes mencapai jumlah tertinggi sejak protes pro demokrasi "Gerakan Payung" yang terjadi pada 2014 lalu yang melumpuhkan jalan-jalan utama di pusat finasial itu selama 79 hari.

"Ini menunjukkan bahwa pemerintah Hongkong, rezim komunis China dan
Departemen Kehakiman berkonspirasi untuk mengekang orang-orang Hongkong terus ikut dalam politik dan memprotes penggunaan undang-undang yang keras dan hukuman, yang sama sekali gagal," kata Shum.

Polisi Hongkong memperkirakan 22.000 orang telah ikut berunjuk rasa pada
saat puncak aksi itu. Para pemerotes membawa sebuah spanduk yang bertuliskan,"Bukan sebuah kejahatan memerangi totaliterisme."

Mereka juga meneriakkan,"Bebaskan semua tahanan politik. Kami tidak takut. Kami tidak menyesal." Ray Wong, 24, yang memimpin kelompok pro kemerdekaan warga asli Hongkong. Ray mengaku marah terhadap pemenjaraan para pegiat demokrasi dan dia berjanji akan membantu menyatukan kelompok oposisi pro demokrasi yang terpecah selama beberapa tahun lalu.

"Sejak gerakan payung, kelompok-kelompok radikal dan moderat bergerak
masing-masing," kata dia. "Kami sekarang bersatu. Ini permulaan yang baik."

Dalam aksi pada Ahad itu, sejumlah orang mambawa spanduk bertuliskan "Rimsky Tak Malu." Hujatan itu merujuk kepada pejabat tinggi kehakiman Rismky Yuen.

Dalam laporannya, Reuters mengungkapkan bahwa Yuen telah bertindak berlebihan karena tidak memperhatikan saran dari pejabat-pejabat lain di bidang hukum terkait masa hukuman bagi tiga pegiat prodemokrasi tersebut. (Farhan)

Penulis:

Baca Juga