Virus Corona dan Perang Ekonomi

Dr Ichsanuddin Noorsy BSc., SH., MSi
Dr Ichsanuddin Noorsy BSc., SH., MSi

Jika dilihat dari total penjualan vaksin pada 2014, jumlahnya mencapai sekitar 8 miliar dolar AS dari 20 produsen vaksin. Pfizer berhasil menjual produknya hingga 2 miliar dolar AS, diikuti oleh Glaxo, Merck & Co, dan Novartis. Dari jumlah penjualan itu, lebih kurang 80 persen terjual di negara maju dengan penduduk sekitar 14 persen dari jumlah penduduk dunia dan 20 persen total vaksin terjual di negara berkembang dengan jumlah penduduk mencapai 86 persen penduduk dunia. Dari 20 perusahaan farmasi itu, tak nampak keunggulan Bio Farma sebagai penghasil vaksin.

Sejak Cina tampil sebagai kekuatan ekonomi ke dua, industri farmasi dan industri kesehatannya pun terus berkembang. Wisatawan ke Cina tak lupa ditawarkan menyaksikan keunggulan pendekatan medis Cina termasuk herbalnya. Program transplantasi sejumlah organ tubuh manusia juga ditawarkan walau secara gelap. Belajar dari krisis Timur Tengah yang tidak pernah usai dan mempelajari isu penggunaan senjata kimia oleh Israel, Cina membangun 7-8 laboratorium penelitian virus di Wuhan.

Pembelajaran akan hal ini juga dipicu oleh ramainya flu babi pada 2009, virus kuku sapi, virus flu burung yang menyerang Hongkong pada 1997 dan Oktober 2003. Kita juga masih ingat bagaimana virus Ebola menyerang sejumlah negara di Afrika. Lalu beredar pula di Youtube tentang HAARP (High frequency Active Auroral Research Program) yakni studi tentang sifat dan perilaku ionosfer (ionospher) yang dikembangkan Angkatan Udara AS.

Pada Agustus 2015, riset ini dipindahkan ke Universitas Alaska Fairbanks, AS sehingga eksplorasi penggunaan ion untuk “pengembangan” kawasan dan lahan terus dilakukan. Saya menuliskan pengembangan dalam tanda petik, karena ion bisa digunakan untuk kepentingan positif bisa juga untuk negatif, seperti penggunaan ion hidrogen pada bom atom. HAARP ini mengarah pada perekayasaan cuaca di suatu kawasan dan lahan.

Dari konstruksi di atas, berkembangnya isu virus corona sejak akhir Desember 2019 akhirmya dilihat banyak kalangan sebagai kegagalan Cina untuk membangun sistem kesehatan dan keselamatan kerja. Laboratorium di Wuhan dianggap bocor sehingga menyerang ribuan orang walau Cina mengakuinya hanya memakan korban 80 orang mati.

Sebagai masyarakat yang suka akan kuliner ekstrim (masyarakat yang suka mengonsumsi kelelawar, kalajengking, kecoa, ular, monyet, anjing, babi, dan ragam binatang liar lainnya), maka tesa “anda adalah apa yang anda makan” (you are what you eat) memberi kesan kuat halalnya segala cara untuk memenuhi hasrat material manusia. Konstruksi ini mengukuhkan dugaan bahwa laboratorium di Wuhan adalah bagian dari senjata kimia Cina yang bocor karena rendahnya kualitas disiplin kesehatan dan keselamatan lingkungan (health, safety, and enviromentals) Cina.

Laboratorium di Wuhan itu sendiri menurut berbagai kalangan menjadi bukti bahwa Cina sedang mengakumulasi  segenap kekuatannya. Dalam lingkup USA versus Cina, masyarakat dunia diajak masuk dalam perang dagang dan perang teknologi informasi (Huawei 5G). Padahal Cina sudah memulainya dengan perang dagang pada 2004, perang nilai tukar sejak Cina dan sekutunya bermaksud menyingkirkan penggunaan dolar AS pada 2015, strategi meminimalkan peran Bank Dunia dan Asean Development Bank dan menggantinya dengan New Development Bank dan Asean Infrastructure Investmet Bank, dan perang uang digitial (digital currency) termasuk perang penggunaan Electric Vehicle.

Selanjutnya 1 2 3

Baca Juga