Wakil Presiden Iran Positif Terinfeksi Virus Corona

Jakarta, Akuratnews.com - Wakil Presiden Iran untuk Urusan Wanita dan Keluarga Masoumeh Ebtekar telah dinyatakan positif coronavirus jenis baru. Dia merupakan salah satu dari 12 wakil presiden di Iran.

Menurut kantor berita IRNA, gejala yang ditunjukkan wanita berusia 59 tahun itu tergolong ringan. Dia dikenal berperan sebagai juru bicara dalam proses penyelesaian konflik penyanderaan di Teheran pada 1979.

Selain Ebtekar, pejabat senior Iran lainnya yang dipastikan terinfeksi coronavirus adalah Kepala Komisi Keamanan Nasional dan Hubungan Luar Negeri Parlemen Iran Mojtaba Zonnour.

Dalam sebuah pesan video, Zonnour, yang mewakili Kota Qom di parlemen, mengatakan bahwa saat ini dia berada di karantina.

"Betul, saya terinfeksi coronavirus dan kini saya dikarantina," kata Zonnour dalam rekaman videonya, seperti dikutip dari Times of Israel.

Dia meminta publik untuk tetap tenang, menegaskan bahwa pemerintah Iran bertekad untuk mengalahkan wabah coronavirus jenis baru.

"Insyallah, bangsa kita akan menang dalam perang melawan wabah ini," ujar dia.

Sebelumnya, pada Selasa (25/2), pejabat Iran mengonfirmasi bahwa Wakil Menteri Kesehatan Iraj Harichi telah terinfeksi dan kini sedang dikarantina. Pengakuan Harirchi datang sehari setelah dia mengalami demam saat menghadiri konferensi pers, di mana dia meremehkan penyebaran virus di Kota Qom dan mengatakan karantina massal tidak diperlukan.

Harirchi menyampaikan pernyataannya lewat sebuah video yang diunggah di media sosial pada Selasa.

"Saya ingin memberi tahu Anda bahwa saya terinfeksi coronavirus," kata dia. "Saya demam kemarin. Hasil tesnya positif tadi malam. Saya mengisolasi diri saya. Beberapa saat yang lalu, saya diberitahu bahwa hasil tes final telah keluar. Saya akan mulai minum obat. Secara umum, saya merasa baik-baik saja. Saya hanya merasa sedikit lelah, saya demam, dan kondisi saya akan menurun."

Selain itu, media setempat melaporkan bahwa Hadi Khosroshahi (81), mantan Duta Besar Iran untuk Vatikan dan Mesir, merupakan salah satu pasien yang meninggal setelah terjangkit coronavirus jenis baru.

Iran telah membatalkan ibadah salat Jumat di Ibu Kota Teheran dan sejumlah wilayah lain di negara itu. Langkah ini diambil sebagai tanggapan atas lonjakan drastis dalam jumlah kasus infeksi coronavirus.

Sejauh ini, Iran mencatat 245 kasus penularan dengan 26 kematian. Iran merupakan negara yang paling parah terdampak coronavirus di Timur Tengah.

Pada Kamis (27/2), juru bicara Kementerian Kesehatan Iran Kianoush Jahanpour mengatakan bahwa laboratorium di Iran terus melakukan tes dan kemungkinan besar jumlah kasus yang dikonfirmasi akan terus meningkat dalam beberapa hari mendatang.

Demi mencegah penyebaran lebih lanjut, pihak berwenang Iran telah melarang warga dari China, pusat penyebaran epidemi coronavirus, memasuki negara tersebut.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pada Kamis memuji kinerja staf medis di Iran, menyebut bahwa pekerjaan mereka sangat mulia dan dihargai.

Penulis: Redaksi

Baca Juga