Peran Public Relation Dalam Bidang Pertanian

Webinar Peran PR di Bidang Pertanian, M. Akbar; Menggugah Penak Milenial Tentang Profesi Tani

AKURATNES.COM – Tani Center Institut Pertanian Bogor (IPB) mengelar bedah buku PR Crisis sekaligus melaksanakan Program Kampus Merdeka yang dihadiri oleh mahasiswa Kampus Sawah Merdeka (MBKM PUSAKA) dari lima perguruan tinggi, diantaranya: Universitas IPB, Universitas Wiralodra, Universitas Mahasaraswati, Universitas Bojonegoro dan Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa.

Dr. Firsan Nova, Dian Agustine Nuriman serta Mohammad Akbar menjadi pembicara utama pada bedah buku kali ini, Tiga penulis buku PR Crisis tersebut membahas pentingnya peran public relation (PR) dalam bidang pertanian.

“Isu terkait pertanian atau tani di internet, sangat kontras dengan isu atau keyword terkait politik. Ini menandakan bahwa isu-isu yang sehubungan dengan pertanian masih belum dikemas secara baik oleh para stakeholder yang berkaitan” ucap M. Akbar, saat memaparkan hasil risetnya di internet yang membandingan isu pertanian dan politik.

Jurnalis Republika tersebut percaya potensi generasi muda, khususnya peserta yang mayoritas berjurusan tani yang turut serta dalam acara hari ini, dapat membuat perubahan besar pada penyelesaian isu serta peningkatan fenomena pertanian. Karena isu pertanian saat ini masih menjadi isu yang bersifat inferior atau tidak “sexy” untuk dibicarakan maupun dikapitalisasi. Akbar juga menyampaikan bahwa pentingnya komunikasi serta seni merangkai cerita dibalik pertanian, agar kisah yang berlatar belakang pertanian dapat menarik minat publik.

Penyampaian komunikasi yang dikemas dengan baik kepada publik serta cara menyikapi isu dibedah langsung oleh Dr. Firsan Nova, CEO Nexus Risk Management & Strategic Communication. “Kami percaya bahwa suatu program tidak dapat berjalan jika tidak diikuti dengan komunikasi dan strategi PR yang baik” ujarnya.

Firsan menjelaskan bahwa terdapat lima isu lahan dan pertanian yang sampai saat ini masih menjadi masalah utama, dikutip dari Food Summit ialah: (1) Lahan sempit, (2) Kualitas Tanah yang kian rusak akibat penggunaan peptisida, (3) Permodalan, (4) Tidak bank-able dan (5) Para petani yang ketinggalan teknologi. Hal-hal tersebut tentu tidak akan menjadi sebuah isu atau krisis saat ini, apabila terjalin proses komunikasi yang efektif kepada petani dan stakeholder terkait.

Selain menjaga isu dan cara penyampaian yang baik, diperlukan juga branding yang disertai pembentukan citra dan reputasi. Dian Agustine memaparkan, “Pembentukan citra dimulai dari panca indra, terutama mata. Hal ini dapat menunjukan dan memetakan apa yang ingin kita bentuk dalam benak publik” ucapnya. Terkait isu pertanian, Founder Nagaru Communication tersebut memberikan contoh bahwa pembuatan citra dapat dibentuk dengan kemasan produk yang berani serta branding yang menunjukan kualitas bahan pangan agar menumbuhkan trust konsumen yang melihatnya. Dengan hal tersebut, reputasi positif bidang pertanian khususnya brand terkait dapat meningkat.

Dengan pemaparan tiga praktisi PR sekaligus penulis buku PR Crisis ini, diharapkan peserta dapat memahami komunikasi pertanian serta menjadi bekal generasi muda dalam menghadapi fenomena isu pertanian.

Penulis: Irish
Editor: Redaksi

Baca Juga