Wina Ayu Kencono Larang : Jangan Berpangku Tangan

"Ketika pisang dijual daun dan buahnya, kami melakukan inovasi dengan bonggol pisang yang bisa menghasilkan hingga sepuluh juta rupiah,"

Jakarta, Akuratnews.com - Di tengah kondisi keluhan kebijakan yang katanya menyulitkan, seorang Wanita Pengusaha satu ini justru tidak mengalami kejadian tersebut. Bagaimana tidak, di tengah komentar negatif terkait kebijakan bagi pengusaha lokal, pemilik nama lengkap Wina Ayu Kencono Larang, ini justru berkarya bersama kelompoknya, membangun daerah-daerah yang masyarakatnya khususnya tergabung dalam UMKM, dengan meningkatkan perekonomian masyarakat dengan mengedukasi menjadi wanita yang berpenghasilan.

"Sekarang mungkin banyak yang mengeluhkan kebijakan menyulitkan. Tapi bagi kami, Alhamdulillah tidak mengalami kesulitan dalam kebijakan, karena kami selalu berusaha. Contohnya, kami ada binaan di Wonosobo jamu tanpa ampas. Kita memberdayakan ibu yang identik dengan ngerumpi kami ajak ibu ngerumpi mendapatkan income. Mereka yang punya lahan walaupun sedikit, menanam apotik hidup untuk disetorkan ke koperasi, kelompok tani wanita," paparnya membuka pembicaraan dengan redaksi akuratnews.com, di bilangan Jakarta Selatan (23/8).

Dia menambahkan, produk-produk yang dihasilkan oleh binaannya, telah menembus pasar eksport salah satunya ke Malaysia, untuk produk-produk jamu tradisional.

"Produk-produk dari para wanita di Wonosobo sudah menembus eksport, belum lama ke Malaysia. Keberuntungan kami mengelola UMKM, kebijakan eksport tidak terlalu sulit berbeda dengan pedagang besar," katanya.

"Visi, Misi ketua kami memang mencetak satu juta UMKM dengan menggandeng UMKM yang ada di daerah. Kita produksi gula semut di Magelang, Madu Lanceng, Abon bonggol pisang, dan sebaginya," tambahnya.

Dia menjelaskan, di tengah-tengah kondisi masyarakat tani khususnya, hanya mengandalkan produk yang biasa dihasilkan, dirinya bersama kelompoknya melakukan inovasi seperti Abon yang diproduksi dari bonggol pisang.

"Ketika pisang dijual daun dan buahnya, kami melakukan inovasi dengan bonggol pisang yang bisa menghasilkan hingga sepuluh juta rupiah. Inilah pentingnya kreatifitas. Jangan menunggu, hanya bisa menyalahkan pemerintah. Siapapun pemerintahnya jika kita hanya berpangku tangan, kita tidak akan maju," tegasnya.

Lebih jauh dirinya memaparkan alasannya turun ke masyarakat, karena dirinya melihat berbagai masalah yang terjadi. Seperti terjebak dalam pinjaman rentenir yang alasan pinjaman pun sangat sepele.

"Saya turun ke bawah, karena masyarakat banyak yang terlilit hutang bukan untuk menyekolahkan anak. Percaya atau tidak, hanya untuk kondangan. Mereka terlibat hutang dengan rentenir yang berbunga besar. Alhamdulillah, setelah bergabung dengan Gapoktan mereka sudah bisa arisan dan menabung, lepas dari lilitan hutang walaupun saya dicaci maki oleh para pemberi hutang itu," ungkapnya.

Terkait potensi Indonesia, wanita yang menjabat sebagai Ketua Kadin Komite untuk Brunei Darussalam dan Filipina ini, mengatakan Indonesia memiliki potensi yang cukup besar. Bahkan dikatakan Indonesia akan menjadi kiblat bagi pangan di dunia.

"Pada tahun 2003 saya pernah bekerja di Geneva sebagai sekretaris legal consultants, manager saya yang berasal dari Prancis mengatakan mengapa Indonesia harus takut kepada dunia. Seharusnya dunia takut dengan Indonesia, karena empat puluh tahun ke depan Indonesia akan diserbu oleh dunia, karena enam puluh persen pangan di dunia berasal dari Indonesia," jelasnya.

"Sebenernya potensi kita sangat banyak makanya kalau dulu ada lagu tanah surga memang benar. Jangan enggan keluar dari zona nyaman tanpa mau berkreasi. Untuk itu bagi motivator tularkan semuanya. Stop berpangku tangan, stop menyalahkan, mulailah dari kehidupan kita sendiri untuk merubah semua," pungkasnya.

Penulis:

Baca Juga