Diduga Akibat Salah Transfer

Wow! Nasabah Prioritas Ini Gugat Bank BUMN Rp1 Triliun

AKURATNEWS – Nasabah prioritas di PT Bank Rakyat Indonesia menggugat bank BUMN tersebut Rp1 triliun pasca dikriminalisasi dengan menggunakan UU No 3 Tahun 2001 Tentang Transfer Dana.

Indah Harini, melalui kuasa hukumnya dari kantor Hukum Mastermind & Associates menggugat PT Bank Rakyat Indonesia, sebesar hampir Rp1 triliun atas kerugian materiil dan immateriil akibat kasus dugaan salah transfer yang menyebabkan dirinya dijadikan tersangka. Sidang pertama gugatan tersebut dijadwalkan digelar Kamis, 23 Desember 2021 di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.

“Mengapa ada salah transfer di bank sekelas BRI, tapi baru dipermasalahkan setelah 11 bulan? Dari sisi kepatutan waktu sudah janggal. Di mana prinsip kehati-hatian perbankan diterapkan?,” kata Henri Kusuma, kuasa hukum Indah Harini di Jakarta, Rabu (22/12).

Chandra, yang juga kuasa hukum Indah Harini juga mempertanyakan mengapa nasabah prioritas yang punya itikad baik dan konsisten melapor dan bertanya kepada bank, ketika mengetahui terjadi salah transfer, tapi justru dikriminalisasi.

“Apa yang menimpa ibu (Indah Harini) bisa terjadi pada siapa saja,” kata Chandra.

Adapun gugatan yang dilayangkan kuasa hukum Indah adalah menyangkut kerugian immateril karena telah dilaporkan BRI ke kepolisian Polda Metro Jaya dan justru menjadi tersangka akibat salah transfer serta diblokir rekeningnya.

Terkait kronologi salah transfer, dijelaskan Henri, sebelumnya, Indah Harini membuka rekening tabungan valas GBP (Great Britain Pound) pada Agustus 2019 untuk keperluan mendaftarkan anak sekolah di Edinburgh, United Kingdom (UK) dan memfasilitasi biaya hidup dan biaya kuliah anaknya yang menuntut ilmu di ibukota dan kota terbesar kedua di Skotlandia tersebut.

Di Edinburgh, Indah pernah mengisi formulir tax refund dan beberapa lembar kupon undian yang berjumlah kurang-lebih 17 lembar dan dimasukkan ke dropbox yang tersedia. Dalam kupon tersebut, tax refund dan hadiah kupon diminta untuk dikreditkan ke rekening tabungan valas GBP yang ada di BRI.

“Dalam keterangan di tax refund dan kupon undian tersebut, klien kami memasukkan nomor rekening tabungan valas GBP yang ada di Bank BRI”, kata Henri.

Setelah kembali ke tanah air, terdapat transfer masuk kepada rekening tabungan Valas GBP milik Indah, yakni pada 25 November 2019 (terdapat tiga kali transaksi), 10 Desember 2019 (terdapat 4 kali transaksi) dan 16 Desember 2019 (terdapat transfer 2 kali transaksi). Jumlah transferan ke rekening Indah tidak main-main, ditotal mencapai GBP1,714,842, atau sekitar Rp30 miliar.

Beritikad baik, pada 3 Desember 2019, Indah pada 3 Desember 2019 mendatangani kantor BRI untuk menanyakan perihal transfer atau dana masuk yang terdapat keterangan “Invalid Credit Account Currency”. Selanjutnya, customer service BRI membuat laporan ke Divisi Pelayanan dan kemudian memberikan Trouble tiket dengan Nomor TTB 25752980 sebagai bukti pelaporan.

Pada tanggal 10 Desember dan tanggal 16 Desember 2019, Indah kembali menanyakan ke customer Service BRI untuk kembali menanyakan perihal dana masuk. Menurut penjelasan Henri, pertanyaan Indah tersebut dijawab oleh customer service BRI, setelah mengecek komputernya, dengan mengatakan: “tidak ada keterangan dan klaim dari divisi lain berarti itu memang uang masuk ke rekening Anda.”

Dikarenakan pihak bank menyebutkan dan mengonfirmasi, jika hal demikian tidak masalah dan membenarkan adanya sejumlah uang masuk ke rekening Indah, maka pada 23 Desember 2019 Indah memindahkan dana dari rekening tabungan valas GBP nya ke rekening Deposito Berjangka valas GBP pada kantor cabang Bank BRI. Lalu, untuk menghindari unsur riba rekening Deposito Berjangka valas GBP tersebut, pada 24 Februari 2020 dipindahkan Indah ke BRI Syariah.

Karena Indah telah melapor ke bank, dan tidak terdapat klaim dari BRI, ia menggunakan dana tersebut, dalam berbagai transaksi selama 2019 hingga 2020.

Namun, setelah berjalan kurang lebih 11 bulan, yakni sejak 1 Desember 2019, BRI tidak pernah mempermasalahkan transfer dana masuk dimaksud, pada 6 Oktober 2020 account officer BRI, yang biasa melayani Indah sebagai Nasabah Prioritas menelepon dan memberitahu bahwa telah terjadi kekeliruan dalam transaksi tabungan valas sebesar GBP 1,714,842.00 yang diterima pada kurun waktu 25 November-15 Desember 2019.

“BRI menghubungi klien kami tanpa surat resmi dan hanya menyodorkan dua lembar kertas HVS kosong tanpa klien Kami diminta menulis kesanggupan untuk mengembalikan dana yang sudah masuk,” beber Henri.

Dikarenakan khawatir akan implikasi hukum terhadap dirinya, Indah memberikan kuasa kepada pengacara untuk mendapatkan advokasi, pendampingan, serta untuk diminta pendapatnya, sesuai dengan UU no 18 tahun 2003 tentang advokat.

Terkait hal ini, Pemimpin Kantor Cabang Khusus BRI, Akhmad Purwakajaya mengatakan, kejadian tersebut terjadi pada 2019, dimana nasabah yang bersangkutan telah menerima dana yang bukan haknya di rekening BRI-nya dengan nilai lebih dari Rp30 miliar.

Ia mengutip pasal 85 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana yang menyatakan setiap orang yang dengan sengaja menguasai dan mengakui sebagai miliknya dana hasil transfer yang diketahui atau patut diketahui bukan haknya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda Rp 5 miliar.

"Berdasarkan hal di atas, sesuai kewajiban hukum, Ybs wajib mengembalikan dana yang bukan menjadi hak Ybs. Namun demikian karena Ybs tidak mempunyai itikad baik untuk mengembalikan dana yang bukan haknya tersebut kepada BRI, maka untuk menyelesaikan hal tersebut BRI telah menempuh jalur hukum secara pidana dan saat ini Ybs telah ditetapkan sebagai tersangka. Oleh karenanya, BRI menghormati proses hukum Ybs yang sedang berlangsung," ujar Akhmad seperti dilansir dari detik.com.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga