YLKI: Pelabelan Pada Kemasan AMDK Polikarbonat Jangan Berlebihan

Ilustraasi pekerja di perusahaan AMDK. [Stringer]

AKURATNEWS – Baru-baru ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan kegiatan Konsultasi Publik Rancangan Peraturan BPOM tentang Perubahan Kedua atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang digelar secara tertutup di Grand Sahid Jaya Hotel, Senin (29/11).

Rancangan Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) ini terkesan diskriminatif karena hanya mengubah aturan label pangan air minum dalam kemasan (AMDK) berbahan Polikarbonat (PC).

Sebagaimana diketahui BPOM akan mengubah aturan label pangan air minum dalam kemasan (AMDK) berbahan Polikarbonat (PC). Perubahan tersebut di tengarai akan menimbulkan dampak terhadap pengelolaan sampah terutama akan semakin meningkatnya konsumsi sampah plastik di Indonesia.

Kekhawatiran tersebut disampaikan oleh Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi yang juga menjadi peserta dalam Konsultasi Publik Rancangan Peraturan BPOM beberapa hari lalu. Tulus mengatakan rencana BPOM dalam melaksanakan pelabelan pada kemasan AMDK Galon polikarbonat terlalu berlebihan. “Kenapa hanya diperuntukkan hanya satu jenis kemasan? Padahal banyak jenis kemasan plastik untuk pangan olahan lainnya,” ungkapnya kepada TheIndonesiaTimes, Rabu [1/12/21]

Tulus menilai dalam perubahan rancangan peraturan ini tidak hanya melihat dari aspek keamanan kemasan saja tetapi juga melihat dari aspek lingkungan dimana banyak sekali sampah yang 30 persennya didominasi sampah plastik sekali pakai. “ sebagian besar itu lebih dari 40 persennya sampah plastik tersebut masuk ke lautan," kata Tulus

Sebelumnya, Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Novrizal Tahar, sampah plastik ini merupakan persoalan yang sangat serius. Dalam kaitannya dengan produk AMDK, secara filosofis galon guna ulang itu memiliki hirarki yang lebih tinggi dari kemasan AMDK yang sekali pakai.

“Kita tahu bahwa galon guna ulang itu reuse, berulang kali dipakai. Artinya, secara hirarki, galon itu bisa kita take back,” tukasnya, dalam webinar beberapa waktu lalu

KLHK ingin, agar tidak ada persoalan baru dengan sampah plastik. Caranya dengan memastikan sampah-sampah plastik itu tidak ditemukan lagi di tempat pembuangan akhir sampah (TPA).

“Tidak bisa dibayangkan berapa banyak sampah plastik sekali pakai ini yang dibuang ke TPA-TPA. Kondisi seperti itulah yang mendorong kita meminta para produsen itu untuk mengurangi produksi kemasan yang menggunakan plastik sekali pakai,” ucapnya.

Baca Juga