Yokke dan MKP Sepakat Kerjasama, Tiga Segmen Ini Diincar

AKURATNEWS - Pemerintah mencanangkan program Gerakan Non-Tunai dalam beberapa tahun terakhir ini. Salah satu tujuannya untuk menekan angka penyebaran pandemi yang bisa saja menempel pada uang tunai yang kita distribusikan.

Sejalan dengan hal itu, PT Mitra Transaksi Indonesia (Yokke) bekerja sama dengan PT Mitra Kasih Perkasa (MKP) guna melakukan kerjasama digitalisasi dan penerapan tiket elektronik pada 18 November 2021 lalu. Kerjasama ini fokus membidik segmen pariwisata, parkir dan pasar tradisional.

Pemilihan tiga segmen di atas sebagai fokus utama bukan tanpa alasan. Segmen pariwisata, parkir dan pasar tradisional merupakan elemen yang penting dan erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Sementara itu kita tahu penggunaan transaksi non-tunai masih relatif kecil.

Pasar tradisional, merupakan wadah kegiatan masyarakat dalam melakukan perdagangan yang juga merupakan fondasi dasar perekonomian suatu wilayah. Di sana, para petani/nelayan melakukan jual beli hasil bumi secara langsung. Pasar tradisional ini biasanya dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ataupun (Badan Usaha Milik Daerah) BUMD.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini terdapat 16.235 pasar tradisonal dengan 2,8 juta pedagang. Namun hingga kini tercatat baru sekitar 475 pasar yang sudah mengakses layanan digital (yaitu minimal setiap pasar mengakses satu di antara layanan e-commerce, e-retribusi, QRIS, dan lainnya).

Digitalisasi sarana parkir yang juga menjadi fokus segmen kerjasama Yokke dan MKP ini seirama dengan transformasi digital dan gerakan non-tunai yang dicanangkan pemerintah. Hal ini menjadi penting karena digitalisasi memberikan manfaat bagi semua pihak. Selain memudahkan pengelola, digitalisasi perparkiran juga membuat masyarakat memiliki rasa aman dan nyaman saat menggunakan jasa parkir.

Segmen ketiga yang menjadi fokus adalah segmen pariwisata. Industri pariwisata adalah industri yang paling terpukul akibat pandemi COVID-19 ini dengan penurunan wisatawan mancanegara mencapai 75% dan wisatawan nusantara sekitar 30% menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Perlahan setelah penurunan kasus positif mulai stabil, industri pariwisata kembali menggeliat. Kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik menjadi kunci utama bagi pelaku pariwisata agar dapat bertahan di tengah pandemi. Salah satu upaya inovasi yang dilakukan adalah digitalisasi pariwisata dengan memperluas penerapan tiket elektronik atau e-ticketing pada objek-objek wisata.

Direktur Utama Yokke, Niniek S. Rahardja mengungkapkan, kerjasama ini penting untuk memberikan solusi lengkap pembayaran digital untuk segmen yang lebih luas lagi, terutama segmen pasar tradisional yang masih relatif belum tersentuh.

"Layanan yang disediakan Yokke dan MKP yang komprehensif, user friendly (bagi pengelola maupun konsumen) dan dengan harga terjangkau dapat menjadi solusi pengelolaan bisnis perparkiran, pasar tradisional dan objek wisata menjadi lebih mudah, transparan dan akuntabel. Digitalisasi ini juga tentunya sebagai wujud nyata perluasan gerakan non-tunai dalam rangka memutus mata rantai penyebaran COVID-19," ungkap Niniek di Jakarta, baru-baru ini.

CEO MKP, Nicholas Anggada juga menjelaskan mengenai sistem e-Ticketing atau tiket elektronik yang dimiliki oleh MKP. Sejauh ini sistemnya sudah sangat terbukti berjalan dengan baik di berbagai daerah di Indonesia.

"Dengan adanya digitalisasi dan penerapan tiket elektronik di berbagai sektor ini, sangat membantu masyarakat dalam melakukan transaksi pembayaran, karena tidak ada alasan lagi orang tidak jadi mengunjungi suatu lokasi karena tidak membawa kurang cash, digitalisasi payment sistem ini sudah mampu menerima pembayaran menggunakan kartu debit, kartu kredit, kartu prabayar (prepaid) dan juga QRIS. Selain itu juga bagi pengelola, akan sangat amat terbantu dengan adanya infrastruktur digital yang sangat mudah digunakan," sambung Nicholas.

CEO MKP eTicketing juga menjelaskan kendala-kendala kebocoran pendapatan yang biasa dihadapi oleh industri pariwisata, parkir dan pasar akibat ketiadaan sistem pembayaran yang terpadu di loket penjualan untuk pengunjung, dan adanya resiko cash in transit yang besar dapat dieliminasi dengan digitalisasi sistem ini.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga