Zakat Perusahaan Indonesia Kalah Jauh Dari Malaysia

Jakarta, Akuratnews.com - Fakta bahwa kesadaran akan zakat perusahaan di Indonesia masih kurang diungkap Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

"Kita masih jauh tertinggal dengan Malaysia. Jika disini puncak masa berzakat adalah saat Ramadhan, maka di Malaysia ada dua masa, yakni saat Ramadhan dan bulan Desember. Di bulan Desember ini, perusahaan mengeluarkan zakatnya," ujar Direktur Utama BAZNAS, Arifin Purwakananta di sela seminar nasional 'Zakat Perusahaan, Insentif Pajak, dan Sustainability Development' di Jakarta, Rabu (26/2).

Dalam seminar yang dihadiri Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama, Muhammad Fuad Nasar, Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan RI, Suryo Utomo, Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, Hamid Abidin, CEO Paragon, Nurhayati Subakat ini, Arifin juga memaparkan hukum zakat perusahaan yakni hadist riwayat Bukhori dari Anas bin Malik yang dijadikan sebagai dasar qiyas untuk zakat perusahan.

'Hadist ini menyatakan keberadaan perusahaan adalah wadah usaha dipandang sebagai syakhsiyah hukmiyah (badan hukum). Segala kewajiban ditanggung bersama dan hasil akhirpun dinikmati bersama, termasuk di dalamnya kewajiban kepada Allah, yakni zakat harta,” tuturnya.

Arifin menambahkan, Wahbah Az-Zuhaily menuliskan bahwa Fikih Islam mengakui apa yang disebut dalam hukum positif sebagai syakhsiyah hukmiyah dengan mengakui keberadaaannya, sebagai lembaga umum, seperti perusahaan.

“Sebagai syakhsiyah yang menyerupai syakhsiyah, manusia pada segi kecakapan, memiliki hak, menjalankan kewajiban, dan memikul tanggung jawab secara umum ini menunjukan bahwa perusahaan wajib membayar zakat,” jelasnya.

Penelitian yang dilakukan BAZNAS bekerjasama dengan IRTI-IDB dan IPB mengungkap, potensi zakat sebesar Rp217 triliun.

Potensi terbesar dari penelitian ini adalah Potensi Zakat Industri Swasta dan Potensi Zakat BUMN atau zakat badan. BAZNAS sendiri pada akhir tahun 2018 mencatat ada sebanyak 169 perusahaan dengan pertumbuhan rata-rata sebanyak 40 persen tiap tahunnya.

Dengan adanya kesamaan tujuan yaitu untuk kemaslahatan fakir miskin, akan lebih ideal jika zakat perusahaan selain menjadi pengurang penghasilan kena pajak, juga menjadi pengurang kewajiban tanggung jawab sosial dan bina lingkungan.

Penulis: Rianz
Editor:Redaksi

Baca Juga