Beranda Politik Pengamat: Insiden KKR Natal di Sabuga ITB, Operasi ‘Intelijen Hitam’ Sudutkan Aksi...

Pengamat: Insiden KKR Natal di Sabuga ITB, Operasi ‘Intelijen Hitam’ Sudutkan Aksi Bela Islam 212

95
0
BERBAGI
alterntif text

Jakarta, Akuratnews.com – Insiden penolakan sejumlah ormas Bandung terhadap Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal 2016 yang dilaksanakan di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB, merupakan bagian dari operasi “intelijen hitam” untuk menyudutkan Aksi Bela Islam III, 2 Desember 212, dan memecah belah persatuan bangsa.

Analisis itu disampaikan pengamat politik Ahmad Baidhowi kepada Akuratnews.com (07/12/16). “Isu ISIS gagal, teroris gagal, bom di Samarinda juga gagal menyudutkan Islam, maka dirancang munculnya penolakan kegiatan KKR di Sabuga oleh sejumlah ormas Islam. Dan ini cukup berhasil menyudutkan Islam dan aksi 212,” ungkap Ahmad Baidhowi.

Kata Baidhowi, tanpa disadari panitia KKR Sabuga, intelijen hitam menciptakan situasi panas antar umat beragama kendati masalah penolakan tersebut hanya persoalan kesalahpahaman. “Sebenarnya, ormas Islam hanya mempertanyakan legalitas acara. Tetapi intelijen hitam memblow-up seakan-akan ada penyerbuan. Dan yang terjadi umat Islam tersudut,” ungkap Baidhowi.

Menurut Baidhowi, operasi intelijen hitam kasus intoleran di Bandung itu cukup berhasil menyudutkan Islam setelah aksi damai 212. “Lihat saja kelompok liberal langsung menyudutkan Islam dan aksi damai 212. Ini yang harus diwaspadai operasi intelijen hitam karena memiliki dana yang berlebih dan strategi jitu,” jelas Baidhowi.

Diberitakan sebelummnya, gabungan organisasi keagamaan Islam mendatangi kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal 2016 yang dilaksanakan di Gedung Sabuga ITB, Jalan Tamansari, Bandung (06/12/16).

Aktivis Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Jawa Barat, Mohammad Roin Balad, mengungkapkan, jika fasilitas umum digunakan untuk kegiatan keagamaan, maka itu melanggar Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri.

“Ketika KKR mereka mengundang juga agama lain selain Kristen, sedangkan dalam SKB tiga menteri sudah jelas bahwa sebuah keyakinan agama tidak boleh mengundang atau mengajak agama lain ke kegiatan agamanya. Apalagi dilakukan secara massive dan terbuka seperti ini,” kata Roin. (Ahyar)

alterntif text

LEAVE A REPLY