68 Orang Meninggal Akibat Banjir Bandang

NTT Berduka, Pemerintah Didesak Tetapkan Status Bencana Nasional

Kupang, Akuratnews.com - Hujan deras disertai angin kencang menerjang Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Kota Kupang, hingga Minggu (4/4) tengah malam.

Akibat hujan disertai angin kencang ini mengakibatkan ruas jalan Timor Raya (Trans Timor) terendam air setinggi hampir 50 centimeter.

Kondisi ini semakin diperparah dengan naiknya air laut yang berada sekitar 200 dari beberapa ruas jalan Timor Raya.

Dari sebuah video amatir yang tersebar pada Minggu tengah malam, air menutupi seluruh jalan Timor Raya di km 10 hingga 35.

Bahkan di km 30 jalan Timor Raya diterjang banjir bandang dengan arus air yang cukup deras. Rumah-rumah warga di wilayah Noelbaki, Oesao dan Naibonat juga diterjang banjir bandang.

Sementara itu di Kota Kupang, ruas Jalan Timor Raya juga ditutupi air laut yang naik ke jalan raya. Berdasarkan pantauan, daerah kelurahan Oesapa hingga kelurahan Lasiana mengalami banjir akibat naiknya air laut.

Ratusan warga telah mengungsi ke tempat yang aman dan sebagian warga masih tetap bertahan. Daerah terparah yang digenangi air sejauh ini adalah kampung Nelayan Oesapa.

Air setinggi 80 centimeter telah menggenangi ratusan rumah warga. Kondisi ini semakin diperparah dengan naiknya air laut di pesisir pantai Oesapa.

Suasana makin mencekam karena lampu di kota Kupang turut padam sehingga membuat warga ibu kota provinsi NTT itu khawatir. Apalagi air laut juga telah naik sekitar tujuh meter ke pemukiman warga.

Kepala BPBD Kota Kupang, Jemmy Didok menyebut, hingga Minggu malam sudah lebih dari 734 rumah warga yang rusak akibat banjir, longsor dan angin kencang.

Dari 734 kepala keluarga ada 2.190 jiwa yang terdampak. Sehingga Kota Kupang telah menyatakan status tanggap darurat.

Jemmi menuturkan status tanggap darurat tersebut karena korban terdampak bencana terus bertambah sedangkan BPBD Kota Kupang tidak memiliki dana tanggap darurat dan keterbatasan personel.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sendiri telah menerbitkan peringatan dini atas potensi cuaca ekstrem di NTT pada Senin (5/4) dini hari.

Dalam konferensi pers secara virtual pada Minggu (4/4) malam, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati memaparkan peringatan dini pihaknya memaparkan mengenai pembentukan siklon tropis Seroja yang bisa memicu cuaca ekstrem dan menimbulkan bencana hidrometeorologi di wilayah NTT pada dini hari ini.

Siklon tropis yang semula tercatat sebagai bibit siklon tropis 99S itu kemudian disebut dengan nama Seroja-sesuai dengan urutan nama dari BMKG secara internasional.

Atas dasar potensi dari dampak siklon Seroja itu, Dwikorita meminta seluruh pemangku kepentingan memerhatikan keselamatan warga, terutama di pulau-pulau NTT.

"Pusaran anginnya mencapai 85 kilometer per jam agar benar-benar diwaspadai agar masyarakat dapat terlindungi, teramankan. Semoga tidak terjadi korban jiwa," kata dia.

BMKG menyatakan pihaknya sejak 2 April lalu telah mendeteksi keberadaan bibit siklon tropis 99 S yang mulai terbentuk di sekitar Laut Sawu, NTT.

Bibit siklon itulah yang kemudian memicu cuaca ekstrem di wilayah NTT sejak tiga hari terakhir, dan berdampak pada terjadinya bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah di sana.

Secara spesifik di wilayah NTT, BMKG menetapkan status potensi wilayah terdampak banjir kurun waktu 5-6 April 2021 adalah: Kupang dan Rote Ndao (siaga); Timor Tengah Utara, Timor Tengah Selatan, Sumba Timur, Ende, Sikka, Flores Timur, dan Lembata.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merilis update terkini bencana alam di NTT ini. Sebanyak satu kota dan 10 kabupaten di NTT terdampak banjir bandang.

Kota dan Kabupaten tersebut, yakni Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Malaka Tengah, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ngada, Kabupaten Alor, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupdaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Ende.

BNPB menyebutkan korban meninggal dunia masih dalam pendataan dan masih sangat dinamis. Hingga Senin sore ini, total 68 orang meninggal dunia dari beberapa wilayah.

Rinciannya sebagai berikut, 44 meninggal di Flores Timur, 11 di Lembata, 2 di Ende, 11 di Alor.

Jumlah korban luka-luka sebanyak 15 orang dengan rincian, 9 di Flores Timur, satu di Ngada, dan lima di Alor. Sementara sejumlah 70 orang masih dinyatakan hilang, dengan rincian 26 orang di Flores Timur, 16 di lembata, 28 di Alor. Total ada 938 KK atau 2.655 jiwa terdampak dan masih dalam pendataan.

Kerugian materiel yang tercatat yakni 25 unit rumah rusak berat, 114 unit rumah rusak sedang, 17 unit rumah hanyut, 60 unit teredam, 743 unit rumah terdampak, 40 titik akses jalan tertutup pohon tumbang, 5 jembatan putus, 1 unit fasum terdampak dan 1 unit kapal tenggelam.

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Melki Laka Lena mengatakan, terkait bencana alam di NTT ini, dirinya mengharapkan dukungan penuh pemerintah pusat dengan memberikan status bencana nasional.

"Kami meminta dukungan semua pihak," tandas Melki.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga