Cair Awal September, Korban Laka Laut di NTT Asal Sinjai Disantuni Rp180 Juta

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sinjai, Ghasali. /Ashari/AKURATNEWS.

AKURATNEWS - Kabar gembira bagi ahli waris tiga nelayan asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan yang mengalami kecelakaan laut di Perairan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam waktu dekat ini santunan Jaminan Kematian (JKM) dari BPJS Ketenagakerjaan akan segera dicairkan.

"Insya Allah awal September 2021, jaminan itu akan kita cairkan, meskipun sebelumnya terkendala berkas administrasi," ungkap Kepala BPJS Ketenagakerjaan Sinjai, Ghasali yang ditemui di ruang kerjanya, Senin (16/8/2021).

Ghasali menuturkan bahwa salah satu kendala sehingga santunan belum dicairkan adalah belum terbitnya surat keterangan hilang dari Basarnas Kupang NTT.

"Tapi alhamdulillah saat ini sudah ada. Basarnas Kupang sudah menerbitkan surat keterangan hilang yang diminta. Sekarang sisa menunggu surat keterangan aslinya dikirim," katanya.

BPJS Ketenagakerjaan memang memberikan waktu kepada Basarnas untuk mencari, jika tidak ditemukan, maka dikeluarkanlah surat keterangan hilang dari Basarnas.

"Ini menjadi dasar untuk pencairan program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sudah berlaku, karena sudah menjadi dasar kita untuk membayar manfaat program," terangnya.

Ghasali juga mengaku bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk mengumpulkan berkasnya dan bila sudah lengkap, akan segera diserahkan ke ahli warisnya.

"Begitu berkas lengkap, santunan dicairkan. Kami juga berupaya meminta kesediaan Bapak Bupati Sinjai untuk penyerahan santunan ke ahli waris para korban," katanya.

"Untuk besaran santunan, para ahli waris ketiga korban akan terima uang duka Rp60 juta, dan beasiswa diberikan kepada dua anak para korban. Biaya pendidikan sampai selesai kuliah yang besarannya Rp180 juta perorang," tambah Ghasali.

Seperti diketahui, tiga nelayan asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan mengalami kecelakaan laut di Perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 5 April 2021 lalu.

Kapal mereka tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi tujuh meter atau badai siklus seroja.

Ketiga Anak Buah Kapal (ABK) KM Brasil 77 asal Desa Tongke-tongke, Kecamatan Sinjai Timur itu adalah Amiruddin, Saiful, dan Abd. Majid.

Saat kapal mereka tenggelam, ketiga ABK ini hilang dalam peristiwa itu.

Kendati sejumlah warga dan pemerintah setempat maupun nelayan, termasuk Kepala Desa Tongke-tongke Sirajuddin ikut berlayar ke lokasi kejadian.

Namun hingga menjelang pulang, ketiga nelayan asal Tongke-tongke itu tak ditemukan mayatnya.

Penulis: Ashari

Baca Juga