China Umbar Ancaman, AS Tak Takut Kirim Kapal Induk ke Selat Taiwan

Kepala Operasi Angkatan Laut (CNO) AS Laksamana John Richardson. Akuratmews.com / Rio Wartono AS
Kepala Operasi Angkatan Laut (CNO) AS Laksamana John Richardson. Akuratmews.com / Rio Wartono AS

Tokyo, Akuratnews.com - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) tidak mengesampingkan untuk mengirim kapal induk ke Selat Taiwan meski China telah mengumbar ancaman dengan senjata canggih.

Beijing yang telah mengancam Taipei dengan kekuatan militer untuk reunifikasi telah memodernisasi senjatanya dengan misil DF-26 yang dijuluki sebagai "rudal pembunuh kapal".

Washington telah mengirim kapal-kapal perangnya melalui jalur laut strategis yang memisahkan Taiwan dari China (Tiongkok) daratan tersebut tiga kali sepanjang tahun lalu. Namun, Washington belum mengirim satu kapal induk dalam 10 tahun terakhir.

"Kami tidak benar-benar melihat batasan apa pun pada jenis kapal apa pun yang dapat melewati perairan itu," kata Kepala Operasi Angkatan Laut (CNO) AS Laksamana John Richardson kepada wartawan di Tokyo hari Jumat, ketika ditanya apakah senjata Tiongkok yang lebih canggih akan menimbulkan risiko yang terlalu besar.

"Kami melihat Selat Taiwan sebagai perairan internasional yang lain, jadi itu sebabnya kami melakukan transit," ujarnya, yang dikutip dari Reuters, Sabtu (19/1/2019).

Kapal induk Amerika biasanya dilengkapi dengan sekitar 80 pesawat jet tempur dan sekitar 5.000 awak—adalah kunci kemampuan militer AS untuk memproyeksikan kekuatan secara global.

Komentar Richardson tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan lintas selat di mana Beijing mengancam reunifikasi China dengan Taiwan, termasuk menggunakan kekuatan militer jika perlu.

Awal bulan ini Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengesampingkan penggunaan kekuatan militer dan bersikeras Taiwan harus dipersatukan kembali dengan daratan China.

Dia juga mengatakan Beijing memiliki opsi untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan terhadap pasukan eksternal yang melakukan intervensi untuk mencegah reunifikasi Taiwan dan China secara damai. Xi belum lama ini juga memerintahkan tentara militernya untuk siap perang.

Presiden Tawian Tsai Ing-wen telah menyerukan dukungan internasional dalam membela wilayah yang dia pimpin. Wilayah yang dianggap China sebagai provinsinya yang membangkang itu tetap menolak kebijakan "satu-China"

AS sendiri dalam sebuah laporan Badan Intelijen Pertahanan (DIA) menyebut Taiwan sebagai pendorong utama modernisasi militer Tiongkok.

Richardson, yang mengunjungi Tiongkok sebelum melakukan perjalanan ke Jepang, mengaku sudah menyampaikan kepada rekan-rekannya dari China bahwa Amerika Serikat menentang tindakan sepihak oleh Beijing atau pun Taipei.

Dia juga mendesak Tiongkok untuk tetap berpegang pada aturan internasional selama pertemuan di Beijing.

Permintaan Richardson itu muncul setelah sebuah kapal perang Tiongkok mendekati kapal perang Amerika, USS Decatur, pada Oktober lalu dan memaksanya untuk mengubah rute karena mendekati pulau yang diklaim Beijing di Laut China Selatan. Washington tetap menentang klaim teritorial Tiongkok di Laut China Selatan.

"Kami telah membuat ini sangat jelas bahwa ini adalah perjalanan, keberangkatan dari kepatuhan normal terhadap aturan-aturan itu dan kami berharap bahwa perilaku di masa depan akan jauh lebih konsisten," kata Richardson.

"Kita seharusnya tidak melihat satu sama lain sebagai kehadiran yang mengancam di perairan itu," imbuh dia.

Analis mencatat bahwa sikap yang lebih tegas baik AS dan China yang telah diadopsi di Taiwan cenderung meluas ke wilayah lain.

James Floyd Downes, seorang dosen ilmu politik komparatif di Chinese University of Hong Kong, mengatakan; "Masalah Taiwan kemungkinan akan bertindak sebagai penghalang utama antara kedua negara dan pada akhirnya menghentikan mereka dari bekerja sama. Bentrokan sangat jauh di cakrawala di masa depan antara China dan AS."

Downes juga berpendapat bahwa ketidaksepakatan mereka pada Taiwan kemungkinan akan mempengaruhi sikap mereka pada bidang-bidang lain seperti ekonomi dan perang dagang yang sedang berlangsung.

"Ini juga bisa berdampak buruk pada ekonomi global jika hubungan dingin berlanjut," kata Downes.

Ryo Hinata Yamaguchi, seorang profesor tamu di Universitas Nasional Pusan ​​di Korea Selatan dan asisten di Forum Pasifik, mengatakan komentar Richardson adalah sinyal yang jelas dari AS bahwa Washington tidak akan diintimidasi oleh kemajuan militer Beijing.

“Kedua belah pihak memandang satu sama lain sebagai pihak yang mengabaikan status quo. AS semakin khawatir tentang postur China terhadap Taiwan, dan respons Washington tentu akan memperburuk (sikap) Beijing," kata Ryo Hynata. (Rio)

Penulis:

Baca Juga