Aset dan Warisannya Disita Paksa

Datangi KSP dan MA, Wanita Asal Malang Ini Cari Keadilan

Jakarta, Akuratnews.com - Tak terima aset pribadi dan warisan orang tuanya dieksekusi Pengadilan Negeri (PN) Malang, wanita asal Malang, Valentina (60) bertandang ke Jakarta.

Wanita berstatus janda ini mendatangi sejumlah lembaga negara dan Istana Negara guna mencari dan mendapat keadilan.

Valentina menjelaskan, kejadian ini bermula pada 23- 25 Maret 2021 lalu. Saat itu kediamannya di Jalan Pahlawan Trip B8, Malang disita petugas Pengadilan Negeri Malang. Proses eksekusi empat aset miliknya yang melibatkan aparat gabungan, ormas, mobil pemadam kebakaran dan dua ekor anjing pelacak dinilainya tidak manusiawi.

Bahkan, pelaksanaan apel sebelum eksekusi di kediamannya yang dilakukan aparat lewat aksi perusakan kunci pagar dengan memotong gembok serta memadamkan listrik rumah membuat dirinya syok.

"Kegiatan tersebut terorganisir, terstruktur, masif dan sangat menakutkan. Saat kejadian saya tinggal seorang diri didalam rumah dengan dua orang asisten rumah tangga. Saya diperlakukan seperti teroris atau bandar narkoba dan dipaksa keluar dari rumah saya sendiri," ujar Valentina.

Sekedar diketahui, dalam perjanjian nikah yang dibuat antara dirinya dengan mantan suaminya, dijelaskan jika harta milik peninggalan orang tua Linna tidak termasuk dalam harta bersama.

Wanita yang akrab disapa Linna ini menilai, proses eksekusi cacat hukum. Karena dalam amar putusan peninjauan kembali perkara (PK) Nomor: 598 PK/PDT/2016.jo Penetapan Pengadilan Negeri Tuban Nomor 1/Pdt.Eks/2017/PN.Tbn.jo No 25/Pdt.G/2013/PN.Tbn tanggal 2 Mei 2017 tentang pelaksanaan eksekusi atas amar putusan PK No: 598/PK/PDT/2016 yang non eksekutibel.

"Artinya kan eksekusi tersebut tidak dapat dilaksanakan karena tidak menyebutkan tentang barang yang akan dilelang. Dasarnya apa pengadilan menjebol kediaman saya dan melakukan lelang," tambahnya.

Suasana eksekusi rumah Valentina di Jl Pahlawan Trip B8, Malang, beberapa waktu lalu.

Mirisnya, pemenang aset yang dilelang pengadilan adalah anak tiri mantan suaminya yang merupakan hasil pernikahan mantan suaminya dengan wanita lain.

"Ini hanya arogansi dan kesewenang wenangan aparatur saja di Malang. Saya tidak menerima uang sepeserpun. Berarti kan ini terjadi penyerobotan," tambahnya.

Linna mengaku dirinya sempat mengadu Ke Pengadilan Tinggi Surabaya Desember 2020 untuk mengklarifikasi masalah tersebut. Pada 8 Januari 2021 dirinya memenuhi panggilan klarifikasi pengaduan di Pengadilan Tinggi Surabaya dan telah diperiksa badan pengawas. 22 Maret 2021 dirinya menanda tangani laporan hasil pemeriksaan dengan hasil positif aset miliknya tidak dapat dieksekusi.

Rabu (7/4) lalu, Valentina bersama pengacaranya juga sudah mengadukan masalah ini ke Kantor Staf Presiden (KSP) dan Mahkamah Agung (MA).

"Saya sudah memberikan bukti semuanya. Sampai sekarang hasil klarifikasi belum diberikan ke kami katanya masih berada di Mahkamah Konstitusi (MK). Saya juga sempat datang ke MK. Saya harap kasus ini mendapat perhatian dari Presiden Jokowi)," pungkasnya.

Penulis: Rianz
Editor: Redaksi

Baca Juga