Debat Sengit Dengan Eggy Sudjana, Boni Hargens “Walk Out”

Boni Hargens (dua dari kanan) saat menghadiri diskusi di Museum Kebangkitan Nasional, Jumat (24/8/2018). Ia mendadak keluar ruangan diskusi saat berdebat dengan Eggy Sudjana (tiga dari kanan). Foto: Yusuf Tirtayasa/Akuratnews.com

Jakarta, Akuratnews.com - Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI), Boni Hargens tiba-tiba memilih keluar ruangan ketika terlibat debat sengit dengan Politikus PAN Eggy Sudjana.

Peristiwa itu terjadi dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) bertajuk 'Menjunjung Tinggi Komitmen Kebangsaan dan Kebhinekaan, dalam Rangka Mewujudkan Pemilu 2019 yang Damai dan Berkualitas'.

Diskusi digelar di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (24/8/2018) sore. Turut hadir narasumber lain yakni mantan Politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul, Humas PA 212 Novel Bamukmin dan Pegiat Media Sosial Permadi Arya.

Awalnya, diskusi berlangsung santai dengan Novel sebagai pemapar pertama. Kemudian, tiba giliran Boni yang memaparkan bahwa dinamika ideologi terjadi ketika Tim 9 merumuskan dasar negara pada tanggal 22 Juni 1945 dan melahirkan Piagam Jakarta.

Ia menyebut ada beberapa ketentuan yang kontroversi di dalamnya, salah satunya sila pertama, ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Kedua, presiden Indonesia harus muslim.

Dua ketentuan ini menurutnya memicu pertentangan yang cukup tajam diantara kelompok nasionalis dan religius. Boni lalu menyebut Bung Karno pada 18 Agustus 1945 memutuskan ketuhanan yang maha esa, bukan klausul Piagam Jakarta, dan presiden Indonesia asli Indonesia, tidak perlu embel-embel agama.

"Sejarah soal kebangkitan agama di dalam politik adalah sejarah yang panjang. Tetapi Islam Indonesia adalah Islam yang inklusif," kata Boni.

Islam Indonesia menurutnya Islam yang kompatibel dengan demokrasi dan menghargai keberagaman. Indonesia, jelas Boni, bukan bagian dari Timur Tengah. "Bangsa-bangsa Timur Tengah tidak pernah perduli dengan sejarah kita," ucapnya.

Barulah giliran Eggy yang menyatakan bahwa dalam konteks komitmen, kebangsaan ini satu mata koin yang di baliknya merupakan keumatan. Ia menegaskan tidak bisa membicarakan bangsa Indonesia dengan melupakan keumatan.

"Karena faktanya, tidak bermaksud minoritas mayoritas, faktanya mayoritas Islam. Jadi kalo bicara Indonesia yang mayoritas umat Islam, jadi ide kebangsaannya.." papar Eggy yang tiba-tiba argumennya dipotong oleh Boni.

"Di sini, di sini saya potong. Saya sebentar, biar jelas" kata Boni.

"Enggak, diam dulu" sahut Eggy.

Moderator yang melihat perdebatan keduanya lantas meminta Boni memberi waktu untuk Eggy menyelesaikan paparannya. Peserta diskusi yang menyaksikan sontak riuh bertepuk tangan. Tampak seorang peserta maju kedepan dan meminta Boni menghormati moderator.

"Kita bersahabat sebangsa setanah air. Jadi jangan memicu konflik gitu loh," tukas Eggy.

Dalam konteks koin, lanjut dia, kebangsaan dan keumatan tidak bisa dipisah karena menyatu sebagai bangsa Indonesia. Anggota Dewan Penasihat PA 212 itu juga menjelaskan dalam konteks perjalanan sejarah, memang Presiden Soekarno yang awal mencetuskan Pancasila.

"Tapi ingat, pada tanggal 1 juni 1945, Soekarno menempatkan Tuhan nomor lima, tidak ada maha esanya," terang Eggy.

Tak lama kemudian, Boni beranjak keluar begitu saja dari diskusi tanpa pamit ke narasumber lain dan tidak kembali hingga acara usai. "Bagaimana si Boni itu? ucapnya ke Permadi.

"Kau kasih tau tu. Istilahnya udah berak gak disiram, maen pergi aja," kesal Eggy. (Ysf)

Penulis:

Baca Juga