oleh

Defisit Neraca Perdagangan Molonjak Drastis

Jakarta, Akuratnews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan hari ini, bahwa terjadi defisit pada neraca dagang pada Oktober 2018. Defisit tersebut mencapai US$ 1,82 miliar. Jauh diatas consensus pasar yang memperkirakan defisit hanya sebesar US$ 62,5 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan ekspor tumbuh tipis namun impor pertumbuhannya lebih cepat. Ada peningkatan impor minyak mentah, hasil minyak dan gas. Alhasil, selama Oktober 2018 ekspor tercatat US$ 15,80 miliar sedangkan impor US$ 17,62 miliar.

Lebih jauh dikatakan olehnya bahwa ada empat komoditas yang mengalami peningkatan harga dari September 2018 ke Oktober 2018. Empat komoditas tersebut yaitu, tembaga, perak, seng, dan emas. Sementara komoditas non migas yang turun antara lain minyak kernel, batu bara, dan minyak sawit.

Suhariyanto mengungkapkan ekspor pada Oktober 2018 mencapai US$ 15,80 miliar atau tumbuh 3,59% (year on year). Ekspor diramal tumbuh dalam kisaran terbatas yaitu 1,4% year-on-year (YoY). Kemudian impor diproyeksikan masih tumbuh dua digit yaitu 10%. “Untuk ekspor non-migas mencapai US$ 14,32 miliar pada Oktober 2018,” kata Suhariyanto.

Nilai ekspor migas secara year on year turun 0,44%, pertanian anjlok 9,52%, pertambangan terkoreksi 1,58%. Sementara yang mengalami peningkatan adalah industri pengolahan naik 5,71%. “Jadi secara total ekspor naik 3,59% year on year,” kata Suhariyanto.

Sementara untuk Impor, Suhariyanto mengatakan selama Oktober 2018 impor tumbuh 23,66% (year on year) mencapai US$ 17,62 miliar. “Impor migas US$ 2,91 miliar sedangkan impor non migas US$ 14,71 miliar,” katanya. Ia menambahkan bahwa, impor yang tumbuh paling kencang adalah barang modal yakni 28,58% year on year. Adapun impor barang konsumsi meningkat 20,04% dan bahan baku/penolong tumbuh 23,10%. (LH)

Komentar

News Feed