Bursa

Dolar AS Masih Kuat, Pasar Menantikan Data NFP

Jakarta, Akuratnews.com - Dolar AS dalam perdagangan hari Jumat (03/05) bisa melangkah lebih lebar lagi jika kita melihat laporan gaji nonpertanian (Nonfarm Payroll, NFP) yang kuat.

Zona Euro (ZE) tetap menjadi mata rantai terlemah dalam daftar negara maju, meskipun mereka telah menunjukkan sedikit keyakinan baru-baru ini, namun kita bisa melihat dalam perdagangan EURUSD bagaimana reaksi mata uang terkuat ini dengan laporan NFP. Diperkirakan setidaknya akan ada tambahan 190.000 pekerjaan pada bulan April, tetapi sebagian besar analis mengunggulkan kemungkinan angkanya justru lebih besar lagi mendekati 210.000. Jika NFP bisa meraih minimal diangka pertengahan, sebesar 200.000 maka EURUSD bisa tertekan ke 1,1050.

Sebagaimana dikatakan bahwa Zona Euro sedikit menunjukkan kepercayaan diri mereka setelah kabar mengatakan tentang sukses kepemimpinan di Bank Sentral Eropa. Gubernur Bank Sentral Jerman, dikabarkan menjadi kandidat kuat menggantikan Mario Draghi, yang masa jabatannya akan berakhir pada Oktober nanti.

Weidman menyampaikan komentar yang sangat optimis dari Jerman, menurutnya perlambatan pertumbuhan Jerman hanya bersifat sementara dan tingkat konsumsi masyarakat bisa mengatasi pelemahan ini. Weidmann, adalah seorang Hawkish sebagaimana pendapatnya mengenai kebijakan moneter ECB. Menurutnya Bank Sentral Eropa ini eharusnya tidak menunda normalisasi kebijakan jika inflasi memungkinkannya. Dia tetap khawatir jika sikap kebijakan moneter yang luar biasa ekspansif tetap terlalu lama, risiko dan efek samping akan tumbuh.

Pesaing Weidman adalah Gubernur Bank Sentral Finlandia, Rehn, yang memperingatkan setiap reaksi berlebihan terhadap data zona euro yang membaik minggu ini. Euro kemungkinan akan melemah seandainya Rehn menggantikan Draghi. Sementara penguatan bisa terbuka juka Weidmann yang terpilih.

Bursa saham AS melanjutkan penurunannya. Indeks S&P 500 mundur dari rekor tertinggi setelah komentar Gubernur Bank Sentral AS, Jerome Powell yang menurunkan harapan akan penurunan suku bunga. Bursa saham memang terhimpit sejumlah faktor yang berpotensi melemahkannya termasuk dengan laporan bahwa pembicaraan perdagangan AS – China mungkin telah menemui jalan buntu.

Namun artikel lengkap dari Global Times tidak separah judul berita yang menjadi fokus banyak orang tersebut. Hingga kini, baik AS dan China masih tetap berkomitmen untuk melakukan pembicaraan dan putaran pembicaraan berikutnya akan berlangsung di Washington minggu depan.

Dalam perdagangan di bursa komoditi, harga emas masih tertahan di dekat posisi terendah tahun ini karena investor melepas harapan akan penurunan suku bunga FED paska pernyataan Jerome Powell. Logam mulia juga mengalami kesulitan karena harga saham melonjak ke rekor tertinggi dan sebagian besar sumber sentiment penghambat dari tahun lalu tampaknya akan beralih ke menariknya. Keyakinan pasar akan kesepakatan perdagangan tetap kuat, meski Cina tidak lagi melakukan deleveraging dan The Fed telah mengecup kenaikan suku bunga.(HQM)

Penulis:

Baca Juga