Opini

Hanya Satu Bumi

Siswa-siswi SMP Sekolah Citra Berkat, CitraRaya, Tangerang menanam tanaman di area sekolah
Siswa-siswi SMP Sekolah Citra Berkat, CitraRaya, Tangerang menanam tanaman di area sekolah

Oleh: Thio Hok Lay, S. Si
Koordinator Guru Biologi, Teaching Learning Curriculum Department, Yayasan Citra Berkat, Jakarta

AKURATNEWS - Pengabaian atas kondisi lingkungan hidup sama halnya dengan menelantarkan kehidupan dan masa depan. Mengingat kelangsungan kehidupan dan masa depan umat manusia dunia terkait erat dengan kelestarian sumber daya alam dan kualitas daya dukung lingkungan.

Di masa transisi pemulihan kesehatan dunia dari pandemi ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) – 5 Juni 2022 yang diselenggarakan di Swedia sebagai tuan rumah, mengusung tema “Only One Earth”, fokus pada hidup berkelanjutan dalam harmoni dengan alam.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kembali kesadaran global atas upaya menjaga dan merawat lingkungan, baik bagi diri sendiri maupun bagi generasi mendatang.

Dalam upaya memenuhi keinginan dan kebutuhan hidup, acapkali menjebak dan memerangkap manusia untuk melakukan aneka tindakan yang berujung pada kerusakan lingkungan.

Lingkungan hidup telah diposisikan sebagai objek yang dapat dieksploitasi guna memuaskan keinginan manusia yang tak pernah mengenal rasa cukup dan puas.

Terkonfirmasi melalui buku “Bumi yang terdesak”, bahwa populasi manusia tidak hanya tumbuh secara eksponensial, tetapi gaya hidup dan pola konsumsi manusia telah mendorong munculnya teknologi yang semakin merusak lingkungan, seperti berlubangnya ozon dan kemungkinan perubahan iklim akibat ulah manusia (Chapman dkk, 2007).

Lay (2022) dalam artikel “Investasi, kesetimbangan, dan kontinuitas bumi” (Jakarta Post, 22 April) mengulas bahwa apabila tak dikendalikan, perubahan iklim (climate change) akibat pemanasan global (global warming), kasus penebangan liar (illegal logging) akan mempercepat kerusakan lingkungan dan kiamat dunia.

Terkait hal ini, Indonesia sebagai negara megabiodiversitas kedua terbesar di dunia setelah Brasil, perlu menjaga, merawat, dan melestarikan kekayaan alam yang ada untuk kesejahteraan bangsanya.

Berharap dimampukan untuk mengurai aneka problematika dan tantangan lingkungan saat ini, seperti: Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung, pemanfaatan abu vulkanik gunung berapi sebagai bahan semen, evaluasi rehabilitasi hutan mangrove, penambangan bawah laut, dan alternatif penggunaan hidrofluorokarbon (HFC) untuk air conditioner (AC).

Peran pendidikan

Pendidikan lingkungan menjadi isu global yang penting dan mendesak untuk mendapatkan perhatian serius.

Dibutuhkan kesadaran global umat manusia sejagad untuk mengembalikan kesetimbangan ekosistem akibat krisis iklim yang berimbas terhadap keterancaman dan kepunahan jutaan keanekaragaman hayati tingkat species (species biodiversity).

Ki Hadjar Dewantara (1940), tokoh pendidikan nasional menganalogikan proses pengajaran dan pendidikan serupa dengan aktivitas bercocok tanam. Padanan kata asing untuk menjelaskan pendidikan adalah “cultiveren” atau “veredelen”, yang berarti mempertinggi nilai, harga, dan derajat suatu tanaman -- diserap dari bahasa Latin “colere” yang berarti memperbaiki hidup tanaman.

Artinya, sejak semula, gagasan pendidikan nasional sebagai usaha pembangunan sumber daya manusia berpihak pada kelestarian alam guna kelangsungan kehidupan secara tertib dan damai.

Butet Manurung, aktivis pendidikan menyatakan bahwa pendidikan adalah kunci bagi masyarakat adat untuk melindungi hutan kita.

Saat ini, tindakan pengawahan hutan (deforestasi) dan penebangan liar (illegal logging) yang dilakukan oleh para penjahat lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas tertangani.

Akibatnya, menjadikan hutan kehilangan fungsi utama sebagai pengatur siklus hidrologi. Hutan kehilangan peran tajuk dan perakaran sebagai filter alami atas pukulan air hujan dan sebagai penghambat arus permukaan (run off). Selanjutnya, gangguan atas siklus hidrologi akan berdampak terhadap kerusakan lingkungan yang lebih luas (global).

Melalui peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, saatnya bagi masyarakat global untuk bersama-sama mengawal implementasi dekade Restorasi Ekosistem PBB 2021 – 2030 yang menitikberatkan pada relasi manusia dengan alam semesta, khususnya terkait pemulihan daya lenting lingkungan; kemampuan lingkungan untuk dapat pulih kembali setelah terjadi gangguan atasnya.

Upaya restorasi ekosistem bisa dimulai dengan menerapkan gaya hidup hijau; model gaya hidup keseharian yang ramah lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya, memanfaatkan kembali barang yang telah terpakai (Reuse), pendaurulangan limbah rumah tangga (Recycle), gemar dan giat menanam pepohonan di lahan kritis (Reboisasi), serta pemanfaatan sumber daya alam secara tepat guna dan tidak boros.

Dengan demikian, kesetimbangan dan kelestarian lingkungan hidup akan terjaga. Mengingat bumi kita hanya satu.

Dan saat ini, kita sedang meminjamnya dari anak cucu kita, dan wajib untuk mengembalikan berikut dengan bunganya.

Untuk itu, mari kita jaga dan rawat lingkungan hidup dengan baik; untuk kelangsungan kehidupan di masa kini dan nanti.***

Penulis: Thio Hok Lay, S. Si
Editor: Ahyar

Baca Juga