Opini

Indonesia: Dahulu Raja Minyak, Sekarang?

Harga minyak mentah terkoreksi tipis, menjelang hasik pertemuan KTT OPEC di Wina dilakukan. (Hqeem/Foto Istimewa)
Kilang minyak dilepas pantai (Hqeem/Foto Istimewa)

Akuratnews.com - Minyak merupakan salah satu kebutuhan penting bagi manusia, hampir seluruh kegiatan sehari-hari, baik konsumsi maupun produksi membutuhkan minyak sebagai bahan energi. Maka dari itu, jumlah persediaan minyak bumi selalu dijaga sebaik mungkin, agar harga minyak dapat selalu stabil.

Belum lama ini sedang ramai pemberitaan mengenai serangan drone terhadap kilang minyak milik Arab Saudi (Saudi Aramco) yang berimbas pada melonjaknya harga minyak dunia hingga 15 persen. Hal ini tidak mengherankan melihat Arab Saudi merupakan motor dari produksi minyak di dunia. Indonesia sendiri termasuk salah satu pengimpor minyak dari Arab Saudi, dan tentu saja nasib dunia perminyakan Indonesia sebagian besar bergantung pada negara ini.

Melemahnya Minyak Indonesia

Indonesia pernah menjadi menjadi salah satu negara penghasil minyak yang cukup besar di dunia. Dapat dilihat dari sejarah keikutsertaannya dalam organisasi pengekspor minyak bumi, yakni OPEC. Periode kejayaan minyak bumi di Indonesia sendiri adalah pada tahun 1970an hingga awal 2000an, produksi minyak bumi Indonesia mampu melebihi angka 1 juta barel per hari. Namun semakin melemahnya nilai rupiah sejak krisis moneter membuat nilai produksi minyak di Indonesia menurun. Selain itu juga dapat dilihat dari bertambahnya peningkatan jumlah penduduk Indonesia yang menyebabkan permintaan konsumsi minyak yang semakin tinggi, tetapi pada jumlah produksi minyaknya justru menurun. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2002 jumlah produksi minyak dan kondensat menurun sebesar 82,8 juta atau 17,25 persen dari tahun sebelumnya. Angka ini merupakan penurunan terbesar selama 20 tahun terakhir.

Penurunan yang terus menerus terjadi pada perminyakan Indonesia membuat Indonesia harus mengimpor minyak dengan negara lain, bahkan membuat neraca perdagangan migas menjadi defisit dan memutuskan untuk membekukan keanggotaannya dalam OPEC. Tahun 2014 Indonesia mengaktifkan status keanggotaannya dalam rangka menaikkan kembali nilai produksi minyak Indonesia. Namun sayangnya tahun 2016 OPEC mengeluarkan kebijakan untuk memangkas produksi minyak bumi untuk memulihkan harga minyak yang berada di titik terendah. Hal ini akhirnya membuat Indonesia kembali memutuskan membekukan keanggotaannya dalam organisasi pengekspor minyak tersebut.

Faktor Geopolitik

Pelemahan nilai produksi minyak bumi di Indonesia juga tidak hanya dikarenakan faktor dalam negeri tentunya. Banyak faktor yang memengaruhi sensitivitas minyak bumi di Indonesia, termasuk faktor geopolitik yang terjadi.

Ketegangan di Timur Tengah merupakan faktor yang memberi pengaruh besar pada fluktuasi harga pasar bahkan hingga tingkat kurs saat ini. Serangan drone yang dialami Arab Saudi juga diduga merupakan salah satu ketegangan yang terjadi. Harga minyak Indonesia yang melonjak tajam periode September 2019 salah satunya juga dikarenakan adanya insiden ini. Faktor geopolitik ini juga tidak hanya datang dari Timur Tengah. Perang dagang antara AS dengan Tiongkok pun ikut serta dalam penurunan harga minyak dunia saat ini.

Minyak Bumi Indonesia Saat Ini

Bagaimana nasib perminyakan Indonesia sendiri akhir-akhir ini? Berdasarkan publikasi yang dikeluarkan BPS, neraca perdagangan pada bulan Agustus 2019 memperlihatkan bahwa sektor migas mengalami defisit sebesar 755,1 juta USD. Nilai produksi lapangan usaha migas juga mengalami tren penurunan selama setahun terakhir, yakni sebesar 4,11 persen sejak triwulan kedua 2018 hingga triwulan kedua 2019. Bahkan berdasarkan Kementerian ESDM jumlah cadangan minyak terbukti di Indonesia tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 1075,9 juta barel atau 25,43 persen sejak tahun 2010. Hal ini menunjukkan kondisi lapangan usaha migas yang masih terun mengalami penurunan.

Kendati faktor sentimen geopolitik memengaruhi sebagian besar harga minyak dunia bahkan Indonesia, Indonesia selalu berusaha mengantisipasi setiap fenomena nilai produksi minyak bumi. Salah satunya adalah dengan terus mencari dan menggali cadangan minyak potensial yang tersebar di seluruh Indonesia. Dapat dilihat dari angka cadangan minyak potensial Indonesia yang dikeluarkan Kementerian ESDM tahun 2018 yakni sebesar 4357,9 juta barel, angka ini terus menerus mengalami peningkatan selama 8 tahun terakhir dibandingkan tahun 2010 yakni sebesar 3534,3 juta barel.

Minyak bumi mungkin diharapkan mampu menjadi andalan devisa negara, namun jangan sampai lupa bahwa minyak bumi akan habis jika dikuras terus menerus. Perlu diadakan pengadaan energi alternatif sebagai solusi dari penurunan nilai produksi minyak bumi ini. Selain menjadi ladang devisa negara yang baru dan penghematan pengeluaran impor minyak bumi, energi alternatif ini tidak perlu dikhawatirkan ketersediaan karena merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Penggunaan biodiesel, misalnya, yang mulai mendapat respons positif dari pemerintah. Tercatat bahwa pemerintah mampu menghemat 831 juta USD pada tahun 2013 dalam peningkatan produksi biodiesel. Hal ini tentunya menjadi pintu masuk yang baru dalam kemajuan energi terbarukan di Indonesia.

Diharapkan Indonesia tidak terus menerus fokus dalam permasalahan minyak bumi saja, namun juga fokus terhadap bagaimana peningkatan energi alternatif sebagai bentuk antisipasi dalam menghadapi kelangkaan minyak bumi di masa mendatang dan pengurangan angka impor minyak. Kondisi ini harus terus menerus diperhatikan lebih jauh lagi mengingat kondisi sumber daya alam Indonesia yang sebenarnya kaya, dan tentunya, tidak hanya dalam minyak bumi saja, energi alternatifnya pun tak kalah melimpah.

Baca Juga