oleh

Ini Penjelasan Lengkap BI Soal Inflasi dan Keperkasaan Rupiah

Jakarta, Akuratnews.com – Bank Indonesia (BI) menilai instrumen pasar valas yang dikeluarkannya menjadi obat kuat yang manjur untuk mengerek penguatan rupiah sejak diterapkan satu hari lalu.

Bank sentral menilai penguatan tersebut tak lepas dari kontribusi perbankan dan pelaku pasar keuangan yang aktif dalam menggunakan instrumen ini.

Begini penjelasan Gubernur BI Perry Warjiyo terkait dengan penguatan rupiah yang disumbang oleh instrumen barunya ini :

Mengenai nilai tukar stabil dan bahkan menguat. Saat ini kalau spot diperdagangkan di Rp 15.090. Yang penting itu justru yang ingin saya sampaikan DNDF-nya ya.

Domestic Non-Delivery Forward setelah kita operasional setelah peratiran BI kita keluarkan di akhir Oktober, setelah kemudian secara intensif mempersiapkan dengan perbankan dan pasar dan Senin kemarin mulai dioperasionalkan.

Kemarin ada 11 bank transaksi. Saat ini DNDF diperdagangkan 15.120/US$ jadi ini menguat, tidak hanya DNDF, yang offshore juga ikuti penguatan.

Pergerakan pasar sangat bagus supply dan demand bergerak jadi ini penguatan rupiah memang murni mekanisme pasar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya sampaikan terima kasih kepada kalangan perbankan dan pelaku pasar keuangan dan korporasi yang juga secara aktif bertransaksi di pasar valas.

Bagi korporasi sekarang transaksinya tidak cuma spot tunai, tidak juga swap tapi juga bisa melakukan secara DNDF. Termasuk juga para eksportir juga bisa menjual secara forward menambah supply di DNDF, yang selama ini kan bisa menjual secara spot secara swap.

Sekarang korporasi juga bisa jual menjual secara DNDF ke depan. Ini semakin memperkaya instrumen pasar valas. Oleh karena itu ini merupakan hasil kerja bersama BI dengan perbankan dan korporasi yang terus membaik.

Sementara itu, dalam satu minggu terakhir terjadi aksi beli (net buy) dari asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dengan demikian terjadi aliran dana masuk (capital inflow) dari asing ke instrumen ini.

Menurut Perry, tingginya capital inflow di pekan ini karena meningkatnya kepercayaan pasar seiring dengan mulai menguatnya rupiah oleh langkah-langkah yang dilakukan pemerintah bersama dengan BI :

Di SBN minggu ini ada masuk dana Rp 1,9 triliun modal asing masuk ke SBN. Sehingga keseluruhan year to date (ytd) perhitungan kami secara netto ada aliran modal asing ke SBN kurang lebih Rp 28,9 triliun. Sehingga ini juga mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Jadi stabilitas nilai tukar rupiah itu respon confident pasar terhadap langka-langkah kebijakan koordinatif yang dilakukan BI dan juga bersama dengan pemerintah baik di kebijakan moneter, fiskal maupun langkah konkrit yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan current account deficit (CAD).

Seperti saya sampaikan CAD memang kalau triwulan 3 nilainya masih memang lebih tinggi dari triwulan 2. Tentu saja karena ini karena ada pengaruh Juli-Agustus sehingga secara PDB itungannya CAD di triwulan 3 itu kurang dari 3,5% dari PDB. Untuk keseluruh tahun 2018 itu CAD-nya kurang dari 3% dari PDB. Untuk 2019 dengan langkah-langkah tadi CAD di 2019 sekitar 2,5% dari PDB. Dan ini secara fundamental adalah memperkuat stabilitas ekonomi kita, termasuk juga stabilitas rupiah.

Kemudian, untuk laju inflasi sepanjang bulan lalu lebih tinggi dibanding dengan perkiraan indeks harga konsumen (IHK) yang dikeluarkan kan oleh BI. Selisih IHK dengan hasil inflasi dari BPS ini disebutkan oleh kontribusi bensin yang lebih tinggi dari perkiraan BI :

Kemarin BPS sudah mengeluarkan inflasi 0,28%. Kalau kita bandingkan dengan survey pemantauan harga, minggu lalu survey pemantauan harga itu 0,20%. Selisihnya 0,08% itu antara lain karena ternyata bensinnya lebih tinggi yang kita perkirakan hanya 0,02% ternyata memang kontribusi bensin itu 0,08% dari 0,28% IHK-nya.

Tapi inflasi secara keseluruhan masih rendah dan terkendali stabil, sehingga masih dikonformasi perkiraan kami akhir tahun ini tidak akan lebih atau di bawah 3,5% dari PDB. Sehingga memang di bawah titik tengah dari kisaran sasaran inflasi untuk tahun depan kita perkirakan akan berada di kisaran sasaran inflasi 3,5% dari PDB.

Komentar

News Feed