Media Berperan Aktif Dalam Meredam Hoaks dan Mewujudkan Sejuknya Perdamaian di Papua

Jakarta, Akuratnews.com - Pergolakan yang terjadi di tanah Papua dan Papua Barat belakangan ini harus menjadi perhatian semua kalangan.

Tanggungjawab demi damainya Papua tentu saja bukan hanya dari Pemerintah semata, melainkan peran serta seluruh komponen bangsa yang juga harus ikut merawat Papua serta tidak boleh ada ujaran rasisme serta hoaks.

Sebab, ujaran rasisme dan hoaks menjadi salah satu intrumen yang berpotensi besar dalam perpecahan antar anak bangsa.

Paparan tersebut disampaikan sejumlah narasumber pada diskusi publik bertajuk "Peran Aktif Media Dalam Meredam Hoaks Dan Mewujudkan Perdamaian di Papua" dengan sejumlah narasumber yakni Staf Ahli Sekjen Kemenkominfo RI Hendrasmo dan Tokoh Pemuda Papua, Yulianus Dwaa, yang diselenggarakan oleh Pustaka Institute di Hotel Sofyan Soepomo, Tebet, Selatan, Selasa (24/9).

Dalam diskusi tersebut Hendrasmo bahkan memaparkan betapa bahayanya hoaks dan ujaran rasisme, karena terbukti, karena hoak dan ujaran rasisme mengakibatkan terjadinya kerusuhan di Wamena hingga berdampak pada 22 orang meninggal dunia akibat demonstrasi anarkis yang dipicu hoaks dan ujaran rasisme tersebut.

"Kita melihat peristiwa pekan ini betapa hoaks, kabar tidak utuh, diamplifikasi itu memicu konflik lebih luas. Ini bukan pertama kali, pada bulan Agutus juga sama," papar Hendrasmo.

Lebih lanjut Hendrasmo menyampaikan peristiwa dan pergolakan masyarakat Papua akhir-akhir ini tidak berdiri sendiri, namun saling memiliki keterkaitan antara satu sama lain, yang tujuannya untuk memecah belah persatyan bangsa.

Bahkan lebih lanjut Hendrasmo menyatakan selain ada yang mendesain, peristiwa tersebut juga ada yang menjadi aktor baik di dalam maupun di luar.

Begitupula halnya dengan provokasi yang juga dirasakan cukup masif disaar ada sedikit letupan peristiwa yang terjadi.

"Jadi hoaks ini menjadi instrumen pemecah belah bangsa. siapa desainernya walau kita sadar ini tidak berdiri sendiri," kata Hendrasmo.

Selain itu Hendrasmo menambahkan bahwa Pemerintah terus mengajak anak bangsa menghindari hoaks.

Oleh sebab itu Hendrasmo menyerukan, jika menemukan berita informasi, baik di medi sosial internet, maka terlebih dahulu harus diverifikasi sebelum berita tersebut dishare lebih lanjut.

"Kominfo, pak Jokowi menyerukan senantiasa hati-hati terhadap hoaks. cek setiap kabar, setiap informasi yang belum tentu benar," seru Hendrasmo.

Selain itu, Hendrasmo juga meminta media tidak ikut berperan dalam menyejukkan situasi Papua.

Karena Media harus memiliki nasional interest dalam setiap menyampaikan informasi kepada masyarakat.

"Media mestinya punya nasional interest. kita dengungkan ke media. Papua bagian dari NKRI. kita punya tanggungjawab sosial dan kesejarahan kita" himbau Hendrasmo.

Sementara itu, Yulianus Dwaa mengatakan bahwa persoalan di Papua cukup kompleks, diantaranya dari sekian banyak persoalan Papua adalah persoalan ideologi dan kepemimpinan otoriter, yang diwariskan kolonial Belanda.

Bukan hanya itu saja, Yulianus menambahkan persoalan lainnya yang mendasar adalah otonomi khusus dan kesenjangan sosial masyarakat.

Karena menurut Yulianus, semua persoalan mendasar di bumi cendrawasih tersebut harus menjadi perhatian serius Pemerintah.

"Media juga harus memiki visi yang jelas untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sampai sekolah-sekolah. Negara tidak perlu ragu membangun papua. Tapi kita juga harus berpikir bagaimana tetap menjadikan Papua bagian dari NKRI. Kita tak perlu ragu menyelamatkan Papua," pungkas Yulianus.

Penulis: Ahyar
Editor: Maria Machdalena
Photographer: Ahyar

Baca Juga