Mencegah ISIS Bergeser ke Asia Tenggara

ISIS

Jakarta,  Akuratnews.com - Tekanan pasukan koalisi di Irak dan Suriah mulai merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai ISIS. Mosul, kota yang menjadi pusat pertahanan kelompok radikal ISIS, mulai direbut oleh pasukan Irak. Sebelumnya kota Dabiq, salah satu kota penting bagi ISIS direbut oleh pasukan pembebasan Suriah yang didukung oleh pihak militer Turki. Aleppo kota pertahanan ISIS di Suriah juga sudah mulai direbut oleh pasukan tentara Suriah. Lepasnya kota Mosul, Allepo, Dabiq dan daerah lainnya dari kelompok ISIS adalah tanda kekalahan ISIS.

Rekonsiliasi antara Rusia dan Turki membuat serangan dan perlawanan terhadap ISIS semakin masif. Kuatnya Turki memproteksi masuknya simpatisan ISIS berdampak signifikan untuk mengurangi kekuatan ISIS. ISIS benar-benar terjepit, serangan datang dengan masif, dan bantuan kekuatan dihambat.

Kelompok-kelompok radikal di berbagai negara yang bersimpati dan berafiliasi dengan ISIS mulai kesulitan untuk bergabung dengan kekuatan ISIS di Irak dan Suriah. Daya tarik ISIS semakin menurun, simpatisan pun mulai meninggalkan medan perang ISIS di Irak dan Suriah. Hancurnya kelompok ISIS di Irak dan Suriah tinggal menunggu waktu.

Aksi-aksi teror ISIS di berbagai negara  menandakan kekuatan ISIS di Irak dan Suriah sudah tercerai berai. ISIS ingin tetap menunjukkan eksistensinya kepada dunia dengan melakukan teror di banyak negara. Perintah dari pimpinan ISIS dikeluarkan kepada simpatisan di banyak negara untuk melakukan aksi teror di wilayahnya masing-masing.

Teror dilakukan supaya dunia internasional melihat bahwa ISIS masih ada dan mempunyai kekuatan. Teror atas nama ISIS tidak hanya dilakukan oleh combatan ISIS, namun dilakukan juga oleh pelaku tunggal (lone wolf) yang bersimpati dengan ISIS. Namun ISIS tetap tidak bisa mengingkari realita bahwa kondisinya semakin terdesak.

Ketika ISIS tertekan di Irak dan Suriah, maka sesuai dengan teori balon, ISIS akan berkembang di tempat lain. ISIS akan memilih tempat yang strategis seperti adanya dukungan dari masyarakat, dukungan logistik, tempat startegis untuk kaderisasi dan latihan, sulit dijangkau oleh pasukan oposisi dan harus bernilai strategis untuk menunjukkan eksistensi.

Asia Tenggara

Jika dilihat dari kebutuhan ISIS terhadap sebuah tempat baru pasca Irak dan Suriah sudah direbut oleh pasukan koalisi internasional maka kemungkinan ISIS akan menggeser kekuatannya ke tempat lain, dan Asia Tenggara adalah salah satu kemungkinannya. ISIS mempunyai loyalis dari Asia Tenggara. Keberadaan Katibah Nusantara yang dipimpin militan dari Indonesia di Suriah, yang  diperkirakan mempunyai kombatan sekitar 200 orang adalah sumber daya manusia yang cukup kuat.

Jika ISIS memang ingin menyiapkan Asia Tenggara sebagai daerah kekuasaannya maka ISIS akan mengirimkan kembali sekitar 200 kombatannya dari Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya untuk eksis di wilayah asalnya. Simpatisan ISIS tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga ada di Malaysia, Filipina dan Thailand.

Asia Tenggara sangat ideal bagi ISIS.  Simpatisan ISIS di Asia Tenggara termasuk militan, terutama yang berasal dari Indonesia. Hal ini terbukti dari aksi teror di Indonesia dalam satu tahun ini, mulai dari Thamrin, Surakarta, Medan, Tangerang, dan Samarinda, dan temuan di Majalengka membuktikan bahwa ISIS tidak hanya mempunyai kelompok-kelompok yang loyal, tetapi juga memiliki simpatisan perorangan yang fanatif dan radikal sehingga mau melakukan teror dengan metode lone wolf.

Asia Tenggara terutama Indonesia mempunyai daya tarik yang besar bagi ISIS. Jumlah penduduk yang besar dan kondisi geografis yang kaya akan sumber daya alam menarik perhatian kelompok radikal ISIS. Poso yang sempat menjadi basis dari kelompok Mujahidin Indonesia Timur, merupakan salah satu daerah yang dianggap strategis bagi ISIS. Hal ini dibuktikan dengan adanya orang dari suku Uighur yang bergabung dengan MIT.

Keberadaan orang dari suku Uighur di Poso menujukkan bahwa Poso adalah daerah yang cocok bagi kaderisasi dan pelatihan simpatisan ISIS yang tidak hanya diikuti dari warga Indonesia tetapi juga dari negara lain. Polri dan TNI yang cepat memberantas kelompok MIT di Poso setidaknya sudah mencegah Poso dari kemungkinan dijadikan basis kaderisasi dan pelatihan ISIS di Indonesia atau bahkan Asia Tenggara.

Dengan kondisi terakhir ini, mungkinkah ISIS menjadikan Asia Tenggara sebagai basis kekuatannya? Melihat bahwa simpatisan ISIS di Indonesia saat ini masih kuat, yang dibuktikan dengan aksi-aksi teror yang terjadi dalam satu tahun terakhir, serta keberadaan kelompok radikal lain yang terdeteksi, kemungkinan tersebut ada. Selain itu adanya simpatisan dan pendukung di Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand memungkinkan untuk dilakukan penggalangan dana.

Sumber dana juga bisa dikumpulkan melalui fai, atau menggunakan cara seperti penyanderaan awak kapal yang dilakukan oleh Abu Sayyaf di Filipina. Walaupun cara-cara ini mungkin tidak seefektif cara yang dilakukan di Irak dan Suriah seperti  menguasai ladang minyak.

Jaringan kelompok radikal yang saat ini menjadi sel tidur di Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand bisa bangkit kembali dan digerakkan dalam satu gerakan untuk mendukung ISIS. Meskipun hal ini akan menempuh jalan yang sulit terutama dari sisi kepemimpinan, mengingat pemimpin dari kelompok-kelompok radikal di Asia Tenggara tentu saja ingin eksis dan merebut pengaruh dari ISIS.

Pencegahan dan Penanganan

Perlu dilakukan langkah-langkah strategis untuk mencegah ISIS menjadikan Asia Tenggara sebagai basis kekuatan. Cara yang paling utama dan wajib dilakukan adalah adanya kerjasama antar negara untuk mencegah dan menangani kelompok radikal. Kerjasama tersebut bisa dilakukan dengan pertukaran data/profil orang-orang yang terlibat dalam kelompok radikal termasuk transaksi keuangan, transaksi komunikasi, data perjalanan, dan data intelijen lainnya.

Data-data tersebut sebaiknya dijadikan satu dalam sistem fusi informasi terorisme secara global yang dapat diakses oleh pemerintah masing-masing negara. Data digunakan sebagai pendukung pengambilan keputusan untuk mencegah dan menangani kelompok radikal. Dengan adanya fusi informasi kelompok radikal dan terorisme yang terpadu melibatkan banyak negara di Asia Tenggara, maka pencegahan dan penanganan lebih praktis dan efektif dilakukan. Gerakan-gerakan mencegah terorisme di tingkat lokal bisa dilakukan untuk mencegah gangguan pada tingkat global, mengingat ada informasi dan kepentingan di tingkat global yang sama.

Langkah berikutnya adalah membangun kekuatan lintas negara untuk mengatasi security gap yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal di wilayah-wilayah yang rawan seperti perbatasan, wilayah perairan dan laut. Mengadakan patroli dan latihan bersama yang melibatkan kekuatan banyak negara di daerah-daerah yang rawan menjadi basis kelompok radikal akan efektif. Latihan anti terorisme antar negara di daerah basis kelompok radikal efektif untuk membina kerjasama antar negara sekaligus untuk mencegah dan menangani keberadaan kelompok radikal di wilayah tersebut.

Langkah ketiga adalah membangun kesepakatan bersama untuk penanganan aksi kelompok radikal dan terorisme lintas negara. Sering kali jika terjadi aksi terorisme lintas negara maka penangananya akan terhambat oleh birokrasi. Dengan adanya kesepakatan bersama dan prosedur penanganan yang saling dikomunikasikan maka penanganan aksi terorisme lintas negara akan lebih cepat dan tuntas.

Kesimpulan

Asia Tenggara adalah wilayah yang potensial dijadikan basis kekuatan ISIS yang saat ini semakin terdesak di Irak dan Suriah. Ancaman ini bukan sekedar di atas kertas, namun nyata terjadi mengingat kasus-kasus aksi teror seperti yang terjadi di Indonesia dalam satu tahun terakhir dilakukan oleh kelompok atau orang yang bersimpati terhadap ISIS.

Jika Asia Tenggara tidak ingin dijadikan basis kekuatan ISIS maka Asia Tenggara harus membangun kekuatan dan kerjasama lintas negara untuk mencegah dan menangani kelompok radikal terutama yang berafiliasi dengan ISIS. Kemungkinan ISIS bergeser ke Asia Tenggara tetap ada, namun pencegahan bisa dilakukan. Kerjasama banyak negara di Asia Tenggara tidak ada ruginya untuk mencegah Asia Tenggara sebagai pengganti Suriah dan Irak.

Penulis Oleh: Stanislaus Riyanta

Analis intelijen dan terorisme, Alumnus Pascasarjana Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia

Penulis:

Baca Juga