Rohto dan FKUI Lahirkan Produk Inovatif Glaukoma Implant

Ki-Ka : Peneliti dari FKUI Dr. dr. Virna Dai Oktariana, SpM(K) (kiri), Dekan FKUI Prof Ari Fahrial Syam (kedua kiri), Presiden Direktur Rohto Laboratories Indonesia Mukdaya Massidy (kedua kanan), dan Plh Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Kuwat Sri Hudoyo saat peluncuran produk Virna Glaucoma Implant by Rohto di Gedung IMERI FKUI Jakarta, Rabu (26/6/2019).

Jakarta, Akuratnews.com – Menyematkan label Virna Glaukoma Implant (VGI) Rohto bersama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dalam hal ini Staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKUI RSCM Dr. dr. Virna Dwi Oktariana, SpM(K), berhasil melahirkan produk inovatif Glaukoma Implant, untuk menekan permasalahan glaukoma khususnya di Indonesia.

Sejatinya, produk VGI yang menyematkan nama sang peneliti, dibuat dalam rangka untuk mencapai gelar Doktoral sang peneliti. Di mana, produk serupa yang sebelumnya memang telah ada di pasaran namun cukup tinggi untuk harga yang dibanderol.

VGI ini diindikasikan untuk pasien glaukoma yang tidak merespon terapi medis maksimal atau jika trabekulektomi gagal menurunkan tekanan intraokular. Di Indonesia ada banyak pasien dalam situasi ini, tetapi bagi kebanyakan orang Indonesia, hal ini bukanlah pilihan karena faktor biayanya.

“Saya ingin membuat glaukoma implant dengan harga terjangkau bagi masyarakat dan mudah pengerjaannya,’ jelas dr. Virna.

Lebih jauh, dr. Virna, menyampaikan didasari dengan biaya yang murah dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dirinya mencoba implant dengan biaya murah, bahan yang baik, aman untuk posien dan efektivtasnya juga baik.

“Kita melakukan penelitian bertahap terhadap desainnya. Setelah desain di dapat baru selanjutnya melakukan produksi produk,” jelasnya.

Dirinya tidak menampik, dengan menggunakan produknya akan bisa terjadi proses alergi. Dirinya menegaskan, bagaimanapun implan pada tubuh, dalam hal ini pada bola mata dengan menggunakan VGI, merupakan benda asing yang ditanamkan.

“Bagaimanapun ini adalah benda asing. Kalau ada respon alergik terhadap implan tersebut pada proses ekslusi, sehingga kita cari bahan yang aman. Pada pasien yang sudah melakukan implan sekitar 200 lebih pasien tidak mengalami ekslusi ini. Benda asing bukan hanya pada mata, tetapi sudah ada pada kaki, tangan bahkan kepala,” katanya.

“Ini pencapaian luar biasa dan saya rasa ini pertama kali untuk produk implan mata di tanah air. Ini bagian dari akademik bisnis goverment, kerjasama antara bisnis, pemerintah dari periset. Glaokoma problem buat kita ketika harganya mahal, dan dokter Virna berpikir untuk membuat dengan harga yang lebih murah. Ini harus menjadi kebanggan bagi semua,” sambut Dekan FKUI Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp PD-KGEH, MMB.

Segera Diproduksi Awal Juli

Produk VGI telah mengantongi izin edar yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, yang secara otomatis boleh diproduksi secara masal dan dibisniskan. Namun, di tengah-tengah melakukan penetrasi bisnis, memperoduksi VGI sasaran utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan logistic terkait kasus glaukoma di Indonesia.

“Kami berencana untuk melakukan eksport. Karena selama ini dari pihak rohto sudah mengeksport lensa katarak, kurang lebih ke 15 negara. Produk VGI ini juga akan kami eksport ke 15 negara tersebut,” terang Board of Director PT. Rohto Laboratories Indonesia, Mukdaya Massidy, SE, MM, M. Si.

“Kita targetkan bahwa produk VGI dapat menurunkan akan kebutaan akibat glaukoma di indonesia. Kami berharap bisa memberikan kontribusi, karena sekarang ini untuk operasi produknya masih mahal. Dengan VGI yang harganya terjangkau dan dengan kualitas baik bisa dilakukan operasi lebih banyak. Sehingga angka kemungkinan kebutaan dari glaukoma akan menurun. Mudah-mudah mulai bulan depan akan sudah melakukan produksi untuk dipasarkan, dengan tahap awal produksi 200-300 pasien, per bulan. Tentu kita akan meningkatkan kapasitas seuai dengan kebutuhan,” tambahnya.

Mukdaya, menambahkan untuk produk VGI harga yang akan dibanderol berkisar 70% lebih murah. “Jika produk lain yang telah beredar dipasaran sekitar $400dolar, atau sekitar Rp.7-8 juta,  VGI kurang lebih 30-40 persen harganya,” imbuhnyanya.

Untuk bahan baku, Mukdaya, mengungkapkan saat ini masih import, karena dinilai bahan baku yang digunakan merupakan bahan akrilik khusus, yang tentunya sudah terbukti hasilnya.

“Bahan baku masih import, karena itu semacam akrilik khusus. Murah, mudah di dapat dan bukan itu saja, bahan baku ini sudah terbukti puluhan tahun stabilitasnya dan resiko implamasinya cukup rendah,” pungkasnya.

Penulis:
Photographer: Redaksi

Baca Juga