Virus Corona dan Perang Ekonomi

Dr Ichsanuddin Noorsy BSc., SH., MSi
Dr Ichsanuddin Noorsy BSc., SH., MSi

Bagi Barat, pendaratan angkasa luar Cina di bulan dalam posisi terjauh dan juga India, disergapnya drone AS oleh Cina di Laut Cina Selatan yang sedang melakukan kegiatan intelegen tanpa awak, dan kuatnya kepercayaan diri Cina karena ketergantungan Barat pada mineral rare earth (bahan penting untuk industri teknologi, militer, dan lainnya), sebenarnya menunjukkan Cina mempunyai kekuatan perlawanan atas tekanan Presiden AS ke 45 Donald Trump.

Hampir 80 persen kebutuhan mineral rare earth AS didatangkan dari Cina. Ini yang membuat Xi Jinping tampil percaya diri. Xi bahkan berani mengatakan bahwa Cina mempunyai tongkat penggebuk yang besar, dan tak suatu negara pun yang mampu menghalangi tujuan Cina : menjadi negara adidaya di panggung global (global superpower). Financial Times pada 27 Mei 2019 pernah menurunkan suatu tulisan, bahwa tujuan Cina pada 2049 menjadi global superpower dalam peringatan 100 tahun RRC, tidak akan tercapai. Soalnya bukan akan atau tidak akan tercapai. Dalam peradaban yang Cina tumbuh kembangkan, Cina akan terus berupaya tanpa henti untuk meraih cita-citanya.

Buktinya, Cina tidak peduli dengan isu hak asasi manusia, demokrasi, dan hak cipta intelektual bahkan menjalin hubungan erat dengan Korea Utara yang mempunyai senjata nuklir jarak jauh (ICBM, intercontinental ballistic misile). Kasus lapangan Tiananmen, isu pencemaran lingkungan bahkan di Beijing sekalipun, konflik Laut Cina Selatan, pembantaian suku Uyghur, cara mengatasi demonstrasi di Hongkong, negatifnya pemberitaan media massa Barat atas perilaku investasi Cina di berbagai negara seakan berlalu begitu saja. Cina tetap bertahan pada pendiriannya, dan tidak ingin mengulang kekalahan perang candu dengan Inggris pada 1836-1860 sekaligus tidak ingin lagi dipecundangi Jepang.

Cina bukan hanya mengakumulasi segenap kekuatannya, tapi juga memaksa setiap unsur bangsa Cina agar tampil sebagai bangsa adi daya di panggung internasional. Virus Corona bagi Cina merupakan peristiwa biasa karena Cina mempunyai penduduk 1,3 miliar orang. WHO pun tidak berani menyatakan keadaan darurat. Dalam perspektif ini, virus corona cuma bagian dari perang ekonomi, dan Cina tidak akan mundur dari ajang peperangan ini. Soalnya adalah, bagaimana Indonesia menempatkan diri setelah kasus menjarahnya nelayan Cina di laut Natuna Utara yang dikatakan Presiden Joko Widodo bahwa Cina bukan mencuri tapi hanya mengejar ikan yang lari ke perairan Natuna.

Sementara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sendiri sibuk melobbi sejumlah negara untuk membangun kekuatan diplomasi dan membangun kekuatan alutsista dalam rangka mengantisipasi tindakan Cina. Dan dunia pun tidak perduli atas korban 700 orang lebih yang mati pada saat Pilpres 2109 kemarin. Benar virus corona ada. Tapi ada tantangan dan ancaman yang lebih besar, yakni perang ekonomi yang patut dipertimbangkan Indonesia lebih mendasar dan mendalam. Akankah Indonesia mempunyai kedaulatan ekonomi di tengah situasi global yang volatile, uncertainty, complex, and ambigue? Silakan petinggi negeri ini dan kaum elit menjawabnya, saya bersedia menjadi pendengar dan pembelajar yang baik.##

Selanjutnya 1 2 3

Baca Juga