oleh

2 dari 11 Kasus yang Menyeret Nama Rizieq di-SP3

Jakarta, Akuratnews.com – Kepolisian Republik Indonesia disebut-sebut telah menghentikan kasus dugaan percakapan mesum Rizieq Shihab-Firza Husein pada Jumat (15/06/2018), bertepatan dengan Hari Raya ‘Iedul Fitri 1439 H.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono, enggan mengomentari Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) kasus yang mendera Imam FPI itu. Pasalnya, kata Argo, kasus telah dilimpahkan ke Mabes Polri.

“Silahkan tanya ke Mabes,” kata Argo, Jumat (15/6/2018).

Jika kabar SP3 kasus dugaan percakapan mesum Rizieq ini benar, maka ini menjadi kali kedua Rizieq mendapat SP3 dari tolal 11 kasus yang menyeret namanya.

Rizieq, sebelumnya, juga pernah mendapat SP3 dari Kepolisian Daerah Jawa Barat dalam kasus dugaan penodaan Pancasila, Februari lalu. Kasus ini bermula dari laporan Sukmawati Soekarnoputri pada 27 Oktober 2016 yang menyoal kalimat Rizieq “Pancasila Soekarno, Ketuhanan ada di Pantat. Sedangkan Pancasila Piagam Jakarta, Ketuhanan ada di kepala,”. Dalam kasus ini, Rizieq sempat disangkakan melanggar Pasal 154 Kitab Undang-undang Hukup Pidana (KUHP).

9 kasus lainnya adalah:

  1. Dugaan Penodaan Agama, 26 Desember 2016 dengan pelapor Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI). Rizieq dilaporkan atas ucapannya, “Kalau Tuhan beranak, bidannya siapa?”. Dalam kasus ini, Rizieq diduga melanggar pasal 156 dan pasal 156a KUHP serta UU no 11 tahun 2008 tentang ITE.
  2. Dugaan Penodaan Agama, 26 Desember 2016 dengan pelapor Student Peace Institute. Rizieq diduga menyebar kebencian bernuansa RAS dengan dugaan pelanggaran pasal 156 KUHP serta pasal 29 ayat 2 juncto pasal 45 ayat 2 UU ITE.
  3. Dugaan Penodaan Agama, 30 Desember 2016 dengan pelapor Forum Mahasiswa Lintas Agama yang pada pokok laporannya sama dengan laporan Student Peace Institute.
  4. Tentang Palu Arit pada Rupiah, 8 Januari 2018 dengan pelapor Jaringan Intelektual Muda Anti Fitnah. Pada kasus ini, kalimat Rizieq yang berbunyi “Ini negara Pancasila apa negara PKI?” dalam ceramahnya, diduga melanggar pasal 27 ayat 3 UU ITE.
  5. Dugaan Pelecehan Profesi Hansip, 9 Januari 2018 dengan pelapor warga Pondok Gede, Jakarta, Eddy Soetono. Kalimat Rizieq, “Pangkat Jenderal Otak Hansip. Sejak kapan Jenderal bela Palu Arit? Jangan-jangan ini Jenderal nggak lolos Litsus,” diduga melanggar pasal 27 ayat 3 UU ITE.
  6. Terkait Palu Arit pada Rupiah, 10 Januari 2017, Solidaritas Merah Putih melaporkan Rizieq dengan pasal 23 UU ITE.
  7. Bahasa Sunda “Sampurasun” menjadi “Campur Racun”, 25 Januari 2017. Bahasa sebagaimana termaksud, diduga dipelesetkan oleh Rizieq dan viral secara daring, sehingga berpotensi melanggar pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45 ayat 2 UU ITE.
  8. Dugaan Provokasi Pemuka Agama, 26 Januari 2017 dengan pelapor Max Evert dimana Rizieq kembali diduga melanggar pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45 ayat 2 UU ITE dan pasal 156 KUHP.
  9. Ujaran Kebencian, 30 Januari 2017 dengan pelapor Organisasi Masyarakat Patriot Garuda Nusantara (PGN) yang didampingi Perguruan Sandhi Murti. Rizieq diduga menyinggung masyarakat Bali sehingga bersinggungan dengan pasal 156a KUHP. (MDz)

Komentar

News Feed