3 dari 9 Terdakwa Pembakaran Polsek Tambelangan Dituntut 7 dan 5 Tahun Penjara

3 terdakwa dalam persidangan.(foto Moris/Akuratnews.com)

Surabaya, Akuratnews.com - Habib Abdul Qodir Al Haddad, Hadi Mustofa dan Supandi, yang merupakan 3 orang dari 9 orang terdakwa kasus pembakaran Polsek Tambelangan Madura, menjalani sidang pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur.

Dalam surat tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Sampang Madura , Anton Zulkarnain menyatakan ketiga terdakwa tidak terbukti melanggar dalam dakwaan pertama JPU (pasal 200 ayat (2) jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP), melainkan pada dakwaan subsidiair pasal 200 ayat (1) jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

"Memohon kepada majelis hakim menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Habib Abdul Qodir Al Haddad selama 7 tahun penjara," ucap JPU Anton Zulkarnain pada sidang yang digelar, Kamis (31/10/19).

Sementara, terdakwa Hadi Mustofa dan Supandi, dituntut pidana penjara masing-masing 5 tahun.

Adapun yang memberatkan, perbuatan para terdakwa meresahkan masyarakat dan merugikan Polsek Tambelangan. Sedangkan hal yang meringankan, para terdakwa merupakan tulang punggung keluarga.

Mendengarkan tuntutan tersebut, para terdakwa melalui tim penasehat hukumnya (PH) mengatakan akan mengajukan pembelaan. “Kami ajukan pembelaan yang mulia,” ujar Dimas Aulia, salah satu anggota tim penasehat hukum para terdakwa.

Sebelumnya diberitakan, pembakaran Polsek Tembelangan terjadi pada 22 Mei 2019, tepat saat masa aksi melakukan demo People Power di depan Gedung Bawaslu Jakarta.

Karena termakan berita hoaks bahwa ada ulama dari Madura yang ditangkap di Jakarta dan tidak diketahui keberadaannya, maka puluhan massa mendatangi Mapolsek dan melakukan tindakan anarki dengan merusak serta membakar Polsek.

Para tersangka yang berasal dari Sampang Madura ini, dijerat dengan Pasal berlapis yakni Pasal 200 KUHP tentang pengrusakan fasilitas umum, Pasal 187 KUHP tentang pembakaran, serta Pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. Ancaman hukuman lima tahun penjara. (*)

Penulis: Moris Mangke

Baca Juga