Akmal Taher Mengundurkan Diri dari Satgas Covid-19

Prof. Akmal Taher Mengundurkan Diri dari Satgas Covid-19
Prof. Akmal Taher Mengundurkan Diri dari Satgas Covid-19

Jakarta, Akuratnews.com - Sedari awal, berbagai langkah yang diambil pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 telah mendapat sorotan minor publik. Ketika Covid-19 belum teridentifikasi di Indonesia, kita melihat berbagai pernyataan pejabat pusat justru seakan meremehkan virus tersebut. Mulai dari candaan mobil Corona, makan nasi kucing, hingga menyamakan Covid-19 dengan penyakit lainnya.

Atas berbagai pernyataan bernada meremehkan tersebut, tidak heran kemudian kita menemukan kebijakan kontradiktif, seperti memberikan diskon tiket pesawat dan wacana penggunaan influencer untuk mempromosikan pariwisata. Padahal, apabila kita berpikir secara rasional, bagaimana mungkin turis mancanegara akan datang di tengah ancaman tertular Covid-19.

Kini, setelah pandemi sudah lebih dari enam bulan di tanah air, peningkatan drastis kasus Covid-19 justru tengah terjadi. Namun, dari kacamata metode, kenaikan kasus tersebut dapat dimaknai secara positif karena itu menunjukkan angka tes Covid-19 terus meningkat. Konteks ini juga pernah diungkapkan oleh Ketua Satgas Covid-19, Doni Monardo dalam keterangannya pada 30 Agustus lalu.

Tegasnya, peningkatan kasus Covid-19 diakibatkan karena semakin tingginya pemeriksaan spesimen harian. Pada awalnya, pemeriksaan spesimen hanya di kisaran angka 2-3 ribu, namun dalam beberapa hari terakhir, jumlahnya meningkat drastis menjadi 30 ribu.

Akan tetapi, pembenaran metodis tersebut tentunya tidak dapat digunakan untuk membenarkan masih kurang baiknya penanganan pandemi Covid-19. Pada 19 September lalu, epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono bahkan dengan tegas menyebutkan bahwa pemerintah tidak memiliki rencana penanganan pandemi jangka panjang.

Tuturnya, pemerintah seharusnya belajar dari kampanye program Keluarga Berencana (KB) soal tagline “Dua Anak Cukup”. Menurutnya, kampanye tersebut berhasil mengubah persepsi masyarakat tentang “banyak anak banyak rezeki”, sehingga mau melakukan KB.

Terbaru, mundurnya Ketua Ikatan Ahli Urologi Indonesia, Prof. Akmal Taher dari Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 tampaknya semakin menguatkan persepsi publik bahwa pemerintah tidak memiliki rencana yang matang dalam menangani pandemi Covid-19.

Kendati tidak terdapat pernyataan resmi, baik dari Satgas Covid-19 ataupun dari Prof. Akmal Taher, spekulasi publik meruncing pada adanya dugaan saran penanganan pandemi Akmal agar pemerintah fokus dalam melakukan tracing (pelacakan) dan testing (pengetesan), khususnya melalui puskesmas sampai saat ini belum menjadi prioritas kebijakan.

Lantas, jika spekulasi tersebut benar adanya, mengapa itu dapat terjadi?

False Dichotomy
Disadari atau tidak, sejak awal diidentifikasinya Covid-19 di Indonesia, tampaknya terdapat benturan persepsi antara dua kubu, yakni mereka yang memprioritaskan kesehatan dan mereka yang memprioritaskan ekonomi.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Redaksi

Baca Juga