Aksi Beli Investor Asing, Dorong IHSG Naik Ke 5.990

Bursa Efek Indonesia (Foto Istimewa).
Bursa Efek Indonesia (Foto Istimewa).

Jakarta, Akuratnews.com - Seiring dengan penguatan nilai tukar rupiah, investor asing membukukan beli bersih senilai Rp 85,7 miliar hingga akhir sesi 1. Rupiah hari Kamis (22/11) ditutup menguat dalam perdagangan USDIDR. Dolar AS sukses dijaga di bawah Rp 14.600. US$ 1 dibanderol Rp 14.575. Rupiah menguat 0,17% dibandingkan posisi penutupan pasar hari sebelumnya.

Investor asing melakukan risk appetite dengan memborong sejumlah saham unggulan, diantaranya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk. Appetite investor asing untuk masuk ke bursa saham dalam negeri memang sedang tinggi-tingginya.

Perdagangan berlangsung agresif sejak sesi pertama. Dibuka melemah 0,19% ke level 5.936,66, IHSG mengakhiri sesi 1 dengan naik 0,66% ke level 5.987,06. Penguatan sebesar itu sudah cukup membuat IHSG menempati urutan teratas di Asia. Pada akhir sesi 2, IHSG memperlebar penguatannya menjadi 0,72% ke level 5.990,81. IHSG menjadi yang terbaik di Asia, dimana Indek Nikkei naik 0,65%, indek Hang Seng naik 0,18%, indek Shanghai turun 0,23%, dan indeks Kospi turun 0,32%,.

Sentimen pasar sebenarnya netral, dimana data ekonomi di AS yang dirilis tadi malam tidak mampu memenuhi ekspektasi. Hal ini membawa angin segar bagi bursa saham regional. Dilaporkan oleh Departemen Tenaga Kerja AS bahwa klaim tunjangan pengangguran selama sepekan hingga 16 November 2018 sebesar 224.000, lebih tinggi dari perkiraan sebesar 215.000. Kemudian, pemesanan barang tahan lama inti periode Oktober 2018 mengalami kontraksi sebesar 0,1% MoM, di bawah konsensus yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 0,4% MoM.

Mengecewakannya rilis data tersebut menimbulkan persepsi bahwa The Federal Reserve belum akan mengerek suku bunga acuan pada bulan depan. Keyakinan bahwa the Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps pada bulan Desember adalah sebesar 75,8%. Lebih rendah dari posisi bulan lalu sebesar 81,4%.

Pun demikian, tak sedikit juga pelaku pasar yang menganggap bahwa probabilitas normalisasi pada bulan depan masih tinggi. Angkanya masih di atas 70%. Pelaku pasar memandang bahwa kemungkinan The Fed menunda rencana normalisasinya adalah tipis.

Presiden AS Donald Trump kembali menyerang kebijakan pengetatan yang diambil oleh The Fed. Tak hanya institusinya, Gubernur The Fed yakni Jerome Powell juga ikut diserang oleh Trump. Oleh karenanya, menjadi penting bagi The Fed untuk membuktikan independensinya. Walau perekonomian melambat pun, akan sulit memaksa The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga acuan. (LH)

Penulis:

Baca Juga