Jeritan Hati Dirut Rumah Sakit Akibat Carut Marut Manajemen BPJS Kesehatan

Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM) Jakarta. (Istimewa)

Jakarta, Akuratnews.com – Belum habis permasalahan carut marut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Imbas buruknya manajemenBPJS berakibat beratnya manajerial rumah sakit sebagai wadah pemberi layanan kesehatan kepada masyarakat. Pemerintah dinilai dalam hal ini perlu mengambil keputusan untuk memberikan transfusi dana untuk membantu BPJS Kesehatan memenuhi segala utangnya pada rumah sakit dan juga mengatasi defisit yang dialaminya.

Seperti yang diungkapkan oleh Direktur Utama Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Lies Dina Liastuti, SpJP(K), MARS. Dia mengatakan, saat ini RSCM tengah menghadapi kesulitan karena piutang BPJS Kesehatan. Mulai dari kesulitan untuk mendapatkan obat dan alat kesehatan, hingga meminjam dana kepada bank.

"Kasus-kasus keterlambatan atau kurang bayar dari BPJS sangat merepotkan sekali. Kita harus menghadapi vendor. Kita sampai harus menghentikan beberapa pelayanan, pasien harus dipulangkan karena tidak jadi operasi karena tidak ada obat bius," curhatnya di RSCM, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Dampak dari keterlambatan pembayaran oleh BPJS Kesehatan itu, kata dr. Lies, membuat RSCM harus ikat pinggang sekencang mungkin. Sementara, satu sisi RSCM harus memastikan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) tetap berjalan. Namun di sisi lain, juga harus mendapatkan obat, alat kesehatan dan membayar karyawan non-PNS.

Ujung-ujungnya, RSCM harus meminjam dana kepada bank dengan pembayaran bunga yang dibayarkan pihak BPJS Kesehatan. Namun, dr Lies menyebut, tetap saja pihak RSCM lah yang merugi.

"Pada waktu itu kami rugi. Jadi yang disepakati oleh BPJS nilainya berapa, ketika BPJS mau bayar dendanya, nominalnya beda. Bank itu 180 juta, sedangkan BPJS 114 juta. Kami rugi 66 juta, kita utang kita rugi," pungkasnya.

Penulis:

Baca Juga