Kak Seto Sebut Pihak Yang Datangi SPI Melanggar Hak Anak

Kak Seto (di layar kiri) saat mengikuti Konferensi Pers secara daring dari Yogyakarta

Surabaya, Akuratnews.com - Pihak Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu, Jawa Timur (Jatim), membantah keras tuduhan tindak pidana kekerasan seksual, fisik, serta eksploitasi ekonomi
yang dilaporkan ke Polda Jatim.

Recky Bernadus Surupandy, selaku kuasa hukum SPI meminta seluruh pihak agar tidak mengeluarkan opini-opini yang menimbulkan dampak negatif bagi kliennya.

“Kami memperingatkan seluruh pihak jika terjadi berita, pendapat ataupun opini yang beredar tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada kami dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi klien kami, maka kami secara tegas akan melakukan tuntutan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Recky, saat konferensi pers di Sekolah SPI, Kamis (10/6/22).

“Segala pernyataan yang telah tertulis di media terkait adanya dugaan telah terjadi tindak pidana kekerasan seksual, tindak pidana kekerasan fisik dan tindak pidana eksploitasi ekonomi di sekolah Selamat Pagi Indonesia adalah pernyataan yang tidak benar,” sambung Recky.

Recky menilai, laporan yang ada saat ini belum terbukti dan pihaknya akan mengikuti seluruh proses hukum yang ada sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Jika ada laporan kepada aparat penegak hukum, maka pelaporan tersebut harus dilengkapi dengan alat bukti yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 184 ayat 1 KUHAP," terangnya.

Recky juga mengungkapkan, kedatangan pihak-pihak yang mengganggu jalannya pembelajaran menciptakan suasana tidak aman dan menganggu ketenangan belajar.

Masih kata Recky, Sekolah yang berdiri pada 2007 silam ini, memiliki reputasi yang baik di masyarakat dan terakreditasi. Seluruh proses kegiatan belajarnya berada dalam pengawasan dan evaluasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

"Artinya jika terjadi pelanggaran hukum sudah pasti akan menjadi temuan dan ditindaklanjuti Dinas Pendidikan," paparnya.

"SPI juga memiliki sistem pengawasan internal yang sangat ketat sehingga semua siswa-siswi dengan segala aktifitasnya terpantau. SPI adalah SMA tanpa dipungut biaya dan merupakan sekolah SMA dengan kurikulum SMA reguler," pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Kak Seto Mulyadi, selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), yang meminta semua pihak untuk menghargai asas praduga tidak bersalah, dan menyerahkan masalah ini kepada pihak Kepolisian RI sebagai institusi yang berwenang untuk mengumumkan apa yang sebenarnya terjadi di SPI.

“Marilah kita menghargai dulu praduga tidak bersalah, dan percayakan masalah ini kepada kepolisian. Tidak perlu melakukan upaya-upaya seperti datang ke sekolah untuk memberikan tekanan. Karena hal itu tidak dibenarkan dan melanggar hak anak yang ingin belajar dengan tenang,” ujar Kak Seto yang mengikuti konferensi pers secara daring.

“Indonesia masih membutuhkan banyak sekolah seperti SPI ini, karena sangat membantu Pemerintah mengentaskan kemiskinan dan membantu anak-anak dari keluarga tidak mampu untuk mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depan mereka,” imbuh Kak Seto.

Kak Seto berpendapat, SPI selama ini banyak melahirkan anak berprestasi. Dengan adanya
tekanan-tekanan itu, maka anak-anak akan terganggu yang sama saja menjadi tindak kekerasan  kepada anak.

Sementara itu, kepala Sekolah SPI, Risna Amalia mengatakan, di tempat tersebut (SPI) kegiatan belajar mengajar terbuka, aman, nyaman dan berkualitas bagi para murid-muridnya.

"Kami mendapat kepercayaan dari pemerintah Kamboja, dengan mengirimkan sembilan orang warganya untuk bersekolah di SPI," beber Risna.

Terakhir, Risna menegaskan, sekolah yang berada di Jalan Raya Pandanrejo nomor 2, desa Bumiaji, Kota Batu tersebut, menerpakan kedisiplinan yang tinggi. Jika ada murid-muridnya yang melanggar akan dikeluarkan dari sekolah untuk dikembalikan kepada orang tua/walinya.

"Aturan ini sudah diketahui oleh siswa-siswi dan walinya ketika mereka diterima di sekolah ini," tutupnya.

Penulis:

Baca Juga