Ketua DPRD Matim Mengenang Almarhum Pater Stanis Sebagai Sosok Imam Visioner

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Heremias Dupa. Dokumen Pribadi.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Heremias Dupa. Dokumen Pribadi.

Kehilangan seseorang yang sangat dicintai memang sangat menyakitkan. Namun, lebih menyakitkan lagi jika kita tidak bisa mengikhlaskan kepergiannya. Biarkan dia yang meninggalkan kita tenang di alam sana. Turut berduka cita atas meninggalnyaSemoga segala dosanya di ampuni oleh Tuhan. Selamat Jalan Pater Stanis Orgrabek

Manggarai Timur, Akuratnews.com - Kabar duka datang dari komunitas SVD, untuk umat Katolik, terutama di Keusupan Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Palangkaraya, Kalimantan. Pater Stanis Ograbek, SVD, misionaris asal Polandia mengembuskan nafas terakhir pada Sabtu (15/2) sekitar pukul 23.59 di Rumah Sakit RKZ Surabya.

Kepergian Pater Stanis Ograbek jelas meninggalkan duka mendalam bagi umat Kristiani. Ucapan duka datang dari berbagai kalangan, disampaikan banyak orang melalui berbagai media sosial. Tidak terkecuali, Ketua Dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Timur (MATIM) Heremias Dupa. Heremias mengenang Sosok Almarhum Pater Stanis sebagai sosok imam atau misionaris yang visioner.

"Ketika mendengar kabar duka atas kepergian Pater Stanis, dalam memori mengenang Almarhum Pater Stanis itu bukan sekedar imam atau misionaris yang memimpin dari mimbar gereja akan tetapi Almarhum juga terlibat aktif dalam menyelesaikan persoalan di tengah-tengah umat, terutama persoalan keterisolasian. Pater Stanis menjadi perintis pembangunan sejumlah jalan raya dan jembatan di Manggarai," jelas Heremias ketika ditemui di kediamannya pada hari (Minggu, 16/02/2020)

Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur itu mengungkapkan duka mendalam atas kepergian Pater Stanis Ograbek.

"Saya sebagai Ketua DPRD Manggarai Timur mewakili teman-teman anggota DPRD Matim juga atas nama pribadi dan keluarga merasa kehilangan atas perginya sosok misionaris yang visioner asal Polandia Pater Stanis Ograbek," ucap Heremias Dupa.

Heremias Dupa menjelaskan, Selama 50 tahun mendedikasikan hidupnya di dua pulau di Indonesia tidak membuat Ograbek dan teman-temannya mengalami banyak kesulitan. Kendala yang yang dialami Ograbek dan teman-temannya hanyalah masalah bahasa.

Pater Ograbek sendiri merupakan salah satu misionaris Polandia yang dikirim ke Indonesia pada tahun 1965. Sejak itu, Almarhum mendedikasikan seluruh hidupnya selama hampir 50 tahun. Sebagai seorang misionaris, Pater Stanis Ograbek tidak hanya menjalankan misi keagamaan, tapi juga terlibat dalam pemberdayaan masyarakat pembangunan di segala bidang di tempatnya mengabdi.

Dedikasi Almarhum Pater Stanis Ograbek untuk Indonesia terbukti luar biasa. Ograbek telah mengabdi di Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) sekitar 30 tahun dan di Kalimantan Tengah sekitar 20 tahun hingga kini. Pernah beberapa tahun lalu Orgrabek dianugerahi tanda penghargaan Cincin Emas oleh Gubernur NTT Hendrikus Fernandez berkad jasa-jasanya yang luar biasa dalam pembangunan infrastruktur di provinsi NTT.

Untuk diketahui, Almarhum Pater Stanis pernah menulis buku berjudul, "Bertualang di Ladang Tuhan, 50 Tahun di Pulau Flores dan Kalimantan". Dalam buku tersebut Almarhum Pater Stanis Orgrabek pernah mengulas kesan-kesan mendalam tentang perbedaan antara Flores dan Kalimantan. Menurutnya, yang paling berkesan saat berada di Flores dan Kalimantan adalah bagaimana cara yang tepat untuk mendekati orang-orang di dua daerah tersebut yang jelas memiliki perbedaan perilaku.

Dikutip dari beritasatu.com (Rabu, 18/2013), dalam buku tersebut, Almarhum mengisahkan tentang perjalanan misionarisnya selama hampir 50 tahun berada di dua pulau Indonesia yaitu Flores dan Kalimantan. Buku yang sarat dengan ragam nilai dan hikmah itu terdiri dari 40 bab pendek, tiap bab-nya bercerita penggalan pengalaman Pater Ograbek sejak pendaftaran misionaris di Polandia hingga berbagai pengalaman misinya di Flores dan Kalimantan.

Dalam buku tersebut, Almarhum Pater Stanis Orgrabek menjelaskan bahwa awalnya Almarhum sedikit kesulitan untuk mendekati orang-orang di Flores dan Kalimantan. Misalnya, masyarakat Dayak adalah orang yang pendiam tapi mereka sangat bersungguh-sunguh dan patuh pada adat kebudayaan. Sedangkan masyarakat Flores adalah orang yang sangat bersemangat, tidak mudah mengeluh dan sedikit temperamen.

"Kesan saya, untuk menghadapi dua kebudayaan ini, kami harus saling menghargai, menghormati, dan tidak berusaha mati-matian untuk menjadikan mereka sebagai paster pengganti saya, melainkan agar mereka tetap mempertahankan identitasnya," tambah Ograbek, dikutip dari beritasatu.com (Rabu, 18/2013),

Konon, Buku tersebut dipublikasikan karena ada dorongan dari masyarakat di Flores dan Kalimantan serta pihak kedutaan besar Polandia yang tertarik dengan isi buku yang ditulis Ograbek. Akhirnya, buku terjemahan dalam bahasa Indonesia pun dirilis.

Penulis: Yohanes Marto

Baca Juga