Keunikan Detusko dan Geliat Ekowisata di Kaki Gunung Kelimutu

Eksplorer Keunikan Detusko dan Geliat Ekowisata di Kaki Gubung Kelimutu
Eksplorer Keunikan Detusko dan Geliat Ekowisata di Kaki Gubung Kelimutu

“Pendirian kafe selain ingin memperkenalkan bentuk bangunan lokal bebahan alam dan menyajikan menu pangan lokal, juga menjadi semacam tempat bagi wisatawan bersantai sambil menikmati keindahan panorama sawah di bagian belakang sawah,” jelas Nando, Minggu (18/04/2021), kepada 10 pemuda pegiat pariwisata dari tiga kabupaten di Manggarai yang rombongan Ayu Indonesia untuk bejajar konsep ekowisata di tanah leluhuir suku Lio itu.

Baca Juga: Sandiaga Ingatkan Para Pengelola Objek Wisata untuk Patuh Prokes

Diskusi santai sambil menikmati Kopi di Caffe Lepa Lio, sosok inpiratif yang kini menjabat sebagai kades Detusoko Barat itu menjelaskan, keunikan bentuk sawah termasuk luasnya yang tidak seragam dan unik sudah terjadi sejak dahulu karena areal sawah yang ada merupakan warisan dari generasi ke generasi dan dimiliki hampir semua keluarga yang mendiami Desa Detusoko Barat.

Selama 4 hari (15-19 April 2021) bersama rombongan Ayu Indonesia di Desa Detuskoko Barat, meski kehidupan masyrakatnya perlahan beradaptasi modernisasi jaman, namun mereka sangat menjujung tinggi keluhuran budaya warisarin nenek moyang suku Lio dan sangat menyatu dengan alam.

Pada beberapa titik tertentu, wisatawan yang hendak mengeksplor keindahan alam Detusoko bahkan tidak diperbolehkan untuk merokok atau mebawa korek api. Dikhawatirkan tangan usil tanpa sengaja membakar sesuatu atau putung rokok akan menyulut api.

“Beberapa tempat yang akan kita kunjungi tidak diperbolehkan untuk merokok atau membawa korek api. Masyrakat adat disini memberlakukan sanksi adat bagi yang melanggar,” jelas Didin, local guide di desa tersebut.

Keseharian masyarakat suku Lio tak beda jauh dengan suku lain di Flores. Mereka bertani dan bercocok tanam seperti petani pada umumnya. Sebagai salah satu desa ekowisata terbaik di Indonesia, Kades Nado mengusung konsep tour yang disebutnya “One Day Be a Farmer” bagi wisatawan yang berkunjung tepat pada musim tanam atau musim panen.

Nando menjelaskan, para wisatawan akan diajak menanam padi, memberi makan ternak, memancing ikan di kolam, memetik hasil kebun, dan mengikuti pertemuan adat kampung. Jika beruntung, wisatawan dapat mengikuti prosesi adat “nggua uwi” dan “nggua uta”. Dua acara tersebut sebagai penegasan identitas suku Lio sebagai masyarakat agraris.

Tekat Nado wujudkan kegiatan pariwisata berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konsevasi alam, sosial budaya dan ekonomi masyarakat Detusoko terbukti mampu menopang kesejahtraan masyrakat setepat.

Selanjutnya 1 2 3 4
Penulis: Yohannes Marto

Baca Juga