Opini

Konstruksi Bangunan Aman, Dan Peran Sistem Islam

Akuratnews.com - Baru-baru ini warganet diramaikan dengan peristiwa terbakarnya gedung utama di komplek kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, pada 22 Agustus lalu. Kebakaran yang  menghanguskan enam lantai Gedung Kejaksaan Agung tersebut memunculkan banyak spekulasi di tengah masyarakat. Bak detektif para warganet memberikan banyak spekulasi tentang kebakaran tersebut. Mengingat kebakaran tersebut terjadi di tengah penanganan kasus besar seperti hak tagih Bank Bali. Sampai korupsi perusahaan asuransi pelat merah Jiwasraya. Bahkan muncul juga berbagai pendapat tentang nasib berkas perkara hukum, yang tersimpan di gedung utama Kejaksaan Agung. Sampai siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Dengan begitu banyaknya spekulasi yang muncul ditambah belum adanya titik terang atas peristiwa ini, bisa saja menjadikan hilangnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Sehingga dibutuhkan sikap terbuka dan solutif atas kasus ini. 

Terlepas dari semua spekulasi dan pertanyaan yang muncul tentang peristiwa tersebut, yang memang menimbulkan tanda tanya. Sistem deteksi dan pengendalian kebakaran di gedung Kejaksaan Agung juga tak kalah penting untuk disorot. Bagaimana mungkin gedung milik pemerintah seperti Kejagung bisa dengan cepat dilahap si jago merah. Menurut Pakar fire safety dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Fatma Lestari, kebakaran yang melahap gedung utama kantor Kejaksaan Agung harus dijadikan peringatan untuk segera melakukan audit keselamatan kebakaran terhadap seluruh gedung-gedung milik pemerintah. Dari pengamatannya hampir 70% kantor pemerintahan di Jakarta tidak memenuhi standar keselamatan kebakaran. Fatma Lestari, menduga sistem proteksi aktif keselamatan kebakaran di gedung utama Kejaksaan Agung tidak berjalan. Itu tampak dari kobaran api yang menjalar dengan cepat ke sejumlah lantai. Pada peristiwa kebakaran di gedung utama Kejaksaan Agung, api pertama kali terlihat dari lantai enam kemudian merambat hingga lantai di bawahnya (suara.com, 26/08/2020).

Kebakaran yang terjadi di Kejagung bisa saja terulang. Mengingat kebakaran ini bukan kali pertama terjadi. Pada Januari 1979, kebakaran pernah menghanguskan mayoritas sayap kanan gedung. Selain itu pada November 2003, dua kebakaran beruntun terjadi di kontrol panel listrik lantai dua dan lantai tiga gedung ini. Selain itu kekhawatiran bertambah besar karena banyak gedung-gedung milik negara sudah berusia di atas 30 tahun. Padahal kebakaran yang terjadi di gedung milik pemerintah bisa menimbulkan dampak yang besar, bukan hanya sekedar kerugian materi tapi bisa jadi hilangnya dokumen-dokumen penting milik negara. Sebenarnya bukan hanya kebakaran yang menjadi ancaman, bisa juga berasal dari berbagai kondisi lain contoh saja gempa bumi yang selama ini sering berdampak buruk bagi konstruksi-konstruksi yang ada. Sehingga ikhtiar terbaik harus diupayakan untuk merancang dan menciptakan konstruksi-konstruksi aman.

Konstruksi Bangunan Aman di Sistem Islam

Islam adalah agama yang memberikan rahmat  bagi seluruh alam semesta dan seisinya. Aturan islam adalah penyelesai setiap permasalahan manusia yang datangnya dari Allah SWT yang Maha mengetahui. Dalam pandangan islam, merancang dan membangun suatu bangunan haruslah  memberikan manfaat bagi lingkungan atau kawasan dimana bangunan itu didirikan apalagi jika bangunan yang didirikan adalah bangunan umum atau milik pemerintah. Jangan sampai demi keuntungan atau penyebab lain maka aspek keselamatan dan keamanan diabaikan. Dalam Islam, Konstruksi tidak hanya mengedepan keindahan tetapi bangunan yang didirikan juga harus memperhatikan aspek kesehatan, kenyamanan dan keselamatan jiwa masyarakat. Semua itu berlangsung di atas kaidah-kaidah syariat. Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan agar terwujud struktur bangunan yang aman utamanya pada bangunan-bangunan publik  :

1. Harus adanya ketaqwaan dan kesadaran dari pihak-pihak terkait tentang apa yang sebenarnya dikejar. Ketaqwaan inilah yang mengkondisikan pihak terkait tidak menghalalkan segala cara demi keuntungan. Sehingga merencanakan dan membuat kontruksi pertanggung jawabannya bukan hanya pada manusia. Untuk membentuk pribadi yang demikian dibutuhkan sistem pendidikan dan media yang senantiasa mengkondisikan munculnya insan bertaqwa.

2. Alokasi dana yang memang layak bukan hanya sekedar dengan prinsip "asal terbangun, rusak diperbaiki lagi". Dalam perkara ini maka dibutuhkan sistem ekonomi tangguh yang bukan hanya bersumber dari utang dan pajak. 

3. SDM, Teknik dan Teknologi berkualitas, yang juga tidak pernah bisa dipisahkan dari sistem politik yang memunculkan kebijakan yang mewujudkan meratanya pendidikan dengan kualitas terbaik. Dan juga sistem ekonomi yang tangguh untuk membiayai semua.

4. Adanya kontrol dari negara dari sisi keamanan bangunan. Selain memang harus ada pihak terkait yang senantiasa mengontrol proses pembangunan dan perencanaan. Maka sistem islam juga memiliki peradilan untuk menyelesaikan pelanggaran yang bisa membahayakan hak masyarakat [jamaah] yaitu Qâdhî Muhtasib. Qodhi ini bertugas untuk mengkaji semua masalah yang terkait dengan hak umum, tanpa adanya penuntut. Semisal kondisi bangunan-bangunan publik yang ada di negara Islam.

5. Jika upaya terbaik untuk menciptakan konstruksi aman sudah dilakukan, namun musibah tetap terjadi maka negara punya tanggung jawab penuh untuk melakukan tindakan cepat dan tepat demi kemaslahatan  masyarakat.

Tercatat dalam sejarah peradaban Islam, penyelenggaraan kemaslahatan publik Khilafah benar-benar mencapai puncak kebaikan. Semisal Sinan (1489-1588) adalah seorang arsitek utama kekhilafahan Ottoman. Dia merancang dan membangun 477 bangunan. Karyanya termasuk Masjid Selimiye di Edirne, yang memiliki menara paling tinggi dan paling tahan gempa di seluruh Turki.

Wallahu a'lam bishshowab.

Baca Juga