Opini

Membaca Membangun Peradaban

AKURATNEWS - UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia (World Book Day). Awalnya, penetapan Hari Buku Sedunia bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada para pengarang dunia yang telah berkontribusi dalam memberikan sumbangsih pemikirannya guna kemajuan sosial dan kultural umat manusia.

Pula, UNESCO berniat mengajak dan mendorong generasi muda untuk menemukan kegembiraan dan manfaat lewat membaca buku. Mengingat membaca dan menulis itu dwitunggal aktivitas edukatif pembangun peradaban. Sebagaimana diungkap TS Elliot; penyair Inggris (1888 – 1965), ‘Sulit membangun peradaban, tanpa membangun budaya baca dan tulis’.

Jauh sebelum UNESCO menyelenggarakan Konferensi Umum di Paris (1995) guna menetapkan Hari Buku Sedunia; di bumi pertiwi Indonesia, terkait agenda pengajaran nasional sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, Ki Hadjar Dewantara melalui pidatonya di rapat umum Taman Siswa (1930) telah menyerukan pentingnya filosofi ‘neng, ning, nung, nang’; yang dalam bahasa Jawa yang berarti ‘meneng, wening, hanung, menang’.

Bahwa di dalam keheningan (meneng) akan dijumpai kejernihan (wening) yang nantinya bakal menguatkan (hanung) dan memenangkan (menang). Oleh karenanya, agar aktivitas membaca berlangsung efektif, dibutuhkan suasana pikir dan batin yang ‘neng, ning, nung, nang’.

Sebagai aktivitas edukatif, membaca acap dilakukan di jalur yang sunyi dan senyap, serta menyerap begitu banyak energi. Dibutuhkan daya konsentrasi dan ketelitian ekstra guna dapat memahami struktur kata dan kalimat, menemukan kerunutan dan keterhubungan antar kalimat dalam alinea, serta memahami dan menginterpretasi isi bacaan dengan baik dan benar.

Manfaat baca tulis

Pengalaman keseharian telah membuktikan bahwa orang-orang yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang mau dan mampu untuk belajar secara mandiri, dan mempraktikkan apa yang telah dipelajarinya secara terus menerus dan konsisten sampai membentuk dan menjadi sikap dan karakter nyata dalam hidup keseharian.

Leonhardt (1997) mengulas bahwa untuk melahirkan minat dan menumbuhkan kegemaran baca dan tulis semestinya dimulai sejak usia dini. Mengingat bahwa melalui aktivitas baca tulis akan melahirkan rasa kasih sayang, menumbuhkembangkan rasa kebahasaan yang lebih tinggi, serta meluaskan wawasan dan perspektif pada diri anak.

Lebih lanjut, Pennebaker dalam bukunya berjudul ‘Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions’ mengungkapkan hasil penelitiannya tentang manfaat lain dari aktivitas menulis, yakni mampu menjernihkan pikiran, mengatasi trauma, membantu mendapat dan mengingat informasi baru, serta membantu memecahkan masalah (Pennebaker dalam Hernowo, 2004).

Hanya saja, kepekaan dan keterampilan dalam membaca dan menulis tidaklah secara otomatis dimiliki oleh seseorang. Dibutuhkan proses waktu yang relatif panjang dan banyak faktor yang perlu dilibatkan guna menumbuhkembangkan kebiasaan, kegemaran, dan keterampilan baca tulis dalam diri seseorang.

Mirip upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana cita-cita kolektif, yang senyatanya merupakan perjalanan yang panjang, terjal dan berliku; diwarnai dengan ragam hambatan dan tantangan. Namun demikian, proklamator bangsa dengan gagah menyerukan, “Jika kita tidak mau menjadi bangsa kuli atau menjadi kuli di antara bangsa-bangsa, maka kita haruslah menjadi bangsa yang terdidik”.

Tantangan menyongsong Indonesia Emas 2045, jumlah anak-anak bangsa yang masih buta aksara tidaklah sedikit. Masih sekitar 4 % penduduk Indonesia yang buta huruf. Artinya, jika jumlah penduduk Indonesia sejumlah 271 juta, maka sekitar 10,8 juta diantaranya masih buta huruf (Kemendikbud, 2020).

Perayaan dan pemaknaan atas Hari Buku Sedunia menjadi momentum yang tepat bagi anak-anak bangsa untuk kembali menyalakan pijar spirit dalam berliterasi. Melalui aktivitas baca tulis nantinya akan dihasilkan sumber daya manusia yang merdeka; tangguh (hanung), unggul (menang) dan beradab.

Saatnya aktivitas baca tulis usah dipandang sebagai beban, melainkan sebagai gaya hidup. Menjadi kebiasaan dan kegemaran yang dilakukan dengan riang dan gembira. Selamat membaca, selamat membangun peradaban. Selamat Hari Buku Sedunia.***

Oleh: Thio Hok Lay, S. Si
Teaching Learning Curriculum Department, Yayasan Citra Berkat, Jakarta

Baca Juga