Pelabuhan Belawan Dulu dan Kini

Medan, Akuratnews.com - Pelabuhan Belawan adalah pelabuhan yang terletak di Kota Medan Provinsi Sumatera Utara dan merupakan pelabuhan terpenting di pulau Sumatera.

Pelabuhan Belawan adalah sebuah pelabuhan dengan tingkat kelas utama dengan Koordinat geografisnya adalah 03°47′N 98°42′E / 3.783°N 98.700°E (03º 47’ 00” LU dan 98” 42” BT). Pelabuhan ini berjarak sekitar 24 km dari pusat kota Medan.

Cikal bakal lahirnya Pelabuhan Belawan adalah Labuhan Deli yang dulunya merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Deli yang kesohor di kawasan Sumatera Timur. Bandar Labuhan Deli terletak di tepi Sungai Deli.

Frasa ‘Bandar’ sendiri merupakan sebutan dari masyarakat suku Melayu Deli yang artinya labuhan atau pelabuhan. Karena masa itu yang berkuasa adalah pemerintah Kerajaan Deli, maka pelabuhan tersebut dinamai Labuhan Deli atau Bandar Deli.

Pelabuhan Labuhan Deli awalnya dibangun pada tahun 1890, untuk menyediakan lokasi di mana tembakau dapat ditransfer secara langsung antara jalur kereta api dari interior dan mendalam-draft kapal.

Pelabuhan diperluas pada tahun 1907 dengan pembangunan bagian-bagian baru yang dimaksudkan untuk pedagang Cina dan pedagang pribumi, menyediakan pelabuhan yang ada untuk pengiriman orang-orang Eropa.

Pada tahun 1915, Pelabuhan Labuhan Deli dipindahkan ke Belawan yang terletak di tepi Sungai Belawan. Hal ini disebabkan Sungai Deli kian dangkal, sehingga menghambat kapal masuk alur Sungai Deli menuju Labuhan Deli.

Belanda membangun dermaga Belawan lama hingga mencapai panjang 602 meter dan lebar 9-20 meter. Oleh Belanda, dermaga Belawan lama dipergunakan untuk sandar berbagai jenis kapal, baik kapal kargo maupun kapal penumpang.

Pada awal abad kedua puluh bisnis pelabuhan berkembang maju, dengan pertumbuhan karet yang besar dan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara. Pada 1920-an beberapa fasilitas pelabuhan utama dibangun.

Pada tahun 1938, dalam perkembangannya, Pelabuhan Belawan menjadi pelabuhan terbesar di wilayah Hindia Belanda, dalam hal nilai kargo. Volume kargo menurun drastis setelah kemerdekaan Indonesia, dan tidak mencapai tingkat pra-kemerdekaan lagi sampai pertengahan 1960-an.

Selain menjadi salah satu pusat niaga, Bandar Labuhan Deli kemudian dijadikan sebagai salah satu sentra penelitian para pemuka dan peneliti. Sebut saja, John Anderson seorang utusan Gubernur Penang WE Philips yang datang ke Labuhan Deli pada tahun 1823 dalam rangkaian survei politik ekonominya hingga ke pantai timur Sumatera untuk kepentingan Pemerintahan Kerajaan Inggris saat itu.

Karena aktivitas Pelabuhan Belawan semakin meningkat, pada awal tahun 1980, pemerintah mulai menyusun rencana pembangunan terminal peti kemas di Gabion, Belawan. Pembangunan tersebut didanai oleh Bank Dunia. Hasilnya, terminal peti kemas Belawan mulai beroperasi pada tanggal 10 Februari 1985.

Awal tahun 2013, Pelabuhan Belawan mampu melayani arus bongkar muat peti kemas hingga 1,2 juta twenty-foot equivalent units (TEUs) per tahun dan akan meningkat secara bertahap hingga mencapai 2 juta TEUs per tahun.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan lalu menata dan menjadikannya sebagai pelabuhan barang domestik. Sementara internasional akan dikhususkan ke Pelabuhan Kuala Tanjung. Kuala Tanjung dipilih sebagai pelabuhan hubungan internasional karena didukung dengan fasilitas. Di antaranya sisi dermaga yang dalam, sehingga bisa ditambat oleh kapal besar.

Kemudian dari pelabuhan tersebut berpindah tak jauh dari pelabuhan Belawan lama. Tidak hanya pindah alamat namun namanya juga diganti menjadi Ujung Baru. Pelabuhan Ujung Baru ini sudah ada kurang lebih semenjak tahun 1970-an. Ternyata pelabuhan Ujung Baru juga mengalami pindah tempat dan pertukaran nama pelabuhan.

Pelabuhan setelah Ujung Baru, yaitu Pelabuhan Terminal Penumpang Bandar Deli. Terminal tersebut pindah tempat ke tempat pelabuhan Belawan Lama kembali. Pada 9 November 2015, Pelabuhan Terminal Penumpang Bandar Deli mulai beroperasional.

Pelabuhan tersebut beroperasional setiap hari, selama 24 jam. Namun, untuk pelayanan kapal penumpang seminggu sekali pada hari normal. Apabila memasuki hari libur dan hari kebesaran religi, maka pelabuhan Deli buka selama 24 jam karena ramainya pengunjung atau penumpang kapal.

Adapun fasilitas bagi penumpang di pelabuhan Terminal Penumpang Bandar Deli, tersedia tempat Check In Counter. Tempat ini merupakan tempat chek in tiket yang sudah dibeli penumpang secara online atau dari Travel penyedia tiket.

Bagi penumpang setelah cek in tiket, penumpang dapat menunggu keberangkatan kapal atau datangnya kapal di Waiting Room. Tempat Waiting Room ini dilengkapi dengan Air Conditioner (AC) serta kursi dari besi untuk tempat duduk.

Tidak hanya itu, di Waiting Room juga tersedia tempat Smooking Area (tempat area merokok), jadi bagi para perokok asapnya tidak mengganggu penumpang lainnya yang sedang menunggu waktu keberangkatan.

Waiting Room di Pelabuhan ini tersedia dua tempat. Pertama di sebelah kiri dari tempat check in counter terdapat Waiting Room untuk kelas 1 dan 2. Sementara, di waiting room sebelah kanan dari tempat check in tiket, terdapat waiting room buat penumpang kelas Ekonomi.

Ternyata bukan hanya Waiting Room saja, pelabuhan tersebut juga menyediakan Kantor Kesehatan Pelabuhan (Port Health Office). Kantor ini dipergunakan untuk pelayanan penumpang yang mengalami sakit. Kemudian di Terminal Penumpang Bandar Deli juga ada disediakan tempat untuk bermain anak balita.

Pelabuhan Terminal Penumpang Bandar Deli juga sudah dilengkapi dengan tangga barata yang bentuknya seperti leher angsa. Tangga ini berguna sebagai akses penumpang menuju kapal yang akan berangkat. Biasanya tangga Barata ini ada di sebuah pesawat atau bandara, tetapi tangga barata ini sudah ada tahun 2016 di Pelabuhan ini.

Terminal peti kemas Pelabuhan Belawan pun dibangun untuk mendukung alih fungsinya sebagai pelabuhan bongkar muat. Berdasarkan data 2017, total arus bongkar muat barang mencapai 25,2 juta TEUs. Luas terminal peti kemas yang sudah ada, yaitu 127.518 meter persegi dengan panjang dermaga 550 meter, dan terus diperluas menjadi 157.700 meter persegi dengan panjang dermaga 350 meter dan selanjutnya menjadi luas 160.000 meter dengan panjang dermaga 350 meter.

Dengan fasilitas yang tersedia di pelabuhan itu, diharap laju bongkar muat barang terus lancar untuk mendorong percepatan distribusi barang demi kemajuan ekonomi masyarakat di daerah itu juga merambah ke daerah lainnya di Nusantara. Setidaknya semangat tol laut untuk mengkoneksikan komunikasi antar pulau oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo saat ini bisa terus terjadi demi kemakmuran rakyat yang berkeadilan.

Penulis:

Baca Juga