Rokhmin Dahuri Ajak Anak Muda Manfaatkan Transformasi Teknologi Informasi

Perkembangan teknologi informasi yang ditandai dengan revolusi industri 4.0 sangat penting bagi dunia usaha.

Jakarta, Akuratnews.com - Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Prof. Rokhmin Dahuri begitu sangat concern pada pembangunan SDM sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Jokowi di periode lima tahun ke depan.

Karena itu, saat didaulat menjadi pembicara dalam seminar nasional “Perubahan Paradigma Dunia Usaha Berbasis Transformasi Digital”, Rokhmin Dahuri menjelaskan arti pentingnya pemanfaatan transformasi teknologi informasi bagi kaum muda intelektual.

Rokhmin Dahuri yang juga guru besar IPB ini juga menyinggung soal cita-cita kemerdekaan RI yang berlandaskan asas adil dan makmur.

"Seluruh rakyat Indonesia, termasuk Civitas Academica dan segenap alumni perguruan tinggi, sangat mendambakan segera terwujudnya kehidupan berbangsa dan bernegara yang maju, adil-makmur, dan berdaulat sesuai dengan cita-cita Kemerdekaan NKRI,” ujar Rokhmin Dahuri di kampus IPB, Bogor, Jawa Barat, Selasa (15/10)2019).

Untuk mengembangkan sektor produksi dan ekonomi real untuk menciptakan lapangan kerja, Rokhmin Dahuri menegaskan pentingnya pemanfaatan transformasi teknologi informasi yang kini ditandai dengan munculnya revolusi industri 4.0.

Guru besar Mokpo National University Korea Selatan itu, tak menampik, hingga kini Indonesia masih sebagai negara berpendapatan menengah bawah (lower — middle income country), dengan pendapatan nasional kotor atau Gross National Income (GNI) sebesar 3.870 dolar AS per kapita berdasarkan data Kemenko Perekonomian tahun 2019) belum menjadi negara makmur (high-income country), dengan pendapatan nasional kotor diatas 12.165 dolar AS per kapita (Bank Dunia, 2018).

"Selain itu, berdasarkan pada kapasitas IPTEK, kita bangsa Indonesia pun belum berstatus sebagai negara maju. Karena, kapasitas IPTEK bangsa Indonesia sampai sekarang masih berada di kelas tiga. Artinya, lebih dari 75 persen kebutuhan IPTEK nasional berasal dari impor. Sedangkan, negara maju adalah mereka yang kapasitas IPTEK nya mencapai kelas satu yaitu lebih dari 75 persen kebutuhan IPTEK nya dihasilkan oleh bangsanya sendiri,” ungkapnya.

Selain soal IPTEK, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu menyebut sektor primer seperti pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan, dan pertambangan sebagian besar dikerjakan secara tradisional belum secara optimal dikembangkan menjadi industri berskala nasional.

"Sektor sekunder misalnya manufacturing, processing dan packaging itu produktivitasnya juga masih rendah, sementara akses UMKM terhadap lahan usaha permodalan sarana produksi juga minim,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Rokhmin mengajak insan perguruan tinggi mengasah jiwa kewirausahaan (entreprenuership), yaitu suatu kemampuan untuk merubah sesuatu yang tidak atau kurang ada gunanya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, bernilai tambah, dan bernilai ekonomi.

“Dalam bahasanya Pak Ciputra, seorang entrepreneur adalah yang mampu mengubah sampah menjadi berkah. “An entrepreneur is someone who spots an opportunity and acts to make it into a commercial success” ujarnya.

Ciri-ciri utama seorang entrepreneur adalah kreatif, inovatif, bisa membaca dan menciptakan peluang, berani ambil resiko (risk taker) yang terukur (calculated risks), pantang menyerah, disiplin, tekun, berorientasi pada hasil (result-oriented), dan sabar.

“Seluruh alumni muda jadilah entrepreneur (pengusaha-red). PTN di Indonesia harus bersatu menjawab berbagai problematika diatas,” tandasnya.

Penulis: Ahyar
Editor:Alamsyah
Photographer:Istimewa

Baca Juga