oleh

Rupiah Menguat, Bertahan Di Kisaran Rp. 14200

Jakarta, Akuratnews.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menguat di perdagangan pasar spot hari Senin (03/12). Dolar AS bertahan di kisaran Rp 14.200 dengan diperdagangkan pada Rp 14.210. Rupiah menguat 0,63% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Rupiah menunjukkan performa yang impresif mengawali bulan Desember. Pada pembukaan perdagangan rupiah membukukan penguatan sebesar 0,35% ke level Rp 14.250. Sayangnya penguatan ini menjadi terbatasi disesi kedua perdagangan.

Sejumlah sentiment mewarnai penguatan Dolar hari ini. Indek Dolar AS masih menguat dalam perdagangan di akhir pekan lalu. Hal ini membatasi penguatan Rupiah yang didorong oleh sentiment positif dari dalam negeri.

Disisi lain, kenaikan harga minyak mentah menjadi penahan laju kenaikan Mata Uang Garuda lebih lanjut. Diketahui bahwa harga minyak melonjak tajam, melanjutkan pemulihan yang sudah terjadi sejak pekan lalu. Dimana harga minyak jenis Brent meroket 4,66% sementara Minyak WTI melesat 5,1%. Dimana pada pekan lalu, harga brent turun tipis 0,15% dan WTI naik 1,01%.

Harga Emas Hitam ini melesat setelah AS-China sepakat untuk melakukan gencatan dalam perang dagang, setidaknya untuk 90 hari ke depan. Dalam pembicaraan di sela-sela KTT G20 akhir pekan lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping setuju untuk berdamai.

AS tidak akan menaikkan tarif bea masuk dari 10% menjadi 25% untuk importasi produk-produk made in China sebesar US$ 200 miliar yang seyogianya dilakukan pada 1 Januari 2019. Sedangkan China sepakat untuk mengimpor lebih banyak dari AS, mulai dari produk pertanian, energi, sampai manufaktur.

Perkembangan ini tentu sangat melegakan pasar. Sebab bukan tidak mungkin Washington dan Beijing akan berdamai selamanya jika dalam 90 hari tercapai kesepahaman yang lebih signifikan. Apabila ini terjadi, maka perang dagang AS vs China resmi berakhir. Arus perdagangan dan pertumbuhan ekonomi global pun siap melesat, karena dua kekuatan terbesar di planet bumi sudah tidak lagi saling hambat.

Dengan demikian, prospek pertumbuhan ekonomi global yang semula suram bisa cerah kembali. Saat ekonomi menggeliat, maka permintaan energi juga akan meningkat. Hasilnya adalah harga minyak bergerak naik.  Ditambah lagi kemungkinan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan kembali memangkas produksi pada 2019 dengan tujuan mengatrol harga. Permintaan yang meningkat plus berkurangnya pasokan berarti harga akan melonjak, dan itu yang terjadi hari ini.

Komentar

News Feed