Terinspirasi Profesor AS, Siswi SMA Ini Adaptasi Teknologi Kurangi Penyebaran Covid-19

AKURATNEWS - Sistem Pembelajaran Tatap Muka (PTM) bagi siswa sekolah sudah dimulai pasca Covid-19 melandai. Oleh karenanya, institusi pendidikan di Indonesia sangat memerlukan tindakan-tindakan preventif untuk mengurangi penularan Covid-19 lagi di lingkungan sekolah.

Hal inilah yang melatarbelakangi Ashley Halim, seorang siswi SMA ACS Jakarta merancang alat filtrasi udara KlinAir. Ia mengaku prihatin terhadap resiko penularan Covid-19 di sekolah-sekolah.

“Saya merancang alat ini agar bisa membantu anak-anak agar bisa meneruskan kegiatan tatap muka di sekolah dengan aman. Alat ini diharapkan bisa membuat lingkungan belajar yang lebih sehat karena ada ventilasi udara yang baik dan penggunaan sistem filtrasi udara yang tepat,” ujar Ashley Halim saat penyerahan donasi Klinair di SD-SMP-SMA Katolik Nusa Melati, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (5/8).

Ashley menyadari, masih banyak ruang sekolah yang berventilasi kurang baik, namun di satu sisi alat filtrasi udara komersil masih cukup mahal harganya. Atas alasan itulah, Ashley merancang filter udara CR Box (Corsi-Rosenthal Box) yang menggunakan standar yang cukup bagus tapi dengan biaya terjangkau.

Ide ini didapatnya dari Dr. Richard Corsi yang merupakan dekan fakultas teknik di University of California Davis (AS). Dr. Richard Corsi dan rekannya Jim Rosenthal, merupakan pakar kualitas udara indoor yang menemukan cara sederhana dalam membersihkan udara di dalam ruangan. Dengan mengadaptasikan teknologi CR-Box tersebut, Ashley merancang sendiri alat pembersih udara yang diberi nama Klinair.

KlinAir ini sendiri terdiri dari empat buah filter kertas Merv-13 yang di gabungkan dengan sebuah kipas angin kotak. Cara kerja dari alat ini adalah menarik udara dari dalam ruangan dan menyaringnya melalui filter Merv-13 tersebut, lalu kipas akan melepaskan udara yg lebih bersih.

Teknologi ini sangat efektif menyaring partikel udara yang mengandung virus SARS-Cov 2 yang menyebabkan Covid-19. Alat ini juga telah dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh universitas-universitas terkemuka di Amerika Serikat (AS).

Ashley juga telah melakukan penelitiannya sendiri dengan menggunakan alat KlinAir buatannya dengan menggunakan alat penghitung partikel di udara dan hasilnya tidak kalah dari beberapa merk air purifier terkemuka yang ada di pasaran.

Keunggulan Klinair ini dikatakan Ashley yang bercita-cita mengambil jurusan teknik lingkungan ini, dari segi biaya yang relatif lebih murah dan cara membuatnya yang sederhana sehingga bisa diimplementasi dengan luas.

Dan sebagai bentuk kepeduliannya, Ashley menyerahkan 10 unit KlinAir kepada SD-SMP-SMA Katolik Nusa Melati dengan disaksikan perwakilan SMA ACS Jakarta, PT. Deltomed Laboratories sebagai salah satu sponsor dan beberapa siswa/siswi sekolah Nusa Melati.

Selain serah terima alat Ashley juga memberikan edukasi secara langsung dan mengajarkan cara membuat alat ini sehingga banyak yang dapat mengimplementasikannya ke depan.

Soal hak paten alat ini, sang ayah, Halim menyebut, pihaknya tidak berwenang mematenkan alat ini lantaran sang penciptanya di AS memang sengaja tidak mematenkannya.

"Kita nggak berhak, hanya memperbanyak. Karena keinginan mereka supaya orang bisa pakai banyak sekolah-sekolah. Dan rencananya akan ada beberapa sekolah lagi yang akan kita berikan donasi," ujar Halim yang mendampingi sang anak.

Kegiatan ini sendiri turut disponsori PT. Deltomed Laboratories, Yayasan Kinar Pustaka, PT. Multicrane Perkasa, Pearson Education Indonesia, PT. Intan Pertiwi Industri, PT. Star Cosmos Indonesia, AutoPitStop Car Service dan Rotiboy yang punya niatan berkontribusi memberikan perlindungan lebih untuk siswa, guru dan tenaga kependidikan saat proses belajar mengajar.

Penulis: Rianz
Photographer: Redaksi

Baca Juga