UIN Alauddin dan KA-FoSSEI Bahas Ekonomi Syariah sebagai Solusi Perang Dagang

Makassar, Akuratnews.com - Majelis Pimpinan Pusat Korps Alumni Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam (MPP KA-FoSSEI) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perbankan Syariah, Fakultas Ekononi dan Bisnis Syariah (FEBI), Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, menyelenggarakan Dialog Interaktif “Ekonomi Islam sebagai Solusi Ketidakpastian Ekonomi Global”, di Aula Rektorat UIN Alauddin, Makassar, Selasa (29/10/2019).

Dalam membuka acara tersebut, ketua jurusan Perbankan Syariah Ismawati, menerangkan bahwa kegiatan ini sebagai respon terhadap isu-isu global, terutama tentang ketidakpastian ekonomi nasional, dan apa solusi yang ditawarkan oleh ekonomi Islam.

“Kegiatan ini menghadirkan narasumber yang cukup kompeten dibidang ekonomi Syariah secara praktis dan teoritis. Ia merupakan alumni dan pernah menjadi dosen di UIN Alauddin, hal ini diharapkan juga dapat menginspirasi kepada almamaternya. Dengan itu, momen ini harus dimanfaatkan oleh mahasiwa untuk menimba pengetahuan dan pengalaman terkait dengan ekonomi syariah,” himbau Ismawati.

Hadir sebagai pembicara utama nasional adalah Ketua MPP KA-FoSSEI Mega Oktaviany. Dalam pemaparannya, Mega menjelaskan bahwa kondisi perekonomian dan keuangan global saat ini sedang berada dalam ketidakpastian. Hal ini memberi dampak signifikan terhadap perekonomian dalam negeri.

“Perang dagang antara Amerika Serikat dengan China tidak kunjung selesai. Hal ini menimbulkan kekacauan keuangan dan perekonomian di berbagai negara-negara di dunia, seperti Jepang, Korea Selatan, India, Brazil, dan beberapa negara di Eropa, termasuk di Indonesia,” terang dosen Ekonomi Islam Universitas Gunadarma ini.

Selain itu, kata Mega, mengelola perekonomian Indonesia tahun ini cukup sulit dan pertumbuhan masih stagnan hanya di 5%. Kinerja 2018-2019 masih alami defisit transaksi berjalan. Untungnya konsumsi domestik masih terjaga baik, sehingga mampu menopang pertumbuhan ekonomi 5 persen tersebut.

“Secara fundamental, penyebab utama terjadinya pelemaha ini, selain faktor eksternal juga faktor internal, yaitu satu sisi pengelolaan ekonomi yang tidak efisien, BUMN yang mengalami banyak devisit dan kerugian, sementara di sisi lain kebutuhan dan pembangunan semakin meningkat dan ditambah utang luar negeri yang melampaui rasional anggaran belanja,” jelas peneliti muda yang saat ini sedang menyelesaikan doktor di Malaysia ini.

Dengan kondisi ekonomi yang memburuk itulah, lanjutnya, diperkukan kehadiran ekonomi Islam baik secara praktis maupun teoritis sebagai solusi terbaik untuk mengahirinya. Karena konsep ekonomi Islam telah terbukti efektif dalam menjawab segala persoalan perekonomian. Hal ini dapat dilihat bagaimana kokohnya bank-bank syariah ketikah menghadapi krisis keuangan 1998, krisis finansial tahun 2008, dan krisis utang tahun 2013 dan 2018 lalu.

“Negara-negara di Asia seperti Brunei, Singapura, dan Malaysia, yang sedikit banyak menerapkan konsep pengelolaan keuangan syariah, tidak berpengaruh dalam krisis yang terjadi tahun 2013 dan 2018. Hal ini membuktikan bahwa konsep ekonomi Rabbani itu bukanlah semata teoritis, tetapi merupakan solusi nyata yang mujarab,” tegasnya.

Untuk itu, Mega berharap, dengan fakta-fakta tersebut dapat menjadi energi yang terus memopa semangat para insan akademis, aktivis dan pegiat ekonomi syariah untuk tetap konsisten dan bergerak maju, memberi pencerahan dan penyadaran tentang pentingnya ekonomi syariah diterapkan.

Sejalan dengan Mega, Ketua HMJ Perbankan Syariah, Fakhri Mahendra Sulaeman, memberi komentar bahwa ekonomi Islam dapat menjadi solusi atau alternatif untuk bisa bertahan dari ancaman Resesi Ekonomi 2020. Karna ekonomi Islam menurutnya lebih menekankan pada penguatan sektor riil dan sektor pasar domestik yang berimbang antara produksi dan konsumsi domestik.

Kegiatan ini dirangkaikan dengan tandatangan kerjasama (MoU) dalam peningkatan SDM dan pengabdian masyarakat untuk bidang ekonomi, keuangan dan perbankan syariah, antara MPP KA-FoSSEI dan UIN Alauddin Makassar.

Penulis: Redaksi
Editor:Redaksi

Baca Juga